Catatan Ceramah Takjil #1

Ceramah Takjil pada hari pertama ramadan ini disampaikan oleh H. Haedar Waluyo, S. Ag membahas tentang masalah akidah yang merupakan persoalan mendasar untuk keimanan kita sebagai seorang muslim.

Courtesy : http://jurnalkeluarga.com

Manusia lahir ke bumi membawa dua fitrah, fitrah yang pertama yakni mengenali Allah sebagai Tuhan. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 172 yang artinya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Dalam ayat tersebut, terdapat persaksian manusia bahwa hanya Allah yang pantas untuk disembah. Apabila ada orang yang menyebut diri mereka sebagai ateis maka mereka membohongi diri mereka sendiri. Fitrah yang kedua yaitu beragama Islam. Allah berfirman dan QS. Ar- Rum ayat 30 yang artinya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Fitrah manusia untuk memeluk Islam sebagai agama yang benar juga tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu, setiap orang tua harus memberikan pemahaman akidah yang kokoh untuk anaknya sehingga ia beragama Islam hingga akhir hidupnya. Kisah Firaun merupakan pembuktian bahwa fitrah manusia sejak lahir yaitu beragama Islam. Allah berfirman dalam QS. Yunus ayat 90 dan 91yang artinya:

Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri).”

Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.

Disusun oleh :
Nana Yuliana

Gerhana Mematahkan Konsep Atheisme

Peristiwa gerhana yang sudah diprediksikan secara ilmiah akan terjadi pada malam hari ini,  Rabu, 31 Januari 2018 mulai pukul 18:48 WIB dan menjadi gerhana total pada pukul 19:52. Sesuai dengan syariat islam, yang disampaikan _Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam_

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ}
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)

Gerhana yang _in syaa Allah_ akan kita saksikan adalah gerhana supermoon. Astronom Observatorium Boscha, Mohammad Irfan mengatakan bahwa fenomena supermoon nanti bulan kemungkinan akan berwarna merah kegelapan karena bulan berada berdekatan dengan pusat kerucut bayang umbra. Dapat kita buktikan bersama benda langit yang mengharmoni menjadi peristiwa gerhana supermoon ini tidak bukan adalah kekuasaan Yang Maha Menciptakan, Allah _Subhanahu wata’ala_

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kaliann sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Peristiwa ini membantah bahwa gerhana dan semua benda – benda langit terjadi sendiri, automatis dan tidak ada yang menciptakannya. Tidak ada manusia, hewan, tumbuhan, atau benda langit lain (alien sekalipun) terkonfirmasi dan terbukti ilmiah dapat membuat gerhana. *Ini menunjukkan Tuhan itu ada.*

Allah Azza wa Jalla menciptakan adanya peristiwa gerhana adalah  menjadikannya sebagai perimgatan agar hamba-hamba-Nya takut kepada-Nya. Maka tatkala terjadi gerhana hendaklah umat manusia segera ingat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan segera menyadari bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala sedang mengingatkan kelalaian mereka dengan ancaman adzab-Nya. Dari sini, jelaslah bagi kita kesalahan kebanyakan kebanyakan orang yang justru menjadikan fenomena gerhana tersebut sebagai hiburan bagi mereka. Ketika ada informasi bahwa gerhana akan terjadi pada hari tertentu pada jam tertentu, maka mereka bersiap dengan kamera dan teropong masing-masing, mencari tempat-tempat strategis untuk menyaksikan peristiwa ”indah” tersebut. Sungguh sangat jauh dari mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala, apalagi menyadari itu sebagai peringatan dari-Nya. Kesalahan ini akibatmenganggap gerhana sebagai kejadian antariksa biasa, yang bersumber dari sikap mengandalkan sains, tanpa mau mengundahkan berita dari Allah Subhanahu wa ta’ala, Pencipta dan Penguasa seluruh  alam dengan segenap galaksi dan langit yang ada didalamnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Ini bantahan terhadap ahli astronomi yang mengira bahwa gerhana merupakan peristiwa biasa, tidak akan maju atau mundur.”

Islam memberantas segala keyakinan/ aqidah batil, diantaranya yang bersumber dari astrologi (ahli nujum) yang meyakini bahwa pergerakan/ peredaran bintang, planet dan benda-benda langit lainnya memberikan pengaruh/ ada kaitannya dengan kejadian-kejadian di bumi. Yang dikenal sebagai zodiak, shio, atau nama yang lainnya sesuai dengan agama asal masing-masing yang digagas oleh para filosof, rohaniawan atau paranormal. Termasuk kejadian gerhana yang diyakini sebagai tanda atau sebab (bakal) terjadi peristiwa atau bencana besar di muka bumi. Ini semua adalah batil. Seorang mikmin yang berpegang pada kemurnian tauhid harus meninggalkan keyakinan-keyakinan tersebut. Sangat disayangkan, ada sebagian di antara kaum muslimin yang masih percaya dengan ramalan-ramalan bintang, termasuk pula mitos/ legenda seputar gerhana, atau meyakini peristiwa gerhana ada hubungan dengan bencana alam atau lainnya. Al-Imam al-Khaththabi Rahimahullah berkata, ”Dulu mereka pada masa jahiliyyah berkeyakinan bahwa gerhana menyebabkan terjadinya perubahan di muka bumi, berupa kematian, bencana dan lain-lain. Maka Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan bahwa itu adalah keyakinan batil. Sungguh matahari dan bulan itu adalah dua makhluk yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Keduanya tidak memiliki kekuatan mempengaruhi sesuatu yang lainnya, tidak pula memiliki kemampuan membela diri.” ( lihat Fathul Bari hadits no. 1040)

Adapun mitos seperti : Makanan Terpapar Racun; Bulan Dimakan Buto (Makhluk Raksasa), serigala, naga; Orang hamil tidak boleh keluar rumah, penyebab bibir sumbing; itu semua adalah kebohongan dari syetan, yang berupa jin atau manusia. Syetan suka sekali membuat orang jauh dari akidah tauhid yang benar.

Saat gerhana bulan atau matahari, *kita diperintahkan untuk berlindung dengan dzikir dan memperbanyak istighfar*. Mari kita siapkan, untuk hari ini, malam ini, berapa banyak istighfar yang mampu kita lafalkan? malulah kalau istighfar kita kurang dari 100 kali. Nabi Muhammad, teladan kita, junjungan kita, yang rindu kepada umatnya, yang dapat memberi kita syafaat, saat kondisi sehari – hari, *tidak kurang dari 100 kali beristighfar*.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(( يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِيْ اليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ )) رواه مسلم.
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).

Ini peristiwa gerhana teman-teman. Tidakkah kita melihat bagaimana _Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam_ takut ketika terjadi gerhana matahari? Bayangkan rekan-rekan, jika saat gerhana matahari bukan sekedar gerhana biasa, di mana Allah mencabut gelapan di muka bumi ini lalu *tiba – tiba matahari terbit dari arah barat, dan sudah tidak ada lagi masa untuk bertaubat*.

(( مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ)) رواه مسلم.
“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

*Istighfar itu dahsyat*. Kita yang sudah bersedia menjadi orang beriman, yang menyatakan diri dengan syahadat, selayaknya meyakini bahwa Allah yang memberikan rezeki kepada kita. Salah satu amalan yang menghilangkan penghambat rezeki adalah istighfar. Antum ingin lulus sekolah? ingin dapat gaji lebih banyak? ingin punya anak? ingin hidupnya mudah? bisnis lancar? atau bahkan ingin menikah? *beristighfarlah*

(( مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ )) رواه أبو داود.

“Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)

Dorongan mencari rizki kerap menyebabkan banyak orang terpental dari jalan yang lurus. Padahal Islam, sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh dimensi kehidupan seorang hamba, telah memberikan solusi yang begitu jelas dalam usaha memperlancar rizki.
Di antara tuntunan yang ditawarkan untuk menggapai tujuan tersebut: *memperbanyak istighfar*, bukan hanya beristighfar, tapi memperbanyak istighfar. Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,

“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً” (نوح: 10-12)
Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”. QS. Nuh: 10-12.

Lihatlah rekan-rekan, istighfar kita tidak hanya berdampak pada diri kita namun untuk orang sekitar kita, terutama orang tua kita. Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: Allah tidak mengurangi pahala amalan anak-anak lantaran sedikitnya amalan mereka. Dan pula, tidak mengurangi pahala para orang tua sedikit pun, meskipun menempatkan keturunan mereka bersama dengan orang tua mereka (yang berada di derajat yang lebih tinggi, Pen.).[ Al-Jâmi’ li Ahkamil-Qur`ân, 17/60

Atau dengan pengertian lain, seperti diungkapkan oleh Imam ath-Thabari: Allah tidak mengurangi ganjaran kebaikan mereka sedikit pun dengan mengambilnya dari mereka (para orang tua) untuk kemudian Kami tambahkan bagi anak-anak mereka yang Kami tempatkan bersama mereka. Akan tetapi, Kami beri mereka pahala dengan penuh, dan (lantas) Kami susulkan anak-anak mereka ke tempat-tempat mereka (para orang tua) atas kemurahan Kami bagi mereka.[ Jâmi’ul-Bayân, 27/34

Demikianlah, keutamaan dan kemurahan yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para orang tua melalui doa anak-anaknya, tertuang pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”.

*Rasakan istighfar antum untuk menanti Rahmat Allah*. Kita mohon ampunan Allah atas diri yang penuh dengan dosa dan maksiat. Tentu momen gerhana Supermoon malam ini akan menjadi pemacu diri untuk menjadi supermuslim, muslim yang taat, muslim yang hebat, muslim yang berbeda dengan manusia biasanya yang hidup pasrah, menyerah dan hidup tanpa rencana. Melalui istighfar malam ini lah, mari bulatkan tekat kita untuk istiqamah dalam _fi sabilillah_, renungi langkah kita, dan bermuhasabah untuk mempersiapkan diri agar layak bertemu dengan sosok manusia yang berwajah menentramkan, yang menunggu kita, yang merindukan kita. Manusia yang wajahnya bak purnama, yang kelak akan memberikan syafaat bagi kita, sehingga pada akhirnya kita yakin, melalui jalan yang dituntunkannya, Muhammad _Shallallahu ‘Alaihi Wassalam_, kita menjadi orang yang diselamatkan di kehidupan dunia dan akhirat.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim atas sekalian alam, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[Shahih, HR Muslim 2/16, Abu Dawud no. 980, At Tirmidzi 5/37-38, An Nasa-i dalam “Sunan” nya 3/45, Ahmad 4/118, 5/273-274, Ibnu Hibban dalam “Shahih” nya no. 1949, 1956, Baihaqi dalam “SUnanul Kubra” 2/146,dan Imam Malik dalam “AL Muwaththo’ (1/179-180 Tanwirul Hawalik Syarah Muwaththo'”]

Allahu a’lamu bisshowab

Disusun oleh :
Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng.
Wakil Ketua Mualaf Center Yogyakarta

Sudah Sempurnakah Thaharahmu?

Pembahasan Seputar Mani, Madzi, dan Wadi

Ada 3 jenis cairan yang biasa keluar dari kemaluan laki-laki maupun wanita, yaitu mani, madzi, dan wadi. Dan pada masing-masingnya terdapat konsekuensi hukum yang berbeda.

? Mani
Mani memiliki bau yang khas, tidak terlalu pekat, keluar dalam keadaan cepat (memancar) diiringi rasa nikmat, dan membuat lemas setelah keluarnya. Warna mani pada laki-laki dan wanita berbeda.

Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda,

مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيْظٌ أَبْيَضُ وَمَاءُ الْمَرْأَةِ رَقِيْقٌ أَصْفَرُ

_“Mani laki-laki itu kental dan berwarna putih sedangkan mani wanita tipis/halus dan berwarna kuning.”_ (Hadis sahih; diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Mani tidak hanya dikeluarkan oleh laki-laki, tetapi juga wanita. Ummu Sulaim (ibunda Anas bin Malik) _radhiallahu ‘anhum,_ datang kepada Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ dan bertanya, _“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi jika dia mimpi basah (mengeluarkan mani)?”_

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ
_“Ya, apabila wanita melihat air mani (mengeluarkan mani) maka (ketika dia bangun) dia wajib mandi.”_

Ummul Mukminin Ummu Salamah _radhiallahu ‘anha,_ yang waktu itu berada di sampingnya, tertawa dan bertanya, _“Apakah wanita juga mimpi basah (mengeluarkan mani)?”_

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
فَبِمَا يُشْبِهُ الْوَلَدُ
_“Iya. Dari mana anak itu bisa mirip (dengan ayah atau ibunya kalaupun bukan karena mani tersebut)?”_ (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana keterangan dari hadits di atas, seseorang yang mengeluarkan mani maka ia dalam kondisi berhadats besar, disucikan dengan *mandi wajib.* Ketika air mani masih basah maka bagian pakaian yang terkena mani harus di cuci. Jika kondisi sudah kering cukup dengan mengeriknya. Ulama berbeda pendapat dalam masalah mani itu najis atau suci.

Kami sarankan, jika tidak darurat, pakaian yang terkena mani tetap dicuci. Meskipun zat mani nya suci, tetap ada zat yang lain yang menyertai keluarnya mani yaitu madzi, yang ulama sepakat bahwa itu najis.

أَنَّ رَجُلاً نَزَلَ بِعَائِشَةَ فَأَصْبَحَ يَغْسِلُ ثَوْبَهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّمَا كَانَ يُجْزِئُكَ إِنْ رَأَيْتَهُ أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ تَرَ نَضَحْتَ حَوْلَهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيهِ.

_“Ada seorang pria menemui ‘Aisyah dan di pagi hari ia telah mencuci pakaiannya (yang terkena mani). Kemudian ‘Aisyah mengatakan, “Cukup bagimu jika engkau melihat ada mani, engkau cuci bagian yang terkena mani. Jika engkau tidak melihatnya, maka percikilah daerah di sekitar bagian tersebut. Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut.”_ [HR. Muslim nomor 288]

? Madzi
Madzi merupakan cairan bening, pekat, tak berbau, keluar dalam keadaan lambat, saat keluarnya tidak disertai rasa nikmat dan lemas, kadang tidak terasa, dapat keluar saat seseorang terangsang nikmat nyaman melalui panca indera.

Madzi dapat keluar saat aktivitas saling merayu ikhwan kepada akhwat atau sebaliknya secara langsung (bertemu, bergandengan, mengobrol) atau tidak langsung (seperti chatting, sms, kirim foto, krim video), pemanasan sebelum hubungan intim, atau pun sekedar menggeliat / peregangan otot saat bangun tidur. Orang yang mengeluarkannya telah berhadats kecil maka harus *bersuci dengan wudhu* jika ada air atau tayamum jika darurat.

Cara mensucikannya dengan mencuci bagian yang terkena, minimal dialiri air (_dikucek_ sampai bekasnya hilang). Sebagian ulama memaknai hadist riwayat muslim nomor 288 pada pembahasan sebelumnya, tentang Aisyah _radhiyallahu ‘anha_

“Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut”

bahwa yang dimaksud dengan air mani tersebut adalah madzi yang mengering. Ketika madzi mengering, maka bekasnya seperti lem, yang bisa dikerik, sedangkan mani berupa cair dan meresap pada kain dan berbau khas.

? Wadi
Wadi adalah cairan yang keluar dari kemaluan, warnanya putih keruh, agak pekat cair, yang biasa keluar ketika setelah kencing, berkerja keras, mengangkat beban berat, berjalan jauh, atau keluar karena kencing yang tidak tuntas. Hukum wadi adalah *najis,* sehingga wajib untuk dicuci dan orang tersebut *harus berwudhu*. Jika kencing tidak tuntas, maka air wadi dapat keluar bahkan ketika dia dalam keadaan shalat, dan terasa risih di kemaluan. Maka setelah shalat harus di periksa. Jika ada bekasnya, maka bagian pakaian yang terkena dibersihkan, berwudhu, dan shalat diulangi. Namun jika yakin keluarnya tidak saat shalat (saat dzikir), maka shalat tidak perlu diulangi.

Wadi adalah cairan yang paling mudah dibedakan, karena seringnya wadi keluar sesaat setelah kita kencing. Sedangkan antara mani dan madzi perlu kecermatan dalam membedakannya.

‼Terkhusus untuk wanita, selain darah haid dan nifas, hal yang sering membingungkan status hukumnya adalah *cairan keputihan / “ifrazat”.* Secara medis keputihan disebut dengan _“flour Albus”_ yaitu semacam cairan yang keluar dari vagina wanita. Keputihan ini ada dua jenis, yaitu normal (fisiologis) dan keputihan penyakit (patologis). Keputihan normal keluar menjelang menstruasi atau sesudah menstruasi ataupun masa subur.

