Perbedaan Dalam Mengakses Hadist

Seorang Ulama abad pertengahan, Imam Ibnu Rush menulis 1 kitab yang menjadi master piece yang sampai sekarang masih banyak dibaca oleh orang yaitu kitab kita Yaitul Mujtahid. Dalam kitab ini, Ibnu Rush menuliskan berbagai macam fiqih perbandingan yang diamalkan oleh berbagai aliran yang ada di dunia islam. Ibnu Rush juga menyertakan dalil-dalil argumrntasi yang mendasari para ulama dalam mengamalkan amaliyah-amaliyah tersebut. Diantara berbagai macam perbedaan yang timbul dari berbagai aliran, mayoritas perbedaan itu bersumber pada hadist. Sehingga karenanya hadist menjadi dasar sekitar 90% lebih, yang memberikan andil kontribusi bagi perbedaan amaliyah di kalangan umat muslim.

Ada 6 macam perbedaan ketika mengakses hadist yang kemudian menimbulkan perbedaan dalam amaliyah:

  1. Perbedaan karena terjadi tanwi’ pada masa nabi

Pada masa nabi, nabi pernah mengamalkan amaliyah yang berbeda untuk satu hal tertentu. Misalnya, bacaan basmallah di sholat yang mestinya jahar, apakah dibaca secara jahar ataukah dibaca secara tsir. Ada beberapa hadist, ternyata yang menyatakan nabi pernah membaca secara jahar, hadistnya shahih. Dan yang menerangkan nabi membaca secara tsir (perlahan) juga shahih. Nabi memang pernah mengamalkannya secara berbeda dalam waktu yang berbeda pula. Untuk hadist yang seperti ini, tentu kita semua harus memahami bahwa keduanya bersumber dari nabi Muhammad saw.

  1. Perbedaan di dalam memahami hadist

Hadist yang sama, bisa menjadi berbeda dikarenakan perbedaan pemahaman bahasa. Misalnya yang berkaitan dengan ibadah, yaitu berkaitan dengan posisi berdiri setelah ruku’. Ada 2 perbedaan, “faqarin”, yang dalam kamus diartikan “ruas tulang belakang”, dan yang kedua “semua ruas tulang”. Perbedaan yang kedua “makanahu” artinya “ke posisinya”. Sehingga menimbulkan perbedaan, Apakah posisinya sebelum rukuk atau posisi sesungguhnya dari ruas tulang tersebut.

  1. Perbedaan disebabkan tidak meratanya penyebaran hadist

Ketika nabi wafat, hadist itu belum dibukukan. Bahkan pemahaman hadist yang dimiliki para sahabat berbeda-beda. Karena bisa jadi hadist itu disabdakan oleh nabi di hadapan jamaah yang jumlahnya banyak, tetapi bisa jadi hanya diucapkan didepan satu dua orang sahabat. Maka, pemahaman hadist antara sahabat satu dengan lainnya berbeda-beda.

  1. Perbedaan yang dilakukan karena terjadi perbedaan di dalam menyelesaikan 2 hadist atau lebih yang bertentangan

Misalnya: hadist “bahwasanya Rasulullah saw melaknat perempuan-perempuan yang melakukan ziarah kubur”. Tapi, pada hadist yang lain “aku pernah melarang kamu sekalian melakukan ziarah kubur, maka sekarang lakukanlah ziarah”. Sebagian berpendapat hadist yang memerintahkan untuk melakukan ziarah kubur setelah sebelumnya dilarang, itu hanya berlaku untuk laki-laki. Tapi, sebagian yang lain berpendapat tidak, karena hadistnya berlaku umum (untuk laki-laki dan perempuan).

  1. Perbedaan karena berbeda di dalam menentukan kualitas hadist

Menentukan kualitas hadist adalah sesuatu yang istihadi. Ketika menilai suatu hadist, tentu akan menilai siapa rawinya (yang mengatakannya). Berarti penilaian terhadap orang. Mayoritas rawi hadist sudah disepakati kredibilitasnya. Tetapi, ada sedikit yang diperdebatkan kualitasnya. Sebagaimana kita menilai ulama pada saat ini, tentu sebagian akan mengatakan dia orang baik, sebagian lagi akan mengatakan dia tidak baik.

  1. Perbedaan karena manhaj / Metodologi / Keberterimaan terhadap hadist

Dengan mengkaji hadist, kemudian berusaha menyelesaikan dengan bersungguh-sungguh, dengan mengerahkan segala daya upaya, maka 90% perbedaan di kalangan umat bisa dicarikan jalan keluarnya dengan tetap berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah, bukan berpedoman pada toleransi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *