#PUSTALIKA

 

Balapustaka Andalan sore ini melaksanakan kegiatan PUSTALIKA (Perpustakaan Keliling Kauman) di TPA AL-AMIEN yang berlokasi di Jalan Gowongan Kidul Yogyakarta. Setelah adik-adik TPA AL-AMIEN mengaji, mereka bebas membaca buku. Jika ada yang belum bisa membaca, Balapustaka siap membantu mereka.

#pustalika #mobilelibrary #perpustakaankelilingkauman #perpustakaanmasjidgedhekauman #cintabuku #cintailmu #cintaperpustakaan #literasi #bergerak

Ditulis oleh Nana Yuliana

Menjaga Niat Hijrah

1. Arti Hijrah
Hijrah dari kata هَجَرَ – يهجر Artinya : 1. pindah, meninggalkan negeri asal, berimigrasi; 2. meninggalkan, melarikan diri, melarikan diri dari tugas militer, desersi, melepaskan diri, meninggalkan, berhenti; 3. mendiamkan, tidak menyapa, tidak mengajak berbicara
Orang yang berhijrah harus punya bekal
Kalau orang pergi pergi ke suatu tempat tidak bawa bekal sama sekali, maka dia cenderung akan merepotkan orang lain. Bahkan tidak jarang orang nekat cari kerja di Jakarta misalnya, tidak punya bekal sama sekali, maka dia akan menjadi pengangguran dan mengemis di jalanan. Resiko lain orang hijrah tanpa bekal adalah berbalik arah, kembali ke kehidupan yang lama. Menyerah memang jauh lebih mudah*. Dia tidak mampu melawan bisikan syetan yang muncul dari berbagai arah, baik syetan berwujud jin dan manusia.
Maka dari itu, bekal utama orang hijrah ada 3,
  1. Keimanan, percaya setiap keputusan yang diambil akan menjadikan dirinya lebih baik.
  2. Ketaqwaan, taat kepada Al-qur’an dan sunnah serta bersikap hati-hati dan waspada dalam bertindak di mana kita selalu diawasi Allah Subhanahu wa ta’ala.
  3. Keilmuan, mampu mencari informasi dan mengoptimalkan potensi diri supaya menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, kuat, mandiri, ber agama dengan benar, berbuat yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi umat manusia.
Ada tiga jenis hijrah:
  1. Hijratul makan (cari tempat yang lebih baik)
  2. Hijratul fa’il (cari sahabat yang lebih baik)
  3. Hijratul ‘amal (cari prilaku yang lebih baik)
2. Hadiah bagi orang yang hijrah
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” -Sura An-Nisa’, Ayat 100

 
3. Bagaimana Cara Hijrah?
     a. Niat karena Allah dan Rasulullah
  • 1- وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى‏.‏ رضي الله عنه، قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏*”‏ إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‏”*‏ ‏(‏‏(‏متفق على صحته‏.‏ رواه إماما المحدثين‏:‏ أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‏)‏‏)‏‏.‏
  • _1. Dari Amirul mu’minin Abu Hafs iaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda [3] :
  • “Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehoinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.”(Muttafaq ‘alaih)_
  • Murnikan tujuan hijrah antum karena ingin dekat dengan Allah dan Rasulullah, bukan untuk dapat harta, benda, jabatan, popularitas, ingin dipuji, wanita atau kesenangan semu lainnya.
  • Bangunlah perasaan ingin sekali masuk surga, berjumpa dengan Rasulullah, ingin menatap wajah Allah, ingin mendapatkan kenikmatan abadi. Munculkan keinginan itu seperti hal nya antum sangat ingin sekali masuk ke sekolah/universitas/tempat kerja/bahkan tempat liburan favorit. Tentunya setiap keinginan kita pasti ada harganya.
     b. Hijrah dengan berjihad (berjuang sungguh-sungguh) 
  • تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
  • (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” -Surat As-Saf, Ayat 11
  • Jika sudah memutuskan untuk hijrah, ujian pasti ada. Kesiapan kita dalam harta dan jiwa pasti diperlukan. Antum ingin istiqamah shalat berjama’ah di Masjid maka harus rela mengorbankan waktu bermain antum.
  • Jika ingin kaya, usahanya sukses, pintar, ahli dalam suatu bidang harus jihad perbanyak shadaqah. Beranikan diri untuk bayar setiap harga yang mampu melejitkan potensi antum, yang bisa untuk meningkatkan hasanah hidup di dunia dan akhirat
     
     c. Hindari Riya
  • Ada beberapa orang yang menjadi  “korek api” nya neraka
    • Orang membaca Al Qur’an supaya disebut qori
    • Orang yang bershodaqoh karena ingin dikenal dermawan
    • Orang perang jihad fi Sabilillah karena ingin dianggap pahlawan
    • Orang berilmu supaya dikenal sebagai ‘alim
  • وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

