Menjaga Niat Hijrah

1. Arti Hijrah
Hijrah dari kata هَجَرَ – يهجر Artinya : 1. pindah, meninggalkan negeri asal, berimigrasi; 2. meninggalkan, melarikan diri, melarikan diri dari tugas militer, desersi, melepaskan diri, meninggalkan, berhenti; 3. mendiamkan, tidak menyapa, tidak mengajak berbicara
Orang yang berhijrah harus punya bekal
Kalau orang pergi pergi ke suatu tempat tidak bawa bekal sama sekali, maka dia cenderung akan merepotkan orang lain. Bahkan tidak jarang orang nekat cari kerja di Jakarta misalnya, tidak punya bekal sama sekali, maka dia akan menjadi pengangguran dan mengemis di jalanan. Resiko lain orang hijrah tanpa bekal adalah berbalik arah, kembali ke kehidupan yang lama. Menyerah memang jauh lebih mudah*. Dia tidak mampu melawan bisikan syetan yang muncul dari berbagai arah, baik syetan berwujud jin dan manusia.
Maka dari itu, bekal utama orang hijrah ada 3,
  1. Keimanan, percaya setiap keputusan yang diambil akan menjadikan dirinya lebih baik.
  2. Ketaqwaan, taat kepada Al-qur’an dan sunnah serta bersikap hati-hati dan waspada dalam bertindak di mana kita selalu diawasi Allah Subhanahu wa ta’ala.
  3. Keilmuan, mampu mencari informasi dan mengoptimalkan potensi diri supaya menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, kuat, mandiri, ber agama dengan benar, berbuat yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi umat manusia.
Ada tiga jenis hijrah:
  1. Hijratul makan (cari tempat yang lebih baik)
  2. Hijratul fa’il (cari sahabat yang lebih baik)
  3. Hijratul ‘amal (cari prilaku yang lebih baik)
2. Hadiah bagi orang yang hijrah
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” -Sura An-Nisa’, Ayat 100

 
3. Bagaimana Cara Hijrah?
     a. Niat karena Allah dan Rasulullah
  • 1- وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى‏.‏ رضي الله عنه، قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏*”‏ إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‏”*‏ ‏(‏‏(‏متفق على صحته‏.‏ رواه إماما المحدثين‏:‏ أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‏)‏‏)‏‏.‏
  • _1. Dari Amirul mu’minin Abu Hafs iaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda [3] :
  • “Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehoinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.”(Muttafaq ‘alaih)_
  • Murnikan tujuan hijrah antum karena ingin dekat dengan Allah dan Rasulullah, bukan untuk dapat harta, benda, jabatan, popularitas, ingin dipuji, wanita atau kesenangan semu lainnya.
  • Bangunlah perasaan ingin sekali masuk surga, berjumpa dengan Rasulullah, ingin menatap wajah Allah, ingin mendapatkan kenikmatan abadi. Munculkan keinginan itu seperti hal nya antum sangat ingin sekali masuk ke sekolah/universitas/tempat kerja/bahkan tempat liburan favorit. Tentunya setiap keinginan kita pasti ada harganya.
     b. Hijrah dengan berjihad (berjuang sungguh-sungguh) 
  • تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
  • (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” -Surat As-Saf, Ayat 11
  • Jika sudah memutuskan untuk hijrah, ujian pasti ada. Kesiapan kita dalam harta dan jiwa pasti diperlukan. Antum ingin istiqamah shalat berjama’ah di Masjid maka harus rela mengorbankan waktu bermain antum.
  • Jika ingin kaya, usahanya sukses, pintar, ahli dalam suatu bidang harus jihad perbanyak shadaqah. Beranikan diri untuk bayar setiap harga yang mampu melejitkan potensi antum, yang bisa untuk meningkatkan hasanah hidup di dunia dan akhirat
     
     c. Hindari Riya
  • Ada beberapa orang yang menjadi  “korek api” nya neraka
    • Orang membaca Al Qur’an supaya disebut qori
    • Orang yang bershodaqoh karena ingin dikenal dermawan
    • Orang perang jihad fi Sabilillah karena ingin dianggap pahlawan
    • Orang berilmu supaya dikenal sebagai ‘alim
  • وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

