Al-Quran: Sumur Yang Tak Pernah Kering

Ada sebuah pengalaman yang sulit saya lupakan, ketika salah seorang sahabat saya berkomentar dengan sangat serius. Ironis, kata salah seorang sahabat saya dalam satu kesempatan pengajian “Sabtu  Pagi”   (22   Mei  2010)   untuk   segenap  keluarga   besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto, di masjid kampus ini, yang sengaja diselenggarakan untuk  ber-muhâsabah,  dengan tema utama:  “Menjadi   Insan  Kamil   dengan Tazkiyatun   Nafs”[2],   yang  secara   mendadak   ‘saya’  diberi   amanah   untuk mengantarkannya. Kata salah seorang sahabat saya (yang diberi amanah menjadi salah  seorang   dosen   di  perguruan   tinggi   ini),  di   ketika   “kita”  mengalami kegamangan dalam hidup kita; di saat kita hadapi sejumlah persoalan hidup yang tak kunjung usai; di dalam kerinduan kita untuk menjumpai kedamaian dalam hidup kita; “Kita” – umat Islam – justeru berpaling dari al-Quran. Al-Quran – kini — telah banyak kita sia-siakan, untuk hanya sekadar kita baca (itu pun kalau masih sempat), dan kemudian kita biarkan terkulai tak berdaya sebagai mush-haf kurang bermakna, karena berhimpit dengan onggokan naskah-naskah profan buku-buku kita yang – bahkan – lebih sering kita hormati lebih dari mush-haf (kitab) suci itu, kumpulan wahyu ilahi yang telah – dengan sangat hati-hati dan sungguh-sungguh – dibukukan oleh para sahabat nabi s.a.w. dan as-salaf al-shâlihyang – dengan keikhlasan — mereka persembahkan   kumpulan  wahyu   Allah   itu untuk umat  Islam yang (kelak) memerlukannya.

Lanjutkan membaca →

Panduan I’tikaf di Bulan Ramadhan

Makna I’tikaf—

I’tikaf menurut bahasa adalah tidak terpisah, melekat, menetap berdiam diri pada sesuatu. Sedang menurut syari’at adalah tinggal dan menetap di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. (Lihat: al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh, III/1749, Fiqh al-Sunnah, I/433)

—Para ulama sepakat bahwa I’tikaf  khususnya 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan. Dasarnya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.

—Dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah:

—وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

—(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.” (QS. Al Baqoroh: 187)

Lanjutkan membaca →

catatan jelang ramadhan

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh:
?????????? ?????????? ?????????? ???DSCF2901?? ?????????????

Berbicara tentang surat al-baqoroh

Ayat 16 :

????????? ????????? ?????????? ??????????? ?????????? ????? ???????? ????????????? ????? ??????? ???????????

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Pada awal surat al-baqoroh yang pertama allah menjelaskan tentang orang mutaqim kemudian pada ayat 6-7 menjelaskan tentang orang orang kafir lalu pada ayat 8-20 menjelaskan tentang orang orang munafik.

Tidak cukup bila seseorang hanya beriman di lisan dan menipu diri sendiri maka Allah SWT akan memberikan azab yang pedih karena mereka berdusta .

Allah SWT akan mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang ambing didalam kesesatan.

Pada ayat 17

?????????? ???????? ??????? ??????????? ?????? ???????? ????????? ??? ???????? ?????? ??????? ??????????? ???????????? ??? ????????? ??? ???????????

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. 

Pada ayat 18

????? ?????? ?????? ?????? ??? ???????????

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), 

 

wassalamualaikum warrahmatullahi wabarrokatuh

???????????? ?????????? ?????????? ????? ?????????????

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                30 juni 2013

Mutiara Hadist Jelang Ramadhan

DSCF2905

Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya bilangan-bilangan bulan di sisi Allah SWT , maka ada 12 bulan. Dan 12 bulan itu telah Allah tetapkan tatkala Allah menciptakan langit dan bumi.”

Dan Allah berfirman :

“Diantara 12 bulan tersebut, ada 4 bulan yang suci.”

Dua belas bulan yang dimaksud adalah bulan Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, Dzulhijjah. Dan sekarang kita berada di bulan Sya’ban (Orang jawa menyebutnya Ruwah). Kenikmatan tersendiri, tatkala kita sampai sekarang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk hidup.

Di dalam satu tahun, Ramadhan adalah 1 bulan. Di dalam satu tahun, ada 2 hari Raya yaitu Idul Adha dan Idul Fitri. Maka dibaliknya hikmah besar. Haji setahun sekali. Dibaliknya hikmah besar. Jumatan sepekan sekali.  Maka disana ada hikmah besar. Bisa dibayangkan jika seminggu sekali Lebaran, maka kita tidak akan bisa merasakan nikmatnya lebaran. Kalau dalam setahun kita berpuasa 6 bulan, maka kita tidak akan bisa merasakan nikmatnya Ramadhan. Begitu pula dengan Jumatan. Jika dilakukan setiap hari, maka kita tidak akan bisa merasakan nikmatnya Jumatan.

Dan demikianlah Allah SWT , Dzat yang telah memberikan kepada umat ini yang terbaik, sehingga dialah Allah SWT, Dzat yang telah berfirman:

“Dan Aku ridho bahwasanya agama islam adalah agama kalian. Sehingga salah satu diantara kesempurnaan agama islam adalah adanya suatu syariat dimana syariat tsb juga ada pada umat-umat sebelumnya.”

Saum berarti puasa, yang dimaksud dengan saum adalah al-imsak, menahan diri. Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan seluruh hal-hal yang membatalkan puasa, yang dimulai dari fajar hingga terbenamnya matahari yang dilakukan oleh mukallaf dalam keadaan tidak haid ataupun nifas dan disertai dengan niat.

Allah SWT berfirman :

??? ???????? ????????? ??????? ?????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ????? ????????? ???? ?????????? ??????????? ??????????

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Fajar dibagi menjadi dua:

  1. Fajar Shodiq : Fajar yang menandakan masuknya waktu sholat subuh (sekitar pukul 04.30), ditandai dengan membentangnya garis putih yang berada di ufuk timur dari utara ke selatan.
  2. Fajar Kadzib : Fajar yang datang sebelum fajar Shodiq, ditandai dengan sinar yang berada di ufuk timur membentang ke atas (sekitar pukul 04.10 – 04.15)

Terkait dengan sahur, sahur bisa dilakukan seseorang dengan mengikuti perbuatan nabi ataupun  mengikuti perbuatan nabi beserta perkataan nabi. Rasulullah berhenti makan sahur, dengan jarak antara makan sahur dan adzan adalah kurang lebih selama seseorang membaca 50 ayat (yang ditafsirkan selama 10 menit) yang disebut imsak. Ini merupakan contoh perbuatan Rasul. Bagaimana sabda Rasul? Rasul bersabda : “Jika kalian sedang makan sahur dan kalian mendengar adzan subuh maka sempurnakanlah.”

Sunnah-sunnah puasa:

  1. Menyegerakan berbuka
  2. Mengakhirkan sahur
  3. Memperbanyak membaca Al-quran
  4. Memberikan buka puasa
  5. Memperbanyak bersedekah, khususnya kita dianjurkan untuk memperbanyak amal tatkala kita berada di 10 terakhir di bulan romadhon.

Aisyah RA pernah bertanya pada Rasulullah : “Ya Rasulullah, amalan apa yang aku lakukan jika aku menjumpai malam lailatul qadar?”. Maka rasul bersabda : “Perbanyaklah membaca Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu annii.”

Yang artinya : “Ya Allah, engkau adalah dzat yang maha pemaaf, mencintai maaf, maafkanlah aku.”

 

Sabtu, 06 Juli 2013

CATATAN JELANG RAMADHAN

DSCF2905

Beberapa catatan jelang ramadhan atas nama takmir masjid Gede Kauaman yogyakarta adalah hal yang sangat kita syukuri dan sangat kita harapkan. 5 hari kedepan ALLAH SWT berkenan mengulurkan syariat kita menjumpai bulan yang sangat mulia dan yang kita mualaikan Ramadhan. Oleh karna itulah sebagaimana lazhimnya seseorang akan kedatangan tamu tentu perlu bersiap diri.

Ada catatan menarik yang berkaitan dengan Ramadhan 1434 H ini, supaya di antara kita sedikit memahami bahwasannya awal Ramadhan 1434 H sangat di mungkinkan adany perbedaan. Perlu kita memahami ini, supaya kita tidak salah menyikapi perbedaan.

Tentu semua pendapat semua faham masing-masing punya ruju’an yang sah menurut agama. Tetapi bagaimanua umat manusia ini menyikapi perbedaan ini yang sangat menjadi penting sebab kalau kita salah mensikapi maka sekarang ini sudah ada model media yang memanfaatkan.

