Sejarah Sekaten

Kata Sekaten, kata yang sangat familiar dai Jogja. Hampir semua orang jogja pasti pernah menyaksikan dan berkunjung di arena “Sekaten”. Tapi diantara sekian banyak masyarakat Jogja ternyata hanya sedikit yang mengetahui apa dan bagaimana sekaten serta sejarah dilaksanakannya upacara Sekaten. Berikuta akan saya sampaikan hal-hal yang berhubungan dengan Sekaten.

Tulisan ini karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT”

dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.

Tulisan tersebut akan saya unggah dalam beberapa judul yang sesuai dengan tulisan aslinya

Sejarah

Upacara Sekaten dimulai pada jaman Kasultanan Demak Bintara. Yaitu ketika Sultan Syah Alam Akbar I atau Raden Patah naik tahta sebagai Sultan Demak. Kenaikan tahta Raden Patah bertepatan tanggal 12 Robiulawwal tahun 1501 M. Tanggal 12 Robiulawwal merupakan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW. Raden Patah ketika naik tahta bergelar Senopati Jimbun Abdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Gelar ini kelak dikemudian hari dilestarikan oleh Panembahan Senopati, di jaman Mataram, turun temurun hingga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Upacara kenaikan tahta Raden Patah dipimpin oleh Kanjeng Sunan Ampel, anggota tertua Walisanga. Sunan Giri membacakan syahadat dilanjutkan dengan bacaan riwayat nabi. Upacara ini hingga sekarang masih dilestarikan oleh Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada saat Upacara Sekaten. Hari berikutnya diadakan Upacara Garebeg.

Setelah Raden Patah bertahta sebagai sultan di Demak Bintara, semua upacara peninggalan leluhur jaman Hindu Budda akan dihapus, dengan pertimbangan memeluk agama Islam haruslah kaffah. Namun karena ketika itu masyarakat yang memeluk agama Islam belum banyak, dan berbagai upacara peninggalan leluhur akan dihapus, maka banyak warga yang telah memeluk Islam menjadi kecewa, bahkan ada sebagian yang murtad, keluar dari agama Islam. Kebetulan, terjadi pageblug, mala musibah, sehingga warga yang telah memeluk agama Islam merasa semakin masgul, merasa bersalah terhadap leluhur, dengan anggapan bahwa terjadinya mala petaka pageblug karena berbagai upacara yang biasa dilakukan, tidak dijalankan bahkan dihapus atau dilarang. Untuk menengahi, maka para wali memberi kelonggaran, tetap menjalankan berbagai upacara tersebut, namun nuansanya dibuat lebih Islami.

Karena merupakan sebuah upacara besar, maka ada pendapat bahwa Upacara Sekaten mencontoh atau meneruskan jalannya upacara jaman Hindu Budda, dimana nuansa dan suasananya dibuat lebih Islami oleh para wali. Ada juga pendapat bahwa Sekaten mencontoh Upacara Srada jaman Majapahit. Juga ada pendapat lain, bahwa upacara ini mencontoh Upacara Rajamedha atau Rajawedha. Upacara Rajamedha, merupakan sebuah upacara ritual yang dipimpin langsung oleh raja, yang dianggap sebagai titisan dewa. Raja merupakan tokoh central, maka timbul gelar Dewaraja, sehingga dalam upacara tersebut terdapat pengkultusan individu. Sedangkan Upacara Sekaten lebih mengedepankan sedekah dari raja kepada rakyatnya, dan dalam Islam tidak ada atau tidak diperbolehkan pengkultusan individu.

 

ISTILAH SEKATEN

Ada beberapa pendapat tentang asal istilah Sekaten.

1.      Berasal dari kata Syahadatain, yang berarti percaya kepada dua hal yang benar yang termaktub dalam syahadat tauhid dan syahadat rasul. Hal ini dapat diterima logika.

2.      Berasal dari kata Sakhatain, yang berarti dermawan, berbudi pekerti luhur, serta mengabdi kepada Allah SWT. Hal ini juga dapat diterima logika.

3.      Berasal dari kata seseg ati, karena Fatimah (putri Nabi Muhammad SAW) ketika meninggalnya Sayidina Hasan dan Husen. Hal ini tidak kontekstual, karena Fatimah meninggal tidak lama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, sehingga tidak mengetahui kematian Sayidina Hasan dan Husen, pada jaman Khalifah Ali bin Abu Tholib.