    “Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria dan kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.” -Surat An-Nisa’, Ayat 38

  • Penyakit riya dalam hijrah itu adalah noda. Hati-hati dengan hal ini karena riya dekat dengan kesombongan. Kesombongan dekat dengan syirik.
 
     d. Beribadah dengan penuh keikhlasan
  • وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” -Sura Al-Bayyinah, Ayah 5

  • Ilmu ikhlas itu tidak mudah diterapkan, perlu ilmu lalu hafalkan lalu dipahami lalu diamalkan lalu konsisten menjaga amal lalu ikhlas lalu konsisten menjaga keikhlasan agar kita dijaga Allah dan selamat di dunia dan akhirat.
  • Zaman now ini banyak sekali fitnah dunia, baik di alam maya maupun realita. Tidak jarang banyak orsng terlihat baik, tapi terbukti seorang koruptor, pengedar narkoba, penyebar hoax, pezina, dan sebagainya.
  • Menjaga keikhlasan adalah ikhtiar kita dalam memenangkan fitrah hati nurani dalam taqwa di atas nafsu syahwat yang fujur
    e. Selalu berusaha dan berdoa
  • وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” -Sura Al-Baqarah, Ayah 186

  • Sesungguhnya Allah itu dekat dengan hamba-Nya. Carilah saat-saat doa itu mustajab, termasuk cari kesempatan supaya kita di doakan Malaikat, dijaga Allah, dimudahkan segala urusan kita dan dilapangkan dada menghadapi hal yang tidak diinginkan.
Wallahu a’lamu bishowab.

Disusun oleh:
Ridwan Wicaksono S.T., M.Eng.
Wakil Ketua Mualaf Center Yogyakarta

Pelatihan Perawatan Jenazah

 

Perbedaan pendapat yang terjadi di umat terdahulu (salafi) adalah perbedaan yang tidak melampaui batas justru perbedaanya dibatasi serta dihisasi dengan adab – adab yang baik, maka ini merupakan hal positif yang harus dijadikan pelajaran. Manfaat ikhtilaf yang positif yaitu Jika dalam perbedaan masih dalam koridor adab dan etika yang baik maka terdapat hal positif yang dapat diambil. Jika niatnya itu benar / ikhlas maka ikhtilaf itu hanyalah sebatas cara pandang dalam penglihatan dalil, semisal ru’yat dan hisab. Bila dilatarbelakangi niat yang benar dan dalam batasan sebagai olahraga berfikir karena pandangannya dapat beranekaragam. Pandangan 1 dengan yang lain dapat saling melengkapi. Dengan terbukanya ruang untuk berfikir semua hal dan kemungkinan dapat dimusyawarahkan. Justru dengan adanya perbedaan akan melahirkan banyak piihan – pilihan alternative tentang ide peyelesaian.

#AyokMasukIslam

ayokmasukislam

 

Pengurus takmir Masjid Gedhe Kauman mempunyai program untuk memfasilitasi bagi siapa saja yang akan masuk islam. Sudah banyak orang yang menjadi mualaf di Masjid Gedhe Kauman. Cara pendaftaran untuk melakukan prosesi pengislaman sangat mudah, cukup hubungi pengurus di kantor takmir Masjid Gedhe Kauman di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Gondomanan, Yogyakarta 55122. Upacara pelaksanaan pengislaman biasa dilakukan pada saat setelah solat berjamaah. Takmir Masjid Gedhe Kauman juga menyediakan sertifikat formal bagi mualaf dan beberapa bingkisan untuk menunjang kemudahan bagi mualaf dalam berislam.

 

catatan jelang ramadhan

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh:
?????????? ?????????? ?????????? ???DSCF2901?? ?????????????

Berbicara tentang surat al-baqoroh

Ayat 16 :

????????? ????????? ?????????? ??????????? ?????????? ????? ???????? ????????????? ????? ??????? ???????????

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

Pada awal surat al-baqoroh yang pertama allah menjelaskan tentang orang mutaqim kemudian pada ayat 6-7 menjelaskan tentang orang orang kafir lalu pada ayat 8-20 menjelaskan tentang orang orang munafik.