Biasanya media itu atas dua nama kelompok yang berbeda,dan saling mengadu domba,kalau kemudian di antara dua kelompok itu berdamai-damai saja media tidak menarik. Maka dari itu kita perlu mempelajari mensikapi,supaya kita tidak tervokasi.

Setelah Allah mewajibkan berpuasa, maka kita berpuasalah di bulan Ramadhan. Persoalannya kapan ramadhan di mulai ?” saya percaya pasti kebanyakan dari kita ini,hanya mengikuti ahli-ahli peneliti tentang kapan ramdahan tiba”. Tetapi kita semua tau,bahwasannya tahun ini dan tahun sebelumnya awal ramadhan punya potensi berbeda.berbeda ini perlu saya sampaikan, agar kita tidak menjadi bingung.

Yang pertama berpuasalah kamu bila melihat hilal awal ramadhan.

Yang kedua menghitung dengan hisab, menurut ilmu hisab  bahwa karena istiqma atau konjungsi yang menunjukkan akhir bulan sya’ban itu terjadi pada siang hari, sehingga ketika matahari terbenam beliau sudah ada wujud tetapi masih sangat kecil di bawah 1  untuk wilayah yogyakarta ini.

Ke tiga bagi yang mengikuti rukhyat akan menunggu tanggal 8 hari senin nanti magrib akan mengrim para pemburu hilal. Mereka akan mencari hilal di tempat yang sudah di pelajari, tetapi sudah di pastikan  pada hari senin hilal tersebut tidak bisa di verifikasi dan bisa di pastikan meskipun Departemen agama sudah mempersiapkan tim rukhyat dengan harganya sangat mahal pasti tidak akan melihat bulan kalau masih di bawah  1 derajat. Walaupun di lihat di beberapa tempat, mulai dari makasar, lamongan, suka bumi, pelabuhan ratu,cilegon sampai di pantai aceh akan mengamati pasti semua akan melihat.karena pemalsuan derajat,kenapa Tasbiat harus memastikan.

Apa perhitungan manusia tidak bisa keliru? Insyaalah tidak keliru, jika ALLAH bisa ,mempercepat bulan dan semesta alam dan ini tidak sesuai dengan janji ALLAH. Karena perputarannya sudah bis adi hitung,karna itu sudah janji ALLAH.

Bagi yang khisab hari selasa 1 ramadhan. bagi yang rukhyat 1 bramadhan hari rabu bisa di pahami meskipun nanti ada sidang isbad.sementara ini ada beda pendapat .

Tahun lalu ada sekelompok santri di cakung ada menyatakan melihat Hilal dan kemudian berani di sumpah.saya mengklarifikasi itu, sulit di percaya karena mereka hanya dengan mata telanjang tanpa menggunakan alat apapun sudah bisa melihat. Tapi sudah bisa di pastikan bawha besok ada perbedaan, ada yang puasa hari senin dan ada yang puasa hari rabu, nah ini kita tidak boleh bingung. Insyaallah masjid gede kauman akan mulai puasa  1 Rhamadan hari selasa, beda tidak apa-apa yang tidak boleh saling mengecam,mencaci maki di antara kita .

insyallah besok jumat ini akan di launchingkan gerakan membersihkan istana ALLAH  supaya bulan ramadhan itu tidak hanya bersih di hati, tapi bersih  di lingkungan. Selain itu ke masjid kauman memiliki agenda lainnya di antaranya kuliah dhuha,Takjilan,trawih,tadarus,dan kita bisa mendengarkan siaran ulang lewat Radio Saka fm Pancaran Silahturahmi warga dari kauman untuk semua dan masih banyak lagi agenda yang akan di laksanakan di bulan ramadhan ini di masjid Gede kauman. Dan  kita mantab akan melakukan awal puasa pada hari selasa dan  senin malam melakukan terawih bersama.