4.      Berasal dari kata sekati, yang berarti bobot 1 kati = 1 dacin = 62,5 kg, karena ada anggapan bahwa bobot gong gamelan Sekaten seberat 1 kati. Hal ini juga tidak kontekstual, karena pembuatan gamelan adalah monolit sehingga tidak dapat ditaksir bobot akhir setelah gamelan jadi, selesai dikerjakan.

5.      Berasal dari kata suka ati, yang berarti senang hati karena diajak masuk agama Islam, agama yang suci.

6.      Berasal dari nama gamelan Kyai Sekati, namun pada kenyataannya gamelan Sekaten peninggalan jaman Sultan Agung, bernama Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, bukan Kyai Sekati.

Aneka pendapat tersebut banyak termuat dalam berbagai pustaka, oleh karena itu harus diteliti lebih lanjut, sehingga tidak semua pustaka dapat digunakan untuk acuan kebenaran. Dari berbagi pendapat diatas, kata Syahadatain dan Sakhatain, lebih dekat dengan Sekaten, dari sisi makna.

See more at: http://www.jogjatv.tv/berita/30/03/2012/sekaten-kraton-kasultanan-ngayogyakarta-hadiningrat-0#sthash.nJUbvYIZ.dpuf

 

 

GAMELAN SEKATEN

Gamelan Sekaten diciptakan pada jaman Kerajaan Demak, oleh Sunan Giri. Pada jaman tersebut, masyarakat masih suka dengan gamelan. Oleh karena itu, untuk mengumpulkan massa, Sunan Giri membuat gamelan dan dibunyikan di Mesjid Demak. Setelah massa berkumpul, para wali melakukan dakwah Islam. Dari dakwah tadi, warga masyarakat yang ingin memeluk agama Islam lalu mengucapkan syahadat. Dan setelah memeluk agama Islam, diperintahkan untuk berkhitan atau sunat. Maka hingga masa sekarang, warga masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di pedesaan, menyebut khitanan dengan istilah “Ngislamaken” atau mengIslamkan.

Gamelan Sekaten buatan jaman Demak, sekarang berada di Kraton Kasepuhan Cirebon. Ada dua pendapat tentang hal ini. Pendapat pertama, Gamelan Sekaten dibawa ke Cirebon, ketika boyongan pengantin putri ke 5 dari Raden Patah, Dewi Rarawulan, yang diperistri oleh salah seorang putra Sultan Cirebon. Dewi Rarawulan meminta hadiah kepada ayahandanya, berupa seperangkat Gamelan Sekaten sebagai sarana dakwah di Cirebon. Pendapat kedua menyebutkan bahwa Gamelan Sekaten dibawa ke Cirebon ketika era Sultan Trenggana, sultan terakhir Kasultanan Demak, karena putri beliau diambil menantu Sultan Cirebon.

Sedangkan Gamelan Sekaten yang ada sekarang, adalah peninggalan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja ketiga dinasti Mataram. Hal ini dikarenakan ketika jaman Panembahan Senopati dan Mas Jolang, raja pertama dan kedua dinasti Mataram, masih dalam suasana peperangan, karena daerah di sekitar Mataram tidak mengakui Mataram sebagai sebuah kerajaan. Mereka berpendapat bahwa Panembahan Senopati bukan keturunan raja, hanya keturunan petani biasa. Oleh karena itu pada jaman tersebut Mataram masih berada dalam suasana peperangan, menundukkan daerah sekitarnya, sebagai sebuah sarana legitimasi kekuasaan Kerajaan Mataram. –

Ketika jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, beliau ingin mengadakan perayaan Sekaten seperti era Kerajaan Demak, namun dibuat lebih meriah dan megah. Jika di jaman Demak, sedekah berupa tumpeng, maka di jaman Sultan Agung dibuatlah gunungan yang lebih besar daripada tumpeng. Sultan Agung juga membuat dua perangkat gamelan sekaten dengan ukuran besar, diberi nama Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Guntursari. Setelah pembuatan selesai, Gamelan Sekaten ini diberi tandha tahun pembuatan, candra sengkala memet “Rerenggan Wohwohan Tinata ing Wadhah”, yang menunjukkan angka tahun 1566 J. Tanda ini dipahatkan pada rancakan gamelan, yang hingga sekarang masih dapat dijumpai di rancakan balungan gamelan sekaten Kraton Surakarta.

Setelah Perjanjian Giyanti tentang Palihan Nagari tahun 1755, antara Pangeran Mangkubumi dan Susuhunan PB III, dua perangkat Gamelan Sekaten ini juga dibagi. Kanjeng Kyai Gunturmadu diboyong ke Ngayogyakarta, sedangkan Kanjeng Kyai Guntursari tetap berada di Surakarta.

Untuk melengkapi Gamelan Sekaten Kangjeng Kyai Gunturmadu ini, Sri Sultan Hamengkubuwana I memerintahkan membuat seperangkat Gamelan Sekaten baru, dengan ukuran lebih kecil dari Kanjeng Kyai Gunturmadu, karena Sri Sultan HB I tidak ingin menyamai hasil karya leluhurnya. Seperangkat Gamelan Sekaten yang baru ini kemudian diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga. Naga lambang kekuatan, Wilaga kemenangan abadi di medan perang. Nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dipilih sebagai pengingat kemenangan Pangeran Mangkubumi setelah peperangan selama 9 tahun. Kemenangan ini dicapai berkat bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, manunggaling kawula gusti. Di Kraton Ngayogyakarta juga terdapat perangkat gamelan bernama Kanjeng Kyai Guntursari, namun bukan Gamelan Sekaten. Perangkat gamelan ini biasanya digunakan untuk latihan menabuh gending gending Sekaten, dan juga untuk mengiringi Beksan Lawung. Titi laras gamelan Kanjeng Kyai Guntursari sangat rendah, mirip titi laras gamelan Sekaten.

Kasunanan Surakarta juga membuat gamelan sekaten baru, untuk mengimbangi gamelan Sekaten Kangjeng Kyai Guntursari. Ukuran gamelan sekaten baru ini lebih besar daripada gamelan sekaten Kangjeng Kyai Guntursari. Semula, gamelan baru ini diberi nama Kangjeng Kyai Nagajenggot, namun dikemudian hari diubah namanya sesuai dengan gamelan Sekaten Sultan Agungan yang berada di Kraton Ngayogyakarta, Kanjeng Kyai Gunturmadu. Gamelan Sekaten yang baru ini dibuat pada jaman Sri Susuhunan Pakubuwana IV.

Di Kraton Ngayogyakarta, setiap harinya gamelan Sekaten Kangjeng Kyai Gunturmadu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga disimpan di Bangsal Kasatriyan. Sedangkan di malam permulaan Upacara Sekaten, yaitu pada malam tanggal 6 Mulud, dua perangkat gamelan sekaten ini diboyong ke Penanggap Bangsal Pancaniti, komplek Kamandungan Lor, dan dibunyikan pertama kali di tempat tersebut. Pada tengah malam, dua perangkat gamelan sekaten diboyong ke Pagongan Mesjid Gedhe Kraton Ngayogyakarta. Pagongan adalah tempat khusus untuk menempatkan Gamelan Sekaten. Berada di plataran Mesjid Gedhe, sebelah selatan dan utara. Gamelan Kangjeng Kyai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul, sedangkan gamelan Kangjeng Kyai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan Lor. Jika dilihat dari dalam masjid, maka Pagongan Kidul berada di sisi kanan masjid, sedangkan Pagongan Lor di sisi kiri masjid. Hal ini sebagai wujud penghormatan kepada Sultan Agung, sehingga gamelan buatan era Sultan Agung, ditempatkan di sisi sebelah kanan.

Para niyaga atau petugas penabuh gamelan Sekaten adalah abdi dalem pengrawit Reh Kawedanan Hageng Kridhamardawa Kraton Ngayogyakarta. Gamelan Kanjeng Kyai Gunturmadu ditabuh oleh para pengrawit senior, sedangkan Kanjeng Kyai Nagawilaga ditabuh oleh para pengrawit yunior, sebagai wujud regenerasi.

Gamelan Sekaten ditabuh setiap hari, mulai dari malam tanggal 6 Mulud hingga malam tanggal 12 Mulud menurut penanggalan Jawa. Gamelan ini ditabuh dari pagi hingga malam, kecuali pada waktu waktu sholat wajib. Demikian juga pada hari Kamis, gamelan tidak ditabuh hingga selesai sholat Jum’at pada hari berikutnya. Setelah puncak Upacara Sekaten yaitu pengajian di Mesjid Gedhe, pada malam tanggal 12 Mulud, dua perangkat Gamelan Sekaten kembali diboyong masuk ke kraton, dan untuk sementara ditempatkan di Bangsal Kothak, sebelah timur Bangsal Kencana.

Ricikan Gamelan Sekaten, baik untuk Kangjeng Kyai Gunturmadu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, ialah :

1.      Bonang Barung 1 rancak lengkap dengan bonang pengapit titi laras barang (7) dan pelog (4).

2.      Demung 1 rancak.

3.      Saron 2 rancak

4.      Peking 1 rancak

5.      Kempyang 1 rancak, terdiri atas dua pencon titi laras barang (7) dan nem (6)

6.      Bendhe 1 rancak, terdiri dari dua pencon titi laras nem (6) dan gangsal (5)

7.      Gong ageng 2 buah

8.      Bedhug

GENDHING

Karena merupakan sarana untuk dakwah agama Islam, maka gendhingnya pun dengan nama berafaskan Islami. Gendhing gendhing Sekaten dibagi menjadi tiga, yaitu Gendhing Laras Pelog Pathet Lima, Pelog Pathet Nem dan Pelog Pathet Barang.

Gendhing Sekaten Laras Pelog Pathet Lima, ialah:

1.      Gendhing Rambu, berasal dari kata “Robbunaa” yang berarti “Allah Tuhanku”. Gendhing ini merupakan gendhing wajib yang harus dibunyikan ketika permulaan Upacara Sekaten.

2.      Gendhing Rangkung, berasal dari kata “Ra’aakum” yang berarti “Yang memeliharamu”.

3.      Gendhing Lung Gadhung

4.      Gendhing Andong Andong

5.      Gendhing Yaumi, yang berarti “hari”.

Gendhing Sekaten Laras Pelog Pathet Nem, yaitu:

1.      Gendhing Salatun, berasal dari kata “Shalat” yang berarti “berdoa” atau “menyembah kepada Allah SWT”.

2.      Gendhing Ngajatun, berasal dari kata “hajat” yang berarti kemauan.

3.      Gendhing Atur Atur.

4.      Gendhing Gliyung

5.      Gendhing Dhindhang Sabinah

6.      Gendhing Muru Putih

7.      Gendhing Orang Aring

8.      Gendhing Bayemtur

Gendhing Sekaten Laras Pelog Pathet Barang, yaitu :

1.      Gendhing Srundeng Gosong

2.      Gendhing Supiyatun, yang berarti kesucian hati.

Cuplikan dari tulisan karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT” dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.

See more at: http://www.jogjatv.tv/berita/30/03/2012/sekaten-kraton-kasultanan-ngayogyakarta-hadiningrat-0#sthash.nJUbvYIZ.dpuf

 

 

Upacara Sekaten

Sekaten merupakan sebuah upacara ritual yang diadakan oleh Kraton Kasultanan Ngayogyakarta, untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 12 Robiulawwal atau 12 Mulud menurut penanggalan Jawa. Sekaten dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

1.      Pasar Malam Perayaan Sekaten

2.      Upacara Sekaten

3.      Upacara Garebeg Sekaten

1. Pasar Malam Perayaan Sekaten

Pasar Malam Perayaan Sekaten semula tidak ada. Lalu diadakan sebagai sarana pesta rakyat, selama sebulan. Beberapa tahun yang lalu, untuk masuk arena pasar malam harus membeli karcis. Namun pada tahun 2012, karcis ini ditiadakan, sehingga warga masyarakat dapat masuk arena pasar malam dengan gratis. Karena merupakan pasar, dimana juga terjadi transaksi jual beli, maka pasar malam perayaan Sekaten mengandung nilai ekonomis.

2. Upacara Sekaten

Upacara Sekaten dimulai pada tanggal 5 Mulud malam, yaitu pertama kali membunyikan gamelan Sekaten Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, bertempat di Penanggap Bangsal Pancaniti, komplek Kamandhungan Lor Kraton Ngayogyakarta. Menjelang tengah malam, ada Utusan Dalem yang biasanya adalah adik Sultan datang untuk menyebar udhik-udhik, di tempat gamelan Sekaten dan juga kepada warga masyarakat yang hadir di kompleks Bangsal Pancaniti. Udhik udhik ini berisi beras kuning, bunga, dan uang receh, sebagai lambang sedekah Sultan kepada rakyatnya. Tengah malam, dua prangkat gamelan Sekaten dibawa dari Bangsal Pancaniti menuju Pagongan Mesjid Gedhe Kraton Kasultanan Ngayogyakarta, dan ditabuh selama seminggu.