Tidak cukup bila seseorang hanya beriman di lisan dan menipu diri sendiri maka Allah SWT akan memberikan azab yang pedih karena mereka berdusta .

Allah SWT akan mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang ambing didalam kesesatan.

Pada ayat 17

?????????? ???????? ??????? ??????????? ?????? ???????? ????????? ??? ???????? ?????? ??????? ??????????? ???????????? ??? ????????? ??? ???????????

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. 

Pada ayat 18

????? ?????? ?????? ?????? ??? ???????????

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), 

 

wassalamualaikum warrahmatullahi wabarrokatuh

???????????? ?????????? ?????????? ????? ?????????????

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                30 juni 2013

Tips-Tips Khusyuk Dalam Sholat

1. SEBELUM MENDIRIKAN SOLAT:

 

i)  Menjaga makanan, minuman dan pemakaian.

Khusyuk itu berkaitan dengan kerja hati. Oleh itu, hati perlu dipelihara kesuciannya dengan menjauhkannya daripada benda-benda yang haram atau tidak halal. Oleh itu, pastikan apa yang kita makan, minum, pakai, tempat tinggal dan lain-lain hendaklah datang dari punca dan sumber yang halal tanpa syubhah.

Sabda Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam: “Ketahuilah! Bahawa di dalam badan ada seketul daging; apabila ia baik baiklah badan seluruhnya dan apabila ia rosak rosaklah sekaliannya. Ketahuilah! Itulah ya dikatakan hati.”  (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

 

ii)  Membersihkan diri dan bersugi.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RadhiAllahu ‘anhu bahawa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika tidak mendatangkan kesusahan ke atas umatku atau ke atas manusia nescaya aku menyuruh mereka bersiwak pada setiap kali hendak solat.” (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

 

iii)  Wudhuk yang sempurna

Mengambil wudhuk dengan sempurna supaya air mengenai semua anggota wajib serta mengingati niat. Sebab kesempurnaan solat juga terletak kepada kesempurnaan wudhuk.

Diriwayatkan daripada Abu Rauh al-Kula‘ie daripada seorang laki-laki bahawa beliau pernah mendirikan solat Subuh bersama Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam dan Baginda membaca surah ar-Ruum. Pada salah satu ayatnya, bacaan Baginda terganggu. Lalu apabila selesai solat Baginda bersabda: “Sesungguhnya bacaan kami terganggu disebabkan terdapat beberapa orang di antara kamu yang solat bersama kami tidak menyempurnakan wudhuk mereka. Oleh itu, siapa yang mendirikan solat bersama kami, maka sempurnakanlah wudhuknya.”  (Hadits riwayat Ahmad dan an-Nasa’ie)

Di samping itu sebahagian kelebihan wudhuk itu dapat menjauhkan seseorang daripada gangguan syaitan. Saidina ‘Umar RadhiAllahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya wudhuk yang baik itu mengusir syaitan daripada engkau.”

 

iv)  Memakai pakaian yang bersih dan kemas.

Jangan memakai pakaian yang kurang selesa, seperti memakai sarung kaki yang sempit, mengikat serban terlalu ketat dan sebagainya.

Ditegah bersolat dengan pakaian yang ada gambar, berwarna warni, bertulis, lukisan dan lain-lain kerana ia juga membuat orang lain hilang kekhusyukan ketika berjemaah.

 

v)  Jangan solat dalam keadaan lapar.

Sebolehnya selesaikan atau perkemaskan segala urusan keperluan diri termasuk makan dan qadha hajat terlebih dahulu. Tujuannya ialah supaya tidak timbul kebimbangan dan ketidakselesaan ketika menunaikan solat.

Sabda Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam: “Jangan solat ketika makanan (yang hendak dimakannya) sedang tersedia, dan jangan solat dalam keadaan menahan buang air besar dan air kecil.” (Hadis riwayat Muslim)

 

vi)  Jangan solat dalam keadaan menahan buang air besar atau air kecil.