    “Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria dan kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.” -Surat An-Nisa’, Ayat 38

  • Penyakit riya dalam hijrah itu adalah noda. Hati-hati dengan hal ini karena riya dekat dengan kesombongan. Kesombongan dekat dengan syirik.
 
     d. Beribadah dengan penuh keikhlasan
  • وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” -Sura Al-Bayyinah, Ayah 5

  • Ilmu ikhlas itu tidak mudah diterapkan, perlu ilmu lalu hafalkan lalu dipahami lalu diamalkan lalu konsisten menjaga amal lalu ikhlas lalu konsisten menjaga keikhlasan agar kita dijaga Allah dan selamat di dunia dan akhirat.
  • Zaman now ini banyak sekali fitnah dunia, baik di alam maya maupun realita. Tidak jarang banyak orsng terlihat baik, tapi terbukti seorang koruptor, pengedar narkoba, penyebar hoax, pezina, dan sebagainya.
  • Menjaga keikhlasan adalah ikhtiar kita dalam memenangkan fitrah hati nurani dalam taqwa di atas nafsu syahwat yang fujur
    e. Selalu berusaha dan berdoa
  • وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” -Sura Al-Baqarah, Ayah 186

  • Sesungguhnya Allah itu dekat dengan hamba-Nya. Carilah saat-saat doa itu mustajab, termasuk cari kesempatan supaya kita di doakan Malaikat, dijaga Allah, dimudahkan segala urusan kita dan dilapangkan dada menghadapi hal yang tidak diinginkan.
Wallahu a’lamu bishowab.

Disusun oleh:
Ridwan Wicaksono S.T., M.Eng.
Wakil Ketua Mualaf Center Yogyakarta

Hal Yang Penting Di Bulan Ramadhan

Kita semua diberi kenikmatan bisa mengikuti bulan puasa kembali yang penuh pengampunan, hidayah, dan barokah. Puasa adalah hari untuk orang yang bertakwa, artinya mari kita melaksanakan puasa yang tinggal 22 hari ini, senikmat sekhusyu mungkin. Supaya benar-benar kita menjadi orang-orang bertakwa. Tiga hal yang sangat penting yang perlu kita amati:

  1. Kontrak langsung manusia dengan Tuhannya. Maksudnya puasa diketahui oleh yang berpuasa dan Allah yang tahu. Artinya puasa itu mendidik kejujuran yang hakiki, jujur yang betul takut pada Allah. Itulah kejujuran didikan bulan puasa ini.
  2. Bulan puasa adalah bulan Tarkiyah (Bulan pendidikan)

Tetapi bukan sekedar pendidikan. Disini dimaksudkan pendidikan rohani, spiritual.

  1. Puasa mendidik kita untuk sabar, peduli orang lain, tidak marah, pemaaf itu sangat penting

Kita ini memiliki 3 masalah besar yang tercantum di 3 hal terpenting tadi. Kalau kita bisa mengatasi masalah ini, insya Allah bangsa kita ini, bisa menjadi yang makmur, serba enak. Kalau tidak berhasil mengembangkan hal itu, berarti negara kita akan menjadi negara felmisen/ gagal (negara dari tahun ke tahun semakin miskin).

Oleh karena itulah, saya ingin mengangkat 3 hal ini.

  1. Kejujuran
  2. Pendidikan rohani spiritual
  3. Kesabaran dan kebersamaan

 

3 masalah besar di negeri ini:

  1. Kemiskinan

Dengan harga bensin naik, kemiskinan bertambah. Dengan pembangunan kita, menghilangkan kemiskinan, tetapi kita memiliki kekurangan. Yaitu kejujuran, padahal kejujuran adalah hal yang sangat penting. Maka kita harus membangun kejujuran yang hakiki.

  1. Kebodohan

Negara kita itu di wilayah Asia, masih kalah dengan Vietnam. Karena kita tidak jelas arahnya. Bagaimana caranya kita keluar dari kebodohan? Kita perlu pendidikan rohani spiritual, yang sudah mendirikan pendidikan rohani antara lain, Jepang, Singapura, Malaysia dan China. Oleh karena itu, di bulan puasa ini, kita gunakan untuk membimbing rohani kita.