Puncak Upacara Sekaten yaitu hadirnya Ngarsa Dalem ke Mesjid Gedhe Kraton Ngayogyakarta pada malam tanggal 12 Mulud, untuk mendengarkan bacaan risalah nabi. Ketika Ngarsa Dalem datang ke Mesjid Gedhe, terlebih dahulu menuju Pagongan Kidul, untuk menyebar udhik-udhik. Dilanjutkan menyebar udhik-udhik di Pagongan Lor dan didalam Mesjid Gedhe, sebelah timur mihrab tempat imam. Setelah menyebar udhik udhik, Ngarsa Dalem duduk di Serambi Mesjid Gedhe. Tempat duduk Sultan berupa kain putih, menghadap ke timur. Karena untuk duduk Ngarsa Dalem, maka Serambi Mesjid Gedhe penuh dengan hiasan sehinggal terkesan lebih mewah dari pada bangunan utama Mesjid Gedhe. Tiang Serambi Mesjid Gedhe, dihias dengan tatahan Sorotan, Praban, dan Putri Merong.

Setelah mengucapkan salam, dengan isyarat Ngarsa Dalem memerintahkan Abdi Dalem Pengulu agar membacakan risalah nabi. Risalah nabi ini berisi sejarah perkembangan Islam, mulai dari jaman Jahiliyah, kelahiran Nabi Muhammad SAW, menerima wahyu pertama, hijrah nabi menuju Yasrib, penaklukan Mekah hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ketika bacaan risalah nabi sampai pada bagian Srokal, Ngarsa Dalem mengenakan sumping bunga yang telah disiapkan, diikuti oleh para kerabat Sultan. Sumping dikenakan di atas telinga kanan. Setelah bacaam risalah nabi selesai, Ngarsa Dalem kembali ke kraton.

Upacara Sekaten berjiwa religius dan cultural.

3. Upacara Garebeg Sekaten

“Garebeg” beda arti dengan “Grebeg”. “Garebeg” berarti diiringi oleh rombongan banyak orang. Sedangkan “Grebeg” berarti digropyok. Upacara Garebeg yaitu upacara keluarnya Hajad Dalem Gunungan, sebagai lambang sedekah dari raja kepada rakyatnya. Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat setiap tahun mengadakan Upacara Garebeg sebanyak tiga kali, yaitu Garebeg Mulud atau Garebeg Sekaten, Garebeg Syawal, lan Garebeg Besar.

Untuk Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hajad Dalem Gunungan yang dikeluarkan ketika Garebeg Mulud atau Garebeg Sekaten ada 5 jenis, yaitu: Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Dharat, Gunungan Pawuhan, dan Gunungan Gepak.

Dan pada saat Tahun Dal, jenis gunungan bertambah satu, yaitu Gunungan Brama atau Gunungan Kutug

Tempat perakitan Hajad Dalem Gunungan adalah Panti Pareden, berada di komplek Kemagangan. Khusus untuk merakit Gunungan Putri, didahului Upacara Numplak Wajik, bertempat di Panti Pareden. Namun sekarang yang digunakan bukan lagi wajik, namun thiwul. Wajik atau thiwul ini untuk menancapkan bagian mustaka atau kepala Gunungan Putri. Upacara Numplak Wajik diiringi dengan Gejog Lesung oleh abdi dalem Reh Kawedanan Hageng Wahana Sarta Kriya, dengan membunyikan gending khusus, semisal Tundung Setan, sebagai sarana tolak bala.