Sabda Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam: “…dan jangan solat dalam keadaan menahan buang air besar dan air kecil.” (Hadis riwayat Muslim)

 

vii)  Pilih tempat solat yang menenangkan


Pilih tempat solat yang suasananya tenteram, selesa, tidak bising dan sebagainya. Termasuklah dengan memastikan telefon bimbit dimatikan sebelum solat.

Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan bahawa makruh menunaikan solat di tempat orang lalu lalang, kerana yang demikian itu boleh mengganggu kekhusyukan solat seseorang.

Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Umar RadhiAllahu ‘anhuma: “Bahawa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam menegah mendirikan solat pada tujuh tempat: Tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan, kubur, tengah-tengah jalan, bilik mandi, tempat unta duduk di keliling air dan di atas Baitullah.”  (Hadits riwayat at-Tirmidzi)

 

iix)  Gunakan Sejadah Tidak Mengganggu

Menggunakan sejadah yang tidak terlalu banyak gambar yang akan menghayalkan pemikiran. Pastikan supaya tidak ada objek atau gambar yang boleh mengganggu fikiran atau membimbangkan hati di tempat sujud.

Diriwayatkan daripada Saidatuna ‘Aisyah RadhiAllahu ‘anha bahawa Nabi ShallAllahu ‘alaihi wasallam pernah mendirikan solat di atas hamparan daripada bulu yang mempunyai objek lukisan, lalu Baginda bersabda: “Objek lukisan ini mengganggu aku, bawalah ia kepada Abu Jahm dan bawakan kepadaku hamparan tebal yang tidak ada ukiran.” (Hadits riwayat Muslim)

 

ix)  Pastikan tiada gangguan

Tersebut dalam satu riwayat bahawa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang sahabat bernama ‘Utsman bin Thalhah RadhiAllahu ‘anhu: “Aku lupa untuk menyuruhmu menutup dua tanduk kibasy (dari pandangan orang). Maka sesungguhnya tidak sepatutnya ada di rumah sesuatu yang mengganggu orang yang solat.”  (Hadits riwayat Abu Daud)

Imam an-Nawawi Rahimahullah menjelaskan mengenai riwayat di atas bahawa ianya memberi petunjuk akan galakan supaya menghindarkan atau menjauhkan apa-apa yang dikhuatiri melalaikan hati dari khusyuk ketika mendirikan solat.

Tersebut di dalam riwayat bahawa Abdullah bin ‘Umar RadhiAllahu ‘anhuma tidak pernah meletakkan al-Qur’an atau pedangnya di tempat solatnya, juga tulisan atau surat. Semuanya diletakkan di belakangnya atau di mana saja yang tidak dapat dilihat olehnya.

 

x)  Solat Di Awal Waktu

Mendirikan solat di awal waktu atau pertengahan waktu supaya tidak gopoh apakala masa hampir luput.

 

 

2. KETIKA HENDAK MENUNAIKAN SOLAT

 

i)  Azan dan iqamah

Kumandangkan Azan dan iqamat terlebih dahulu walaupun mendirikan solat bersendirian ataupun sekurang-kurangnya iqamat sahaja.

 

ii)  Lakukan Solat Secara Berjemaah

Berusahalah melakukan solat secara berjemaah kerana iaadalah suatu tuntutan dan syi‘ar agama Islam. Selain pahala solat berjemaah itu melebihi solat seorang diri dengan dua puluh tujuh darjat, ada ulama mengatakan, pada kebiasaannya orang yang solat berjemaah itu akan memperolehi kekhusyukan ketika bersolat dan terselamat daripada perkara yang lagha dan boleh melalaikannya.

 

iii)  Menghadirkan Hati.

Maksudnya ialah sebelum mendirikan solat kosongkan hati dari segala urusan yang boleh mengganggu ataupun yang tidak ada sangkut-paut dengan ibadat solat yang dikerjakan.

Abu Darda’ RadhiAllahu ‘anhu berkata: “Antara tanda kefahaman seseorang ialah dia memulai memenuhi keperluannya terlebih dahulu sebelum dia masuk menunaikan solat supaya dia masuk ke dalam solat dalam keadaan hatinya kosong dari perkara yang lain.”

 

iii)  Mengingatkan