Jika keputihan yang keluar diiringi dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina maka disebut keputihan penyakit (patologis) yang disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus atau jamur). Jika cairan yang keluar sampai berwarna kekuningan atau kehijauan serta ada bau busuk yang menyengat, alangkah baiknya segera diperiksakan ke dokter.

Ulama berbeda pendapat tentang status kenajisannya. Imam Malik dan sebagian ulama mengatakan bahwa itu najis, karena keluar dari jalan yang biasa keluarnya najis. Ulama lain berpendapat itu tetap najis karena serupa dengan madzi. Ada kemungkinan juga, cairan tersebut bercampur dengan wadi atau madzi. Dalam kasus lain, misal setelah berhubungan suami istri, cairan tersebut dapat tercampur dengan air mani yang menetes dari dalam rahim. Idealnya, wanita harus tetap bersih dari cairan yang bau dan kotor, serta mampu menjaga wudhu. Namun jika kondisi sangat menyulitkan misal karena penyakit, maka Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata

فإنه ينقض الوضوء وعليها تجديده، فإن كان مستمراً، فإنه لا ينقض الوضوء

_“Keluarnya keputihan membatalkan wudhu dan wajib baginya mengulangi wudhu, jika keluar terus-menerus, maka tidak membatalkan wudhu.”_ [ Majmu’ Fatawa 1/284-286 ]

Sedangkan Imam Hanafi menganggap itu suci seperti halnya cairan yang keluar dari tubuh (ingus, keringat, dan ludah). *Keputihan pada wanita bukan keluar dari saluran kencing, tetapi keluar dari saluran yang berhubungan dengan rahim.* Ulama yang berpendapat tentang sucinya keputihan berpegang pada dalil ‘Aisyah yang mengerik mani pada pakaian Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam._ Kita pahami bahwa kegiatan mengerik pasti tetap akan meninggalkan bekas walaupun hanya sedikit, dan Rasulullah tetap menggunakannya untuk sholat. Pada kitab-kitab hadits juga tidak didapatkan dalil yang secara tegas menyatakan najisnya keputihan, sehingga hukum keputihan kembali kepada hukum asal segala sesuatu, yaitu suci.

Syaikh Musthofa al-Adawi, seorang dai dari Mesir, setelah membawakan perselisihan pendapat ulama dalam masalah ini, beliau mengatakan,

وبإمعان النظر فيما سبق؛ يتضح أنه لم يرد دليل صريح على أن رطوبة فرج المرأة نجسة. وأما ما أورده البخاري من حديث وفيه: يتوضأ كما يتوضأ للصلاة ويغسل ذكره؛ فليس بصريح في أن غسل الذكر إنما هو من رطوبة فرج المرأة، ولكن محتمل أن يكون للمذي الذي خرج منه كما أمر النبي صلى الله عليه وسلم المقداد لما سأله عن المذي؛ فقال: توضأ واغسل ذكرك فعلى ذلك تبقى رطوبة فرج المرأة على الطهارة

Dengan melihat lebih mendalam terhadap keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalil tegas yang menunjukkan bahwa keputihan wanita hukumnya najis. Sementara hadis yang dibawakan Bukhari, yang ada pernyataan, “Dia harus berwudhu sempurna dan mencuci kemaluannya..” tidaklah menunjukkan dengan tegas bahwa mencuci kemaluan dalam kasus itu, disebabkan keputihan wanita. Namun bisa juga dipahami karena madzi. Sebagaimana Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ memerintahkan al-Miqdad ketika dia bertanya tentang madzi, jawab Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam,_ ‘Dia harus berwudhu dan mencuci kemaluannya.’ Oleh karena itu, keputihan yang ada di organ reproduksi wanita, statusnya suci. (Jami’ Ahkam an-Nisa, 1/66).

Kami pribadi cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa *keputihan itu suci dan tidak membatalkan wudhu* sebagaimana keterangan terakhir

? Menjaga Kebersihan Celana Dalam
Hal ini penting untuk ditekankan kepada setiap muslim. Sering repot ketika berada di luar rumah apalagi saat perjalanan jauh, cairan dari kemaluan tidak sengaja keluar. Maka kami sarankan untuk memasang pelapis pada celana dalam agar cairan tersebut tidak mengenai kain.

Para ikhwan bisa melapisi dengan tisu terutama saat bekerja keras atau perjalanan jauh. Ketika akan melaksanakan shalat, maka lapisan yang kotor dibuang terlebih dahulu. Celana dalam, juga harus diganti secara berkala, umumnya sehari sekali. Batasan setiap orang berbeda-beda. Cara membedakan bersih atau kotor salah satunya dengan mencium baunya.

Selain itu, setelah melakukan kencing atau BAB, maka dituntaskan terlebih dalulu agar semua cairan dalam saluran kencing keluar. Bisa dengan menekan otot perut, mengurut saluran kecing (laki laki) atau memijat bagian kandung kemih sewajarnya, kemudian ditunggu beberapa saat hingga yakin tidak ada rasa risih (akibat sisa cairan) pada kemaluan. Selain itu, agar kemaluan tidak mengeluarkan cairan yang tidak diinginkan, terutama saat shalat atau saat perjalanan jauh (akan merepotkan ganti pakaian/cuci pakaian dan wudhu), maka hindari aktivitas yang mengundang rangsangan dari lawan jenis, jaga pikiran dan hati. Setiap muslim juga dianjurkan untuk menjaga fisik dengan olah raga rutin minimal 20 menit per hari supaya cairan yang keluar dari kemaluan juga terkendali.

Jika ada cairan yang keluar dari kemaluan terus menerus dan dianggap tidak wajar, maka segera periksakan ke dokter. Dalam beberapa kasus, puasa rutin (seperti puasa daud atau senin-kamis) menjadi solusi bagi orang yang sering keluar madzi atau wadi, terutama bagi anak muda di usia baligh dan produktif. Apabila hal itu divonis adalah penyakit yang membutuhkan waktu penyembuhan agak lama (seperti pemasangan kateter urin paska operasi), maka in syaa Allah ada keringanan dalam bersuci.

Wallahu a’lam bisshawab

Disusun oleh:
Isti Qona’atun, S.Gz.
Pengajar Tahsin dan Tahfidz

Menjaga Niat Hijrah

1. Arti Hijrah
Hijrah dari kata هَجَرَ – يهجر Artinya : 1. pindah, meninggalkan negeri asal, berimigrasi; 2. meninggalkan, melarikan diri, melarikan diri dari tugas militer, desersi, melepaskan diri, meninggalkan, berhenti; 3. mendiamkan, tidak menyapa, tidak mengajak berbicara
Orang yang berhijrah harus punya bekal
Kalau orang pergi pergi ke suatu tempat tidak bawa bekal sama sekali, maka dia cenderung akan merepotkan orang lain. Bahkan tidak jarang orang nekat cari kerja di Jakarta misalnya, tidak punya bekal sama sekali, maka dia akan menjadi pengangguran dan mengemis di jalanan. Resiko lain orang hijrah tanpa bekal adalah berbalik arah, kembali ke kehidupan yang lama. Menyerah memang jauh lebih mudah*. Dia tidak mampu melawan bisikan syetan yang muncul dari berbagai arah, baik syetan berwujud jin dan manusia.
Maka dari itu, bekal utama orang hijrah ada 3,
  1. Keimanan, percaya setiap keputusan yang diambil akan menjadikan dirinya lebih baik.
  2. Ketaqwaan, taat kepada Al-qur’an dan sunnah serta bersikap hati-hati dan waspada dalam bertindak di mana kita selalu diawasi Allah Subhanahu wa ta’ala.
  3. Keilmuan, mampu mencari informasi dan mengoptimalkan potensi diri supaya menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, kuat, mandiri, ber agama dengan benar, berbuat yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi umat manusia.
Ada tiga jenis hijrah:
  1. Hijratul makan (cari tempat yang lebih baik)
  2. Hijratul fa’il (cari sahabat yang lebih baik)
  3. Hijratul ‘amal (cari prilaku yang lebih baik)
2. Hadiah bagi orang yang hijrah
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” -Sura An-Nisa’, Ayat 100