  1. Pertikaian / Kekerasan

Pada saat ini, pertikaian sudah macam-macam bentuknya, hingga memakan korban yang banyak. Mereka mati sia-sia. Mengapa bisa begitu? Untuk mengatasi pertikaian itu, yaitu dengan dasar konsep dalam pandangan islam, kita harus sabar, pemaaf, dan kebersamaan. Muncullah dialoh (musyawarah). Hindari kekerasan, budayakan musyawarah itu ada batasnya.

Perbedaan Dalam Mengakses Hadist

Seorang Ulama abad pertengahan, Imam Ibnu Rush menulis 1 kitab yang menjadi master piece yang sampai sekarang masih banyak dibaca oleh orang yaitu kitab kita Yaitul Mujtahid. Dalam kitab ini, Ibnu Rush menuliskan berbagai macam fiqih perbandingan yang diamalkan oleh berbagai aliran yang ada di dunia islam. Ibnu Rush juga menyertakan dalil-dalil argumrntasi yang mendasari para ulama dalam mengamalkan amaliyah-amaliyah tersebut. Diantara berbagai macam perbedaan yang timbul dari berbagai aliran, mayoritas perbedaan itu bersumber pada hadist. Sehingga karenanya hadist menjadi dasar sekitar 90% lebih, yang memberikan andil kontribusi bagi perbedaan amaliyah di kalangan umat muslim.

Ada 6 macam perbedaan ketika mengakses hadist yang kemudian menimbulkan perbedaan dalam amaliyah:

  1. Perbedaan karena terjadi tanwi’ pada masa nabi

Pada masa nabi, nabi pernah mengamalkan amaliyah yang berbeda untuk satu hal tertentu. Misalnya, bacaan basmallah di sholat yang mestinya jahar, apakah dibaca secara jahar ataukah dibaca secara tsir. Ada beberapa hadist, ternyata yang menyatakan nabi pernah membaca secara jahar, hadistnya shahih. Dan yang menerangkan nabi membaca secara tsir (perlahan) juga shahih. Nabi memang pernah mengamalkannya secara berbeda dalam waktu yang berbeda pula. Untuk hadist yang seperti ini, tentu kita semua harus memahami bahwa keduanya bersumber dari nabi Muhammad saw.

  1. Perbedaan di dalam memahami hadist

Hadist yang sama, bisa menjadi berbeda dikarenakan perbedaan pemahaman bahasa. Misalnya yang berkaitan dengan ibadah, yaitu berkaitan dengan posisi berdiri setelah ruku’. Ada 2 perbedaan, “faqarin”, yang dalam kamus diartikan “ruas tulang belakang”, dan yang kedua “semua ruas tulang”. Perbedaan yang kedua “makanahu” artinya “ke posisinya”. Sehingga menimbulkan perbedaan, Apakah posisinya sebelum rukuk atau posisi sesungguhnya dari ruas tulang tersebut.

  1. Perbedaan disebabkan tidak meratanya penyebaran hadist

Ketika nabi wafat, hadist itu belum dibukukan. Bahkan pemahaman hadist yang dimiliki para sahabat berbeda-beda. Karena bisa jadi hadist itu disabdakan oleh nabi di hadapan jamaah yang jumlahnya banyak, tetapi bisa jadi hanya diucapkan didepan satu dua orang sahabat. Maka, pemahaman hadist antara sahabat satu dengan lainnya berbeda-beda.

  1. Perbedaan yang dilakukan karena terjadi perbedaan di dalam menyelesaikan 2 hadist atau lebih yang bertentangan

Misalnya: hadist “bahwasanya Rasulullah saw melaknat perempuan-perempuan yang melakukan ziarah kubur”. Tapi, pada hadist yang lain “aku pernah melarang kamu sekalian melakukan ziarah kubur, maka sekarang lakukanlah ziarah”. Sebagian berpendapat hadist yang memerintahkan untuk melakukan ziarah kubur setelah sebelumnya dilarang, itu hanya berlaku untuk laki-laki. Tapi, sebagian yang lain berpendapat tidak, karena hadistnya berlaku umum (untuk laki-laki dan perempuan).

  1. Perbedaan karena berbeda di dalam menentukan kualitas hadist

Menentukan kualitas hadist adalah sesuatu yang istihadi. Ketika menilai suatu hadist, tentu akan menilai siapa rawinya (yang mengatakannya). Berarti penilaian terhadap orang. Mayoritas rawi hadist sudah disepakati kredibilitasnya. Tetapi, ada sedikit yang diperdebatkan kualitasnya. Sebagaimana kita menilai ulama pada saat ini, tentu sebagian akan mengatakan dia orang baik, sebagian lagi akan mengatakan dia tidak baik.

