Catatan Ceramah Takjil #1

Ceramah Takjil pada hari pertama ramadan ini disampaikan oleh H. Haedar Waluyo, S. Ag membahas tentang masalah akidah yang merupakan persoalan mendasar untuk keimanan kita sebagai seorang muslim.

Courtesy : http://jurnalkeluarga.com

Manusia lahir ke bumi membawa dua fitrah, fitrah yang pertama yakni mengenali Allah sebagai Tuhan. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 172 yang artinya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Dalam ayat tersebut, terdapat persaksian manusia bahwa hanya Allah yang pantas untuk disembah. Apabila ada orang yang menyebut diri mereka sebagai ateis maka mereka membohongi diri mereka sendiri. Fitrah yang kedua yaitu beragama Islam. Allah berfirman dan QS. Ar- Rum ayat 30 yang artinya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Fitrah manusia untuk memeluk Islam sebagai agama yang benar juga tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu, setiap orang tua harus memberikan pemahaman akidah yang kokoh untuk anaknya sehingga ia beragama Islam hingga akhir hidupnya. Kisah Firaun merupakan pembuktian bahwa fitrah manusia sejak lahir yaitu beragama Islam. Allah berfirman dalam QS. Yunus ayat 90 dan 91yang artinya:

Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri).”

Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.

Disusun oleh :
Nana Yuliana

Al-Quran: Sumur Yang Tak Pernah Kering

Ada sebuah pengalaman yang sulit saya lupakan, ketika salah seorang sahabat saya berkomentar dengan sangat serius. Ironis, kata salah seorang sahabat saya dalam satu kesempatan pengajian “Sabtu  Pagi”   (22   Mei  2010)   untuk   segenap  keluarga   besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto, di masjid kampus ini, yang sengaja diselenggarakan untuk  ber-muhâsabah,  dengan tema utama:  “Menjadi   Insan  Kamil   dengan Tazkiyatun   Nafs”[2],   yang  secara   mendadak   ‘saya’  diberi   amanah   untuk mengantarkannya. Kata salah seorang sahabat saya (yang diberi amanah menjadi salah  seorang   dosen   di  perguruan   tinggi   ini),  di   ketika   “kita”  mengalami kegamangan dalam hidup kita; di saat kita hadapi sejumlah persoalan hidup yang tak kunjung usai; di dalam kerinduan kita untuk menjumpai kedamaian dalam hidup kita; “Kita” – umat Islam – justeru berpaling dari al-Quran. Al-Quran – kini — telah banyak kita sia-siakan, untuk hanya sekadar kita baca (itu pun kalau masih sempat), dan kemudian kita biarkan terkulai tak berdaya sebagai mush-haf kurang bermakna, karena berhimpit dengan onggokan naskah-naskah profan buku-buku kita yang – bahkan – lebih sering kita hormati lebih dari mush-haf (kitab) suci itu, kumpulan wahyu ilahi yang telah – dengan sangat hati-hati dan sungguh-sungguh – dibukukan oleh para sahabat nabi s.a.w. dan as-salaf al-shâlihyang – dengan keikhlasan — mereka persembahkan   kumpulan  wahyu   Allah   itu untuk umat  Islam yang (kelak) memerlukannya.

Lanjutkan membaca →

Panduan I’tikaf di Bulan Ramadhan

Makna I’tikaf—

I’tikaf menurut bahasa adalah tidak terpisah, melekat, menetap berdiam diri pada sesuatu. Sedang menurut syari’at adalah tinggal dan menetap di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. (Lihat: al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh, III/1749, Fiqh al-Sunnah, I/433)

—Para ulama sepakat bahwa I’tikaf  khususnya 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan. Dasarnya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.

—Dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah:

—وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

—(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.” (QS. Al Baqoroh: 187)

Lanjutkan membaca →

Sejarah Sekaten

Kata Sekaten, kata yang sangat familiar dai Jogja. Hampir semua orang jogja pasti pernah menyaksikan dan berkunjung di arena “Sekaten”. Tapi diantara sekian banyak masyarakat Jogja ternyata hanya sedikit yang mengetahui apa dan bagaimana sekaten serta sejarah dilaksanakannya upacara Sekaten. Berikuta akan saya sampaikan hal-hal yang berhubungan dengan Sekaten.

Tulisan ini karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT”

dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.

Tulisan tersebut akan saya unggah dalam beberapa judul yang sesuai dengan tulisan aslinya

Sejarah

Upacara Sekaten dimulai pada jaman Kasultanan Demak Bintara. Yaitu ketika Sultan Syah Alam Akbar I atau Raden Patah naik tahta sebagai Sultan Demak. Kenaikan tahta Raden Patah bertepatan tanggal 12 Robiulawwal tahun 1501 M. Tanggal 12 Robiulawwal merupakan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW. Raden Patah ketika naik tahta bergelar Senopati Jimbun Abdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Gelar ini kelak dikemudian hari dilestarikan oleh Panembahan Senopati, di jaman Mataram, turun temurun hingga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Upacara kenaikan tahta Raden Patah dipimpin oleh Kanjeng Sunan Ampel, anggota tertua Walisanga. Sunan Giri membacakan syahadat dilanjutkan dengan bacaan riwayat nabi. Upacara ini hingga sekarang masih dilestarikan oleh Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada saat Upacara Sekaten. Hari berikutnya diadakan Upacara Garebeg.

Setelah Raden Patah bertahta sebagai sultan di Demak Bintara, semua upacara peninggalan leluhur jaman Hindu Budda akan dihapus, dengan pertimbangan memeluk agama Islam haruslah kaffah. Namun karena ketika itu masyarakat yang memeluk agama Islam belum banyak, dan berbagai upacara peninggalan leluhur akan dihapus, maka banyak warga yang telah memeluk Islam menjadi kecewa, bahkan ada sebagian yang murtad, keluar dari agama Islam. Kebetulan, terjadi pageblug, mala musibah, sehingga warga yang telah memeluk agama Islam merasa semakin masgul, merasa bersalah terhadap leluhur, dengan anggapan bahwa terjadinya mala petaka pageblug karena berbagai upacara yang biasa dilakukan, tidak dijalankan bahkan dihapus atau dilarang. Untuk menengahi, maka para wali memberi kelonggaran, tetap menjalankan berbagai upacara tersebut, namun nuansanya dibuat lebih Islami.

Karena merupakan sebuah upacara besar, maka ada pendapat bahwa Upacara Sekaten mencontoh atau meneruskan jalannya upacara jaman Hindu Budda, dimana nuansa dan suasananya dibuat lebih Islami oleh para wali. Ada juga pendapat bahwa Sekaten mencontoh Upacara Srada jaman Majapahit. Juga ada pendapat lain, bahwa upacara ini mencontoh Upacara Rajamedha atau Rajawedha. Upacara Rajamedha, merupakan sebuah upacara ritual yang dipimpin langsung oleh raja, yang dianggap sebagai titisan dewa. Raja merupakan tokoh central, maka timbul gelar Dewaraja, sehingga dalam upacara tersebut terdapat pengkultusan individu. Sedangkan Upacara Sekaten lebih mengedepankan sedekah dari raja kepada rakyatnya, dan dalam Islam tidak ada atau tidak diperbolehkan pengkultusan individu.

 

ISTILAH SEKATEN

Ada beberapa pendapat tentang asal istilah Sekaten.

1.      Berasal dari kata Syahadatain, yang berarti percaya kepada dua hal yang benar yang termaktub dalam syahadat tauhid dan syahadat rasul. Hal ini dapat diterima logika.

2.      Berasal dari kata Sakhatain, yang berarti dermawan, berbudi pekerti luhur, serta mengabdi kepada Allah SWT. Hal ini juga dapat diterima logika.

3.      Berasal dari kata seseg ati, karena Fatimah (putri Nabi Muhammad SAW) ketika meninggalnya Sayidina Hasan dan Husen. Hal ini tidak kontekstual, karena Fatimah meninggal tidak lama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, sehingga tidak mengetahui kematian Sayidina Hasan dan Husen, pada jaman Khalifah Ali bin Abu Tholib.

4.      Berasal dari kata sekati, yang berarti bobot 1 kati = 1 dacin = 62,5 kg, karena ada anggapan bahwa bobot gong gamelan Sekaten seberat 1 kati. Hal ini juga tidak kontekstual, karena pembuatan gamelan adalah monolit sehingga tidak dapat ditaksir bobot akhir setelah gamelan jadi, selesai dikerjakan.