 
3. Bagaimana Cara Hijrah?
     a. Niat karena Allah dan Rasulullah
  • 1- وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى‏.‏ رضي الله عنه، قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏*”‏ إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‏”*‏ ‏(‏‏(‏متفق على صحته‏.‏ رواه إماما المحدثين‏:‏ أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‏)‏‏)‏‏.‏
  • _1. Dari Amirul mu’minin Abu Hafs iaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda [3] :
  • “Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehoinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.”(Muttafaq ‘alaih)_
  • Murnikan tujuan hijrah antum karena ingin dekat dengan Allah dan Rasulullah, bukan untuk dapat harta, benda, jabatan, popularitas, ingin dipuji, wanita atau kesenangan semu lainnya.
  • Bangunlah perasaan ingin sekali masuk surga, berjumpa dengan Rasulullah, ingin menatap wajah Allah, ingin mendapatkan kenikmatan abadi. Munculkan keinginan itu seperti hal nya antum sangat ingin sekali masuk ke sekolah/universitas/tempat kerja/bahkan tempat liburan favorit. Tentunya setiap keinginan kita pasti ada harganya.
     b. Hijrah dengan berjihad (berjuang sungguh-sungguh) 
  • تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
  • (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” -Surat As-Saf, Ayat 11
  • Jika sudah memutuskan untuk hijrah, ujian pasti ada. Kesiapan kita dalam harta dan jiwa pasti diperlukan. Antum ingin istiqamah shalat berjama’ah di Masjid maka harus rela mengorbankan waktu bermain antum.
  • Jika ingin kaya, usahanya sukses, pintar, ahli dalam suatu bidang harus jihad perbanyak shadaqah. Beranikan diri untuk bayar setiap harga yang mampu melejitkan potensi antum, yang bisa untuk meningkatkan hasanah hidup di dunia dan akhirat
     
     c. Hindari Riya
  • Ada beberapa orang yang menjadi  “korek api” nya neraka
    • Orang membaca Al Qur’an supaya disebut qori
    • Orang yang bershodaqoh karena ingin dikenal dermawan
    • Orang perang jihad fi Sabilillah karena ingin dianggap pahlawan
    • Orang berilmu supaya dikenal sebagai ‘alim
  • وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

    “Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria dan kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.” -Surat An-Nisa’, Ayat 38

  • Penyakit riya dalam hijrah itu adalah noda. Hati-hati dengan hal ini karena riya dekat dengan kesombongan. Kesombongan dekat dengan syirik.
 
     d. Beribadah dengan penuh keikhlasan
  • وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” -Sura Al-Bayyinah, Ayah 5

  • Ilmu ikhlas itu tidak mudah diterapkan, perlu ilmu lalu hafalkan lalu dipahami lalu diamalkan lalu konsisten menjaga amal lalu ikhlas lalu konsisten menjaga keikhlasan agar kita dijaga Allah dan selamat di dunia dan akhirat.
  • Zaman now ini banyak sekali fitnah dunia, baik di alam maya maupun realita. Tidak jarang banyak orsng terlihat baik, tapi terbukti seorang koruptor, pengedar narkoba, penyebar hoax, pezina, dan sebagainya.
  • Menjaga keikhlasan adalah ikhtiar kita dalam memenangkan fitrah hati nurani dalam taqwa di atas nafsu syahwat yang fujur
    e. Selalu berusaha dan berdoa
  • وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” -Sura Al-Baqarah, Ayah 186

  • Sesungguhnya Allah itu dekat dengan hamba-Nya. Carilah saat-saat doa itu mustajab, termasuk cari kesempatan supaya kita di doakan Malaikat, dijaga Allah, dimudahkan segala urusan kita dan dilapangkan dada menghadapi hal yang tidak diinginkan.
Wallahu a’lamu bishowab.

Disusun oleh:
Ridwan Wicaksono S.T., M.Eng.
Wakil Ketua Mualaf Center Yogyakarta

Keutamaan Hari Asyura (10 Muharram)

Segala puji bagi Allah pemelihara seluruh alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi dan Rasul mulia, Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Wa ba’du:

Diantara nikmat Allah Ta’ala yang diberikan atas hamba-hamba-Nya, adalah perguliran musim-musim kebaikan yang datang silih berganti, mengikuti gerak perputaran hari dan bulan. Supaya Allah Ta’ala mencukupkan ganjaran atas amal-amal mereka, serta menambahkan limpahan karunia-Nya.