  1. Perbedaan karena manhaj / Metodologi / Keberterimaan terhadap hadist

Dengan mengkaji hadist, kemudian berusaha menyelesaikan dengan bersungguh-sungguh, dengan mengerahkan segala daya upaya, maka 90% perbedaan di kalangan umat bisa dicarikan jalan keluarnya dengan tetap berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah, bukan berpedoman pada toleransi.

Apa Yang Harus kita Kerjakan Setelah Memasuki Bulan Syawal

Hadirin, yang akan saya sampaikan adalah mengenai “Apa yang harus kita kerjakan setelah memasuki bulan syawal”.

Sebelum masuk bulan syawal, kita menempa diri kita dengan berpuasa ramadhan. Setelah itu, kita akan kembali pada fitrahnya atau kembali kepada keaslian kita yang itu memang dirancang oleh Allah SWT sebagai sang pencipta. Sebelum kita sampai pada bulan syawal, marilah kita merenungi kembali bulan suci ramadhan itu. Sesungguhnya kita dididik oleh agama islam, paling tidak untuk menyeimbangkan bahwa diri kita ini makhluk ciptaan Allah SWT yang punya unsur jiwa dan raga, unsur lahiriah batiniah. Ada unsur rasa, karsa, dan cipta, ada unsur spiritual dan material itu unsur manusia yang utuh. Penting sekali kita mengetahui beberapa ayat untuk mensucikan jiwa yang bisa disimpulkan bahwa jangan sampai seorang muslim atau mukmin itu mengalami sakit jiwa. Maka sesungguhnya jika sudah dinasehati oleh agama, atau hadist diantaranya surah As-Shan ayat 9 dan 10.

Siapakah orang-orang yang mensucikan jiwanya itu? Yang mensucikan jiwanya itu ialah orang yang menyadari bahwa dirinya itu ada unsur jiwa, jiwanya itu harus diberi konsumsi untuk kebutuhan jiwa, setidaknya seimbang dengan kebutuhan raga, karena sekarang ini godaan sangat luar biasa. Dalam rangka menyiapkan itu, tentu tidak hanya berpuasa dalam bulan suci ramadhan. Mari kita kembangkan pengertian puasa lebih luas lagi, puasa sebagai yang mahdoh memang di bulan suci ramadhan, tapi di luar itu ada puasa sunnah, puasa nabi daud, dan ada puasa lain-lain sebagainya dalam tanggal tertentu. Namun ketika banyak godaan, mari kita kembali pada mensucikan jiwa. Puasa itu bahwa puasa politik, puasa politik ialah menahan diri ketika seseorang mempunyai kekuasaan dengan kaitannya kepentingan rakyat. Puasa politik ini terutama dilakukan oleh kepada mereka yang diamanahi untuk mengurusi rakyat ini, untuk berhati-hati karena kalau tidak, orang yang terbiasa melanggar amanah itu, tidak melanggar gatal tangannya. Karena tidak amanah, jika amanah mereka akan menolak apa yang bukan haknya. Sesungguhnya pejabat kita masih banyak yang jujur, tetapi masih banyak juga yang tidak jujur.

Tetapi hal yang penting adalah bagaimana kita sebagai orang tua mendidik anak kita, jangan sampai masuk ke dalam kemasyarakatan, dia hanya egois mengurus dirinya sendiri. Jadi ketika dokter bilang bahwa pasien itu sakit jiwa agaknya memang benar. Mari kami mengajak bahwa puasa ini kita sempurnakan usaha iktikaf 10 hari yang terakhir, kemudian setelah puasa pada akhirnya kita akan kembali pada Allah SWT. Oleh karena itu, Allah mengingatkan dalan surat Al-jahiliyah ayat 15

Orang yang beramal sholeh itu amalnya akan kembali pada dirinya, begitu pula dengan sebaliknya. Maka marilah kita optimis bahwa yang mengkhianati amanah itu banyak, tetapi jumlah orang yang tidak mengkhianati lebih banyak. Yang terpenting bagaimana kita menjaga diri kita sebagaimana surat At-Tahrim ayat 6.

Mudah-mudahan Allah SWT memperkuat amal kita dan kita ikhlas dalam berislam ini. Semua yang beramal sholeh itu kita senang, dijadikan islam itu agama supaya bisa dinikmati oleh penganutnya. Mudah-mudahan kita dihindari dari kemungkaran-kemungkaran, dan didekati oleh kesholehan.