5.      Berasal dari kata suka ati, yang berarti senang hati karena diajak masuk agama Islam, agama yang suci.

6.      Berasal dari nama gamelan Kyai Sekati, namun pada kenyataannya gamelan Sekaten peninggalan jaman Sultan Agung, bernama Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, bukan Kyai Sekati.

Aneka pendapat tersebut banyak termuat dalam berbagai pustaka, oleh karena itu harus diteliti lebih lanjut, sehingga tidak semua pustaka dapat digunakan untuk acuan kebenaran. Dari berbagi pendapat diatas, kata Syahadatain dan Sakhatain, lebih dekat dengan Sekaten, dari sisi makna.

See more at: http://www.jogjatv.tv/berita/30/03/2012/sekaten-kraton-kasultanan-ngayogyakarta-hadiningrat-0#sthash.nJUbvYIZ.dpuf

 

 

GAMELAN SEKATEN

Gamelan Sekaten diciptakan pada jaman Kerajaan Demak, oleh Sunan Giri. Pada jaman tersebut, masyarakat masih suka dengan gamelan. Oleh karena itu, untuk mengumpulkan massa, Sunan Giri membuat gamelan dan dibunyikan di Mesjid Demak. Setelah massa berkumpul, para wali melakukan dakwah Islam. Dari dakwah tadi, warga masyarakat yang ingin memeluk agama Islam lalu mengucapkan syahadat. Dan setelah memeluk agama Islam, diperintahkan untuk berkhitan atau sunat. Maka hingga masa sekarang, warga masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di pedesaan, menyebut khitanan dengan istilah “Ngislamaken” atau mengIslamkan.

Gamelan Sekaten buatan jaman Demak, sekarang berada di Kraton Kasepuhan Cirebon. Ada dua pendapat tentang hal ini. Pendapat pertama, Gamelan Sekaten dibawa ke Cirebon, ketika boyongan pengantin putri ke 5 dari Raden Patah, Dewi Rarawulan, yang diperistri oleh salah seorang putra Sultan Cirebon. Dewi Rarawulan meminta hadiah kepada ayahandanya, berupa seperangkat Gamelan Sekaten sebagai sarana dakwah di Cirebon. Pendapat kedua menyebutkan bahwa Gamelan Sekaten dibawa ke Cirebon ketika era Sultan Trenggana, sultan terakhir Kasultanan Demak, karena putri beliau diambil menantu Sultan Cirebon.

Sedangkan Gamelan Sekaten yang ada sekarang, adalah peninggalan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja ketiga dinasti Mataram. Hal ini dikarenakan ketika jaman Panembahan Senopati dan Mas Jolang, raja pertama dan kedua dinasti Mataram, masih dalam suasana peperangan, karena daerah di sekitar Mataram tidak mengakui Mataram sebagai sebuah kerajaan. Mereka berpendapat bahwa Panembahan Senopati bukan keturunan raja, hanya keturunan petani biasa. Oleh karena itu pada jaman tersebut Mataram masih berada dalam suasana peperangan, menundukkan daerah sekitarnya, sebagai sebuah sarana legitimasi kekuasaan Kerajaan Mataram. –

Ketika jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, beliau ingin mengadakan perayaan Sekaten seperti era Kerajaan Demak, namun dibuat lebih meriah dan megah. Jika di jaman Demak, sedekah berupa tumpeng, maka di jaman Sultan Agung dibuatlah gunungan yang lebih besar daripada tumpeng. Sultan Agung juga membuat dua perangkat gamelan sekaten dengan ukuran besar, diberi nama Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Guntursari. Setelah pembuatan selesai, Gamelan Sekaten ini diberi tandha tahun pembuatan, candra sengkala memet “Rerenggan Wohwohan Tinata ing Wadhah”, yang menunjukkan angka tahun 1566 J. Tanda ini dipahatkan pada rancakan gamelan, yang hingga sekarang masih dapat dijumpai di rancakan balungan gamelan sekaten Kraton Surakarta.