Gunungan Kakung, Putri dan Gepak ditata dalam jodhang, sedangkan Gunungan Dharat dan Pawuhan berlandaskan dhompal kayu. Ketika Upacara Garebeg Mulud, Hajat Dalem Gunungan dibawa keluar dari kraton, melalui Sitihinggil, Pagelaran, Alun alun Utara. Di selatan Ringin Kurung belok ke barat menuju Mesjid Gedhe. Bertempat di halaman Mesjid Gedhe, setelah memanjatkan doa, gunungan diperebutkan kepada warga masyarakat. Pada tahun Dal, Gunungan Brama atau Gunungan Kutug yang dibawa ke plataran mesjid, dibawa kembali ke kraton untuk diperebutkan kepada kerabat kraton atau Sentana Dalem

Tahun Dal merupakan tahun khusus bagi masyarakat Jawa. Jika dihitung mundur menurut penanggalan Jawa, Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun Dal. Oleh karena itu, Upacara Sekaten tahun Dal diperingati dengan lebih meriah daripada Upacara Sekaten selain Tahun Dal.

Cuplikan dari tulisan karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT” dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.

See more at: http://www.jogjatv.tv/berita/30/03/2012/sekaten-kraton-kasultanan-ngayogyakarta-hadiningrat-0#sthash.nJUbvYIZ.dpuf

 

Hal-hal yang mengikuti Sekaten

 

KINANG

Ketika Sekaten, di sekitar Pagongan banyak dijumpai pedagang yang menjual kinang atau sirih, berupa racikan daun sirih, gambir, kapur dan tembakau. Hingga sekarang masih banyak warga masyarakat yang percaya bahwa nginang atau mengucah sirih seraya mendengarkan gamelan Sekaten, akan awet muda, karena mengunyah sirih dapat untuk menguatkan gigi.

Namun mengunyah sirih atau nginang dalam sekaten mengandung makna tersendiri. Ketika nginang, maka bibir akan berwarna merah. Untuk masyarakat Jawa, merah berarti berani. Namun ada juga pengertian lain bahwa warna merah melambangkan kesucian. Dari hal tersebut, nginang ketika Sekaten dapat berarti harus berani mengatakan hal-hal  yang benar, yang haq, yaitu mengucapkan syahadat, memeluk agama Islam sebagai agama suci.

ENDHOG ABANG

Endhog abang atau telur merah, dibuat dari telur bebek yang diwarnai merah. Warna kulit telur yang merah ini melambangkan nafsu amarah. Ketika kulit dikupas akan tampak warna putih lan kuning, lambang nafsu sufiah dan mutmainah. Maka setelah menghadiri Sekaten dengan mengucapkan Syahadat, harus dapat mengesampingkan nafsu amarah, menuju ke kesucian.

NASI GURIH

Jenis makanan yang disukai Nabi Muhammad SAW, yaitu makanan yang gurih. Di Tanah Arab, agar makanan berasa gurih, maka dimasak dengan menggunakan minyak Samin. Jamaah haji dari Pulau Jawa pada jaman dahulu meniru kebiasaan ini, dengan menanak nasi dicampur dengan minyak Samin, sehingga berasa gurih.

Ketika pulang dari haji, di Tanah Jawa tidak ada minyak Samin. Sehingga untuk memperoleh rasa gurih, minyak Samin ini diganti dengan santan kelapa. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran, bahwa teladan utama umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW.

PECUT

Pecut atau cemeti merupakan sarana untuk menghela hewan ternak. Bukan untuk menyakiti hewan ternak, namun untuk membangkitkan semangat hewan ternak seperti sapi dan kerbau, yang digunakan untuk bekerja di sawah. Berkaitan dengan Sekaten, pecut atau cemeti merupakan lambang agar manusia dapat mengendalikan nafsu hewani, untuk meniti jalan kebenaran.

Warga pedesaan ketika Sekaten membeli pecut atau cemeti, dan dilecutkan bersamaan dengan tembakan salvo atau drell, penghormatan keluarnya gunungan dari dalam kraton. Hal ini mungkin meneruskan atau meniru sejarah Pangeran Mangkubumi pada masa silam, ketika dimintai pertolongan rakyat yang persawahannya diserang hama menthek. Pangeran Mangkubumi memenuhi permintaan tersebut, dan mengusir hama menthek dengan menggunakan sarana pecut atau cemeti pusaka Kyai Pamuk, disertai dengan permohonan doa kepada Allah SWT.

Cuplikan dari tulisan karya Faizal Noor Singgih dengan judul “SEKATEN KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT” dengan nara sumber Ir. H. Yuwono Sri Suwito, yang pernah disiarkan pada Program Acara “Pocung” Pirembagan Kabudayan Jogja Tv, Senen, 07 Februari 2011 dan Senen, 30 Januari 2012.