Berbeda tidak menjadi persoalan.

kamis Tgl  04-07-2013

Ceramah Jelang 1 Ramadhan 1434

DSCF2901Pada malam pertama Tarawih di Masjid Gedhe Kauman, bapak H. Budi Setiawan, S.T. menyampaikan kutbahnya mengenai Hisab dibulan Ramadhan 1434. Dan berikut adalah rangkumannya :
Bagi orang – orang yang beriman, ketika mentari sya’ban tenggelam di ufuk barat (maghrib) maka bergetarlah hati yang merasakan nikmatnya karunia Alloh karena telah memberikan kita kesempatan untuk memasuki bulan Ramadhan. Tidak sekedar berganti nama bulan menjadi Ramadhan, tetapi Alloh juga menunjukkan suatu ketentuan baru / hukum – hukum baru di bulan suci ini. Dan Alloh membuka lebar pintu ampunan (maghfirah), melebarkan pintu berkah, dan melipatgandakan pahala hamba – hambanya yang melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan. Maka bersyukurlah atas segala nikmat yang telah Alloh berikan, dan kesyukuran itu akan lebih indah jika kita menggantinya dengan iman, amal dan ikhsan, sehingga karunia itu tidak akan terbuang sia – sia.
Alloh berfirman mengenai kewajiban berpuasa dalam Q. S . Al – Baqarah : 183
“Wahai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelu kamu agar kamu bertaqwa”
Lalu, kapan kita berpuasa? Alloh meneruskan dalam ayat 185
“ . . . Barang siapa menyaksikan, mengalami bulan ramadhan, maka jatuh kewajiban untuk berpuasa. . . ”
Mengenai kapan kita berpuasa, ada beberapa metode penghitungan/ hisab di zaman modern ini. Dan Masjid Gedhe Kauman menggunakan hisab Mujadilillah yang menunjukkan puasa pertama jatuh pada tanggal 9 Juli 2013. Tentu terdapat beberapa perbedaan antara perhitungannya dengan metode yang lain. Perbedaan itu wajar dan tidak perlu dipertentangkan. Karena Otoritas kebenaran hanya milik Alloh SWT.
“Berpuasalah kamu ketika sudah ru’yat”
menurut pemahaman kita, liru’yati itu tidak berkaitan dengan ibadah, akan tetapi adalah metode didalam penetapan awal Ramadhan. Yusuf Kordowi menjelaskan bahwa Rasulullah ketika mengatakan sumuli ru’yati itu karena umat kami masih umi. Sekitar pada 15 abad lalu, orang – orang sudah tau perbedaan bulan dengan melihat pergerakan bintang. Namun belum terjadi akurasi seperti sekarang ini. Menurut perhitungan yang digunakan Masjid Gedhe Kauman, istima’ terjadi pada pukul 14.15 WIB siang tadi (8 Juli 2013), sehingga tarawih diadakan malam ini. Rasul bersabda “liru’yati itu kita pahami sebagai metode.” Dan bertentangan dengan Kordowi, Hiraqadam mengatakan. “ketika sekarang kita sudah mengetahui cara menghitung, maka liru’yati itu diabaikan”. Dan sekali lagi, dengan adanya perbedaan pendapat, tidak boleh saling mengecam atau memperolok. Sehingga Warga Kauman sudah tau dan yakin bahwa bulan dengan ketinggian dibawah 1? tidak akan mungkin diru’yat. Kami menghormati sidang Isbat, tapi kita tidak wajib untuk mentaati penetapan awal Ramadhan.
“Dan barangsiapa menegakkan agama Alloh, akan dimudahkan segala urusannya.” Rasa itu muncul dari hati orang yang bertaqwa kepada Alloh. Salahsatu caranya yaitu dengan memakmurkan masjid pada bulan Ramadhan. Seperti mengikuti pengajian – pengajian dan ta’jil yang diadakan oleh masjid. Contoh menghadiri Ta’jilan di Masjid Gedhe Kauman atau bahkan menjadi donaturnya. Karena, “Barang siapa memberi makan orang yang berbuka, akan memperoleh pahala yang sama seperti orang berpuasa, tanpa mengurangi pahala puasa yang dimilikinya.”
Hari Raya ‘Idul Fitri dalam perhitungan kami, jatuh pada tanggal 8 Agustus 2013. Tidak menunggu sidang isbat / ru’yat, karena istima’ akhir bulan Ramadhan akan terjadi sekitar pukul 04.55 (7 Agustus 2013) sehingga pada malam harinya, bulan sudah 3? cukup tinggi. Meskipun menurut para ahli jika belum mencapai 4 ? itu tidak mudah diru’yat. Bagi Warga Ru’yat wujudbudulillal yang terjadi saat maghrib istima’ qabral huruf tidak menjadi masalah, lalu kami menentukan ‘Idul Fitri pada hari kamis yang nantinya akan ada acara Oblok – oblok di Masjid Gedhe Kauman. Acara tersebut untuk menyatakan bahwa hari itu sudah tidak boleh berpuasa karena telah memasuki Hari Raya ‘Idul Fitri. ~ (8 Juli 2013)