Setelah Perjanjian Giyanti tentang Palihan Nagari tahun 1755, antara Pangeran Mangkubumi dan Susuhunan PB III, dua perangkat Gamelan Sekaten ini juga dibagi. Kanjeng Kyai Gunturmadu diboyong ke Ngayogyakarta, sedangkan Kanjeng Kyai Guntursari tetap berada di Surakarta.

Untuk melengkapi Gamelan Sekaten Kangjeng Kyai Gunturmadu ini, Sri Sultan Hamengkubuwana I memerintahkan membuat seperangkat Gamelan Sekaten baru, dengan ukuran lebih kecil dari Kanjeng Kyai Gunturmadu, karena Sri Sultan HB I tidak ingin menyamai hasil karya leluhurnya. Seperangkat Gamelan Sekaten yang baru ini kemudian diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga. Naga lambang kekuatan, Wilaga kemenangan abadi di medan perang. Nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dipilih sebagai pengingat kemenangan Pangeran Mangkubumi setelah peperangan selama 9 tahun. Kemenangan ini dicapai berkat bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, manunggaling kawula gusti. Di Kraton Ngayogyakarta juga terdapat perangkat gamelan bernama Kanjeng Kyai Guntursari, namun bukan Gamelan Sekaten. Perangkat gamelan ini biasanya digunakan untuk latihan menabuh gending gending Sekaten, dan juga untuk mengiringi Beksan Lawung. Titi laras gamelan Kanjeng Kyai Guntursari sangat rendah, mirip titi laras gamelan Sekaten.

Kasunanan Surakarta juga membuat gamelan sekaten baru, untuk mengimbangi gamelan Sekaten Kangjeng Kyai Guntursari. Ukuran gamelan sekaten baru ini lebih besar daripada gamelan sekaten Kangjeng Kyai Guntursari. Semula, gamelan baru ini diberi nama Kangjeng Kyai Nagajenggot, namun dikemudian hari diubah namanya sesuai dengan gamelan Sekaten Sultan Agungan yang berada di Kraton Ngayogyakarta, Kanjeng Kyai Gunturmadu. Gamelan Sekaten yang baru ini dibuat pada jaman Sri Susuhunan Pakubuwana IV.

Di Kraton Ngayogyakarta, setiap harinya gamelan Sekaten Kangjeng Kyai Gunturmadu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga disimpan di Bangsal Kasatriyan. Sedangkan di malam permulaan Upacara Sekaten, yaitu pada malam tanggal 6 Mulud, dua perangkat gamelan sekaten ini diboyong ke Penanggap Bangsal Pancaniti, komplek Kamandungan Lor, dan dibunyikan pertama kali di tempat tersebut. Pada tengah malam, dua perangkat gamelan sekaten diboyong ke Pagongan Mesjid Gedhe Kraton Ngayogyakarta. Pagongan adalah tempat khusus untuk menempatkan Gamelan Sekaten. Berada di plataran Mesjid Gedhe, sebelah selatan dan utara. Gamelan Kangjeng Kyai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul, sedangkan gamelan Kangjeng Kyai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan Lor. Jika dilihat dari dalam masjid, maka Pagongan Kidul berada di sisi kanan masjid, sedangkan Pagongan Lor di sisi kiri masjid. Hal ini sebagai wujud penghormatan kepada Sultan Agung, sehingga gamelan buatan era Sultan Agung, ditempatkan di sisi sebelah kanan.

Para niyaga atau petugas penabuh gamelan Sekaten adalah abdi dalem pengrawit Reh Kawedanan Hageng Kridhamardawa Kraton Ngayogyakarta. Gamelan Kanjeng Kyai Gunturmadu ditabuh oleh para pengrawit senior, sedangkan Kanjeng Kyai Nagawilaga ditabuh oleh para pengrawit yunior, sebagai wujud regenerasi.

Gamelan Sekaten ditabuh setiap hari, mulai dari malam tanggal 6 Mulud hingga malam tanggal 12 Mulud menurut penanggalan Jawa. Gamelan ini ditabuh dari pagi hingga malam, kecuali pada waktu waktu sholat wajib. Demikian juga pada hari Kamis, gamelan tidak ditabuh hingga selesai sholat Jum’at pada hari berikutnya. Setelah puncak Upacara Sekaten yaitu pengajian di Mesjid Gedhe, pada malam tanggal 12 Mulud, dua perangkat Gamelan Sekaten kembali diboyong masuk ke kraton, dan untuk sementara ditempatkan di Bangsal Kothak, sebelah timur Bangsal Kencana.

Ricikan Gamelan Sekaten, baik untuk Kangjeng Kyai Gunturmadu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, ialah :

1.      Bonang Barung 1 rancak lengkap dengan bonang pengapit titi laras barang (7) dan pelog (4).

2.      Demung 1 rancak.

3.      Saron 2 rancak

4.      Peking 1 rancak

5.      Kempyang 1 rancak, terdiri atas dua pencon titi laras barang (7) dan nem (6)

6.      Bendhe 1 rancak, terdiri dari dua pencon titi laras nem (6) dan gangsal (5)

7.      Gong ageng 2 buah

8.      Bedhug

GENDHING

Karena merupakan sarana untuk dakwah agama Islam, maka gendhingnya pun dengan nama berafaskan Islami. Gendhing gendhing Sekaten dibagi menjadi tiga, yaitu Gendhing Laras Pelog Pathet Lima, Pelog Pathet Nem dan Pelog Pathet Barang.

Gendhing Sekaten Laras Pelog Pathet Lima, ialah:

1.      Gendhing Rambu, berasal dari kata “Robbunaa” yang berarti “Allah Tuhanku”. Gendhing ini merupakan gendhing wajib yang harus dibunyikan ketika permulaan Upacara Sekaten.

2.      Gendhing Rangkung, berasal dari kata “Ra’aakum” yang berarti “Yang memeliharamu”.

3.      Gendhing Lung Gadhung

4.      Gendhing Andong Andong

5.      Gendhing Yaumi, yang berarti “hari”.

Gendhing Sekaten Laras Pelog Pathet Nem, yaitu:

1.      Gendhing Salatun, berasal dari kata “Shalat” yang berarti “berdoa” atau “menyembah kepada Allah SWT”.

2.      Gendhing Ngajatun, berasal dari kata “hajat” yang berarti kemauan.

3.      Gendhing Atur Atur.

4.      Gendhing Gliyung

5.      Gendhing Dhindhang Sabinah

6.      Gendhing Muru Putih

7.      Gendhing Orang Aring

8.      Gendhing Bayemtur

Gendhing Sekaten Laras Pelog Pathet Barang, yaitu :

1.      Gendhing Srundeng Gosong

2.      Gendhing Supiyatun, yang berarti kesucian hati.

Cuplikan dari tulisan karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT” dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.

See more at: http://www.jogjatv.tv/berita/30/03/2012/sekaten-kraton-kasultanan-ngayogyakarta-hadiningrat-0#sthash.nJUbvYIZ.dpuf

 

 

Upacara Sekaten

Sekaten merupakan sebuah upacara ritual yang diadakan oleh Kraton Kasultanan Ngayogyakarta, untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 12 Robiulawwal atau 12 Mulud menurut penanggalan Jawa. Sekaten dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

1.      Pasar Malam Perayaan Sekaten

2.      Upacara Sekaten

3.      Upacara Garebeg Sekaten

1. Pasar Malam Perayaan Sekaten

Pasar Malam Perayaan Sekaten semula tidak ada. Lalu diadakan sebagai sarana pesta rakyat, selama sebulan. Beberapa tahun yang lalu, untuk masuk arena pasar malam harus membeli karcis. Namun pada tahun 2012, karcis ini ditiadakan, sehingga warga masyarakat dapat masuk arena pasar malam dengan gratis. Karena merupakan pasar, dimana juga terjadi transaksi jual beli, maka pasar malam perayaan Sekaten mengandung nilai ekonomis.

2. Upacara Sekaten

Upacara Sekaten dimulai pada tanggal 5 Mulud malam, yaitu pertama kali membunyikan gamelan Sekaten Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, bertempat di Penanggap Bangsal Pancaniti, komplek Kamandhungan Lor Kraton Ngayogyakarta. Menjelang tengah malam, ada Utusan Dalem yang biasanya adalah adik Sultan datang untuk menyebar udhik-udhik, di tempat gamelan Sekaten dan juga kepada warga masyarakat yang hadir di kompleks Bangsal Pancaniti. Udhik udhik ini berisi beras kuning, bunga, dan uang receh, sebagai lambang sedekah Sultan kepada rakyatnya. Tengah malam, dua prangkat gamelan Sekaten dibawa dari Bangsal Pancaniti menuju Pagongan Mesjid Gedhe Kraton Kasultanan Ngayogyakarta, dan ditabuh selama seminggu.