 

 

Sekaten Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Di wilayah Kotamadya Yogyakarta, terdapat upacara adat yang disebut sebagai Sekaten atau yang lebih dikenal dengan istilah Pasar Malam Perayaan Sekaten karena sebelum upacara Sekaten diadakan kegiatan pasar malam terlebih dahulu selama satu bulan penuh. Tradisi yang ada sejak zaman Kerajaan Demak (abad ke-16) ini diadakan setahun sekali pada bulan Maulud, bulan ke tiga dalam tahun Jawa, dengan mengambil lokasi di pelataran atau Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Asal usul istilah Sekaten berkembang dalam beberapa versi. Ada yang berpendapat bahwa Sekaten berasal dari kata Sekati, yaitu nama dari dua perangkat pusaka Kraton berupa gamelan yang disebut Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata suka dan ati (suka hati, senang hati) karena orang-orang menyambut hari Maulud tersebut dengan perasaan syukur dan bahagia dalam perayaan pasar malam di Alun-alun Utara.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata Sekaten berasal dari kata syahadataini, dua kalimat dalam Syahadat Islam, yaitu syahadat taukhid (Asyhadu alla ila-ha-ilallah) yang berarti “saya bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah” dan syahadat rasul (Waasyhadu anna Muhammadarrosululloh) yang berarti “saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah”.

Upacara Sekaten dianggap sebagai perpaduan antara kegiatan dakwah Islam dan seni. Pada awal mula penyebaran agama Islam di Jawa, salah seorang Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga, mempergunakan kesenian karawitan (gamelan Jawa) untuk memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitan-nya dengan menggunakan dua perangkat gamelan Kanjeng Kyai Sekati. Di sela-sela pergelaran, dilakukan khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Bagi mereka yang bertekad untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat, sebagai pernyataan taat kepada ajaran agama Islam.

Di kalangan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, muncul keyakinan bahwa dengan ikut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang bersangkutan akan mendapat pahala dari Yang Maha Agung, dan dianugerahi awet muda. Sebagai syarat, mereka harus menguyah sirih di halaman Masjid Agung Yogyakarta, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan Sekaten. Oleh karena itu, selama perayaan, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih beserta lauk-pauknya di halaman Kemandungan, di Alun-alun Utara atau di depan Masjid Agung Yogyakarta. Bagi para petani, dalam kesempatan ini memohon pula agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat tekadnya ini, mereka membeli cambuk untuk dibawa pulang.

Sebelum upacara Sekaten dilaksanakan, diadakan dua macam persiapan, yaitu persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik berupa peralatan dan perlengkapan upacara Sekaten, yaitu Gamelan Sekaten, Gendhing Sekaten, sejumlah uang logam, sejumlah bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga, dan perlengkapan lainnya, serta naskah riwayat maulud Nabi Muhammad SAW.

Gamelan Sekaten adalah benda pusaka Kraton yang disebut Kanjeng Kyai Sekati dalam dua rancak, yaitu Kanjeng Kyai Nogowilogo dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan Sekaten tersebut dibuat oleh Sunan Giri yang ahli dalam kesenian karawitan dan disebut-sebut sebagai gamelan dengan laras pelog yang pertama kali dibuat. Alat pemukulnya dibuat dari tanduk lembu atau tanduk kerbau dan untuk dapat menghasilkan bunyi pukulan yang nyaring dan bening, alat pemukul harus diangkat setinggi dahi sebelum dipuk pada masing-masing gamelan.

Sedangkan Gendhing Sekaten adalah serangkaian lagu gendhing yang digunakan, yaitu Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Andong-andong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet em, Muru putih, Orang-aring pathet nem, Ngajatun pathet nem, Batem Tur pathet nem, Supiatun pathet barang, dan Srundeng gosong pelog pathet barang.

Untuk persiapan spiritual, dilakukan beberapa waktu menjelang Sekaten. Para abdi dalem Kraton Yogyakarta yang nantinya terlibat di dalam penyelenggaraan upacara mempersiapkan mental dan batin untuk mengembang tugas sakral tersebut. Terlebih para abdi dalem yang bertugas memukul gamelan Sekaten, mereka mensucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas.

Sekaten dimulai pada tanggal 6 Maulud (Rabiulawal) saat sore hari dengan mengeluarkan gamelan Kanjeng Kyai Sekati dari tempat persemayamannya, Kanjeng Kyai Nogowilogo ditempatkan di Bangsal Trajumas dan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Bangsal Srimanganti. Dua pasukan abdi dalem prajurit bertugas menjaga gamelan pusaka tersebut, yaitu prajurit Mantrijero dan prajurit Ketanggung. Di halaman Kemandungan atau Keben, banyak orang berjualan kinang dan nasi wuduk.

Lepas waktu sholat Isya, para abdi dalem yang bertugas di bangsal, memberikan laporan kepada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah ada perintah dari Sri Sultan melalui abdi dalem yang diutus, maka dimulailah upacara Sekaten dengan membunyikan gamelan Kanjeng Kyai Sekati.

Yang pertama dibunyikan adalah Kanjeng Kyai Guntur Madu dengan gendhing racikan pathet gangsal, dhawah gendhing Rambu. Menyusul kemudian dibunyikan gamelan Kanjeng Kyai Nogowilogo dengan gendhing racikan pathet gangsal, dhawah gendhing Rambu. Demikianlah dibunyikan secara bergantian antara Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nogowilogo. Di tengah gendhing, Sri Sultan datang mendekat dan gendhing dibuat lembut sampai Sri Sultan meninggalkan kedua bangsal. Sebelumnya Sri Sultan (atau wakil Sri Sultan) menaburkan udhik-udhik di depan gerbang Danapertapa, bangsal Srimanganti, dan bangsal Trajumas.

Tepat pada pukul 24.00 WIB, gamelan Sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta dengan dikawal kedua pasukan abdi dalem prajurit Mantrijero dan Ketanggung. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di pagongan sebelah selatan gapuran halaman Masjid Agung dan Kanjeng Kyai Nogowilogo di pagongan sebelah utara. Di halaman masjid tersebut, gamelan Sekaten dibunyikan terus menerus siang dan malam selama enam hari berturut-turut, kecuali pada malam Jumat hingga selesai sholat Jumat siang harinya.

Pada tanggal 11 Maulud (Rabiulawal), mulai pukul 20.00 WIB, Sri Sultan datang ke Masjid Agung untuk menghadiri upacara Maulud Nabi Muhammad SAW yang berupa pembacaan naskah riwayat maulud Nabi yang dibacakan oleh Kyai Pengulu. Upacara tersebut selesai pada pukul 24.00 WIB, dan setelah semua selesai, perangkat gamelan Sekaten diboyong kembali dari halaman Masjid Agung menuju ke Kraton. Pemindahan ini merupakan tanda bahwa upacara Sekaten telah berakhir.

Grebeg Sekaten

Grebeg Sekaten Moment Sakral di Yogyakarta

 

YOGYAKARTA: Ribuan orang ramai memadati halaman Masjid Gede Kauman, DI Yogyakarta, Sabtu malam (4/2). Mereka menantikan kehadiran Sultan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang akan menyebar udhik-udhik, yang terdiri dari uang logam, bunga, dan beras kuning.
Sri Sultan datang ke regol Masjid Gedhe Kauman sekitar pukul 20.15. Ia langsung menyebar udhik-udhik yang disambut antusias oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya yang memadati halaman Masjid Gedhe Kauman.
Usai menyebar udhik-udhik di kedua sisi, Sultan pun masuk ke dalam Masjid Gedhe dan duduk di serambi. Di sana, Sultan mendengarkan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
KRT Pujaningrat dari Kawedanan Ageng Sriwandowo mengungkapkan, prosesi menyebar udik merupakan simbol bersatunya raja dengan rakyat (manunggaling kawula gusti). “Ngersa Dalem merasa bertanggung jawab memberikan hartanya kepada rakyat,” ucapnya.
Usai mendengarkan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW, Sultan pun pulang. Pada malam harinya, sekitar pukul 23.30, diadakan acara kondur gongso. Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo dipulangkan kembali ke kraton setelah dibunyikan di Masjid Gedhe selama 7 hari. Keesokan harinya pun dilaksanakan grebek sekaten, Minggu pagi (5/2). (AT/X-12)
sumber: http://infonyajogja.blogspot.com/2012/02/prosesi-moment-sakral-di-yogyakarta.html