Dan tidaklah musim haji yang diberkahi itu berlalu, melainkan datang sesudahnya bulan yang mulia, yakni bulan muharam. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah  radiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة قيام الليل } رواه مسلم في صحيحه

Puasa yang paling utama setelah puasa bulan ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan muharam, dan sholat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR.Muslim).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menamai bulan muharam dengan bulan Allah, ini menunjukan akan kemuliaan dan keutamaannya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengkhususkan sebagian makhluk-Nya terhadap sebagian yang lainnya, serta mengutamakannya dari sebagian yang lainnya.

Lanjutkan membaca →

Letter form Japan

In the name of God ( Jehovah.
Yahweh. Arabic「الله」( Allah ) . ) .
Peace.
I am Japanese Christian Abdullah.

God is one.
Noah, Abraham, Moses, Jesus Christ, Muhanmado is His Messengers.

God’s names is numberless.

Islam ( Pure. Peace. Obedience. Obey to God. ) is Adam, Noah, Abraham, Moses, Jesus Christ, Muhanmado ( Peace )’s religion.

In The translation Quran a place
「Christian」 is The Arabic Quran
「نصاري 」( Nasaaraa ) .

「نصاري 」( Nasaaraa ) is English「Nazarene」.

Jesus Christ came from Nazare.
Jesus was Nazarene.

In the translation Quran,
a place「Christian」is mistake.
「Nazarene」is right.

Jesus is Arabic「 عيسى 」( iisaa ) .
Christ ( Messiah ) is Arabic「 المسيح 」
( Masiihu ) .

True Muslim is true Christian.

True Islam is true Christianity
( Jesus Christ ( المسيح عيسى )’ s religion ) .

Adam, Noah, Abraham, Moses, Jesus
Christ, Muhanmado ( Peace ) is Muslims.

The Quran is perfect true Bible.
Bible is meaning 「Holy book」etc.
Old Bibles was falsification in places from bad old peoples.

Testimony is old Bible is many types.
The Quran is One type.
All should read The Quran.

I heard & believe, this world’s musical
instrument performance is sin.

The world’s to come’s paradise music is eternity.

Tabaco’s smoke is danger.
Chin’s long mustache is important.

Ladies should hide skin.
loose size wear.

Lanjutkan membaca →

Al-Quran: Sumur Yang Tak Pernah Kering

Ada sebuah pengalaman yang sulit saya lupakan, ketika salah seorang sahabat saya berkomentar dengan sangat serius. Ironis, kata salah seorang sahabat saya dalam satu kesempatan pengajian “Sabtu  Pagi”   (22   Mei  2010)   untuk   segenap  keluarga   besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto, di masjid kampus ini, yang sengaja diselenggarakan untuk  ber-muhâsabah,  dengan tema utama:  “Menjadi   Insan  Kamil   dengan Tazkiyatun   Nafs”[2],   yang  secara   mendadak   ‘saya’  diberi   amanah   untuk mengantarkannya. Kata salah seorang sahabat saya (yang diberi amanah menjadi salah  seorang   dosen   di  perguruan   tinggi   ini),  di   ketika   “kita”  mengalami kegamangan dalam hidup kita; di saat kita hadapi sejumlah persoalan hidup yang tak kunjung usai; di dalam kerinduan kita untuk menjumpai kedamaian dalam hidup kita; “Kita” – umat Islam – justeru berpaling dari al-Quran. Al-Quran – kini — telah banyak kita sia-siakan, untuk hanya sekadar kita baca (itu pun kalau masih sempat), dan kemudian kita biarkan terkulai tak berdaya sebagai mush-haf kurang bermakna, karena berhimpit dengan onggokan naskah-naskah profan buku-buku kita yang – bahkan – lebih sering kita hormati lebih dari mush-haf (kitab) suci itu, kumpulan wahyu ilahi yang telah – dengan sangat hati-hati dan sungguh-sungguh – dibukukan oleh para sahabat nabi s.a.w. dan as-salaf al-shâlihyang – dengan keikhlasan — mereka persembahkan   kumpulan  wahyu   Allah   itu untuk umat  Islam yang (kelak) memerlukannya.

Lanjutkan membaca →