Puncak Upacara Sekaten yaitu hadirnya Ngarsa Dalem ke Mesjid Gedhe Kraton Ngayogyakarta pada malam tanggal 12 Mulud, untuk mendengarkan bacaan risalah nabi. Ketika Ngarsa Dalem datang ke Mesjid Gedhe, terlebih dahulu menuju Pagongan Kidul, untuk menyebar udhik-udhik. Dilanjutkan menyebar udhik-udhik di Pagongan Lor dan didalam Mesjid Gedhe, sebelah timur mihrab tempat imam. Setelah menyebar udhik udhik, Ngarsa Dalem duduk di Serambi Mesjid Gedhe. Tempat duduk Sultan berupa kain putih, menghadap ke timur. Karena untuk duduk Ngarsa Dalem, maka Serambi Mesjid Gedhe penuh dengan hiasan sehinggal terkesan lebih mewah dari pada bangunan utama Mesjid Gedhe. Tiang Serambi Mesjid Gedhe, dihias dengan tatahan Sorotan, Praban, dan Putri Merong.

Setelah mengucapkan salam, dengan isyarat Ngarsa Dalem memerintahkan Abdi Dalem Pengulu agar membacakan risalah nabi. Risalah nabi ini berisi sejarah perkembangan Islam, mulai dari jaman Jahiliyah, kelahiran Nabi Muhammad SAW, menerima wahyu pertama, hijrah nabi menuju Yasrib, penaklukan Mekah hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ketika bacaan risalah nabi sampai pada bagian Srokal, Ngarsa Dalem mengenakan sumping bunga yang telah disiapkan, diikuti oleh para kerabat Sultan. Sumping dikenakan di atas telinga kanan. Setelah bacaam risalah nabi selesai, Ngarsa Dalem kembali ke kraton.

Upacara Sekaten berjiwa religius dan cultural.

3. Upacara Garebeg Sekaten

“Garebeg” beda arti dengan “Grebeg”. “Garebeg” berarti diiringi oleh rombongan banyak orang. Sedangkan “Grebeg” berarti digropyok. Upacara Garebeg yaitu upacara keluarnya Hajad Dalem Gunungan, sebagai lambang sedekah dari raja kepada rakyatnya. Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat setiap tahun mengadakan Upacara Garebeg sebanyak tiga kali, yaitu Garebeg Mulud atau Garebeg Sekaten, Garebeg Syawal, lan Garebeg Besar.

Untuk Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hajad Dalem Gunungan yang dikeluarkan ketika Garebeg Mulud atau Garebeg Sekaten ada 5 jenis, yaitu: Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Dharat, Gunungan Pawuhan, dan Gunungan Gepak.

Dan pada saat Tahun Dal, jenis gunungan bertambah satu, yaitu Gunungan Brama atau Gunungan Kutug

Tempat perakitan Hajad Dalem Gunungan adalah Panti Pareden, berada di komplek Kemagangan. Khusus untuk merakit Gunungan Putri, didahului Upacara Numplak Wajik, bertempat di Panti Pareden. Namun sekarang yang digunakan bukan lagi wajik, namun thiwul. Wajik atau thiwul ini untuk menancapkan bagian mustaka atau kepala Gunungan Putri. Upacara Numplak Wajik diiringi dengan Gejog Lesung oleh abdi dalem Reh Kawedanan Hageng Wahana Sarta Kriya, dengan membunyikan gending khusus, semisal Tundung Setan, sebagai sarana tolak bala.

Gunungan Kakung, Putri dan Gepak ditata dalam jodhang, sedangkan Gunungan Dharat dan Pawuhan berlandaskan dhompal kayu. Ketika Upacara Garebeg Mulud, Hajat Dalem Gunungan dibawa keluar dari kraton, melalui Sitihinggil, Pagelaran, Alun alun Utara. Di selatan Ringin Kurung belok ke barat menuju Mesjid Gedhe. Bertempat di halaman Mesjid Gedhe, setelah memanjatkan doa, gunungan diperebutkan kepada warga masyarakat. Pada tahun Dal, Gunungan Brama atau Gunungan Kutug yang dibawa ke plataran mesjid, dibawa kembali ke kraton untuk diperebutkan kepada kerabat kraton atau Sentana Dalem

Tahun Dal merupakan tahun khusus bagi masyarakat Jawa. Jika dihitung mundur menurut penanggalan Jawa, Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun Dal. Oleh karena itu, Upacara Sekaten tahun Dal diperingati dengan lebih meriah daripada Upacara Sekaten selain Tahun Dal.

Cuplikan dari tulisan karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT” dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.

See more at: http://www.jogjatv.tv/berita/30/03/2012/sekaten-kraton-kasultanan-ngayogyakarta-hadiningrat-0#sthash.nJUbvYIZ.dpuf

 

Hal-hal yang mengikuti Sekaten

 

KINANG

Ketika Sekaten, di sekitar Pagongan banyak dijumpai pedagang yang menjual kinang atau sirih, berupa racikan daun sirih, gambir, kapur dan tembakau. Hingga sekarang masih banyak warga masyarakat yang percaya bahwa nginang atau mengucah sirih seraya mendengarkan gamelan Sekaten, akan awet muda, karena mengunyah sirih dapat untuk menguatkan gigi.

Namun mengunyah sirih atau nginang dalam sekaten mengandung makna tersendiri. Ketika nginang, maka bibir akan berwarna merah. Untuk masyarakat Jawa, merah berarti berani. Namun ada juga pengertian lain bahwa warna merah melambangkan kesucian. Dari hal tersebut, nginang ketika Sekaten dapat berarti harus berani mengatakan hal-hal  yang benar, yang haq, yaitu mengucapkan syahadat, memeluk agama Islam sebagai agama suci.

ENDHOG ABANG

Endhog abang atau telur merah, dibuat dari telur bebek yang diwarnai merah. Warna kulit telur yang merah ini melambangkan nafsu amarah. Ketika kulit dikupas akan tampak warna putih lan kuning, lambang nafsu sufiah dan mutmainah. Maka setelah menghadiri Sekaten dengan mengucapkan Syahadat, harus dapat mengesampingkan nafsu amarah, menuju ke kesucian.

NASI GURIH

Jenis makanan yang disukai Nabi Muhammad SAW, yaitu makanan yang gurih. Di Tanah Arab, agar makanan berasa gurih, maka dimasak dengan menggunakan minyak Samin. Jamaah haji dari Pulau Jawa pada jaman dahulu meniru kebiasaan ini, dengan menanak nasi dicampur dengan minyak Samin, sehingga berasa gurih.

Ketika pulang dari haji, di Tanah Jawa tidak ada minyak Samin. Sehingga untuk memperoleh rasa gurih, minyak Samin ini diganti dengan santan kelapa. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran, bahwa teladan utama umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW.

PECUT

Pecut atau cemeti merupakan sarana untuk menghela hewan ternak. Bukan untuk menyakiti hewan ternak, namun untuk membangkitkan semangat hewan ternak seperti sapi dan kerbau, yang digunakan untuk bekerja di sawah. Berkaitan dengan Sekaten, pecut atau cemeti merupakan lambang agar manusia dapat mengendalikan nafsu hewani, untuk meniti jalan kebenaran.

Warga pedesaan ketika Sekaten membeli pecut atau cemeti, dan dilecutkan bersamaan dengan tembakan salvo atau drell, penghormatan keluarnya gunungan dari dalam kraton. Hal ini mungkin meneruskan atau meniru sejarah Pangeran Mangkubumi pada masa silam, ketika dimintai pertolongan rakyat yang persawahannya diserang hama menthek. Pangeran Mangkubumi memenuhi permintaan tersebut, dan mengusir hama menthek dengan menggunakan sarana pecut atau cemeti pusaka Kyai Pamuk, disertai dengan permohonan doa kepada Allah SWT.

Cuplikan dari tulisan karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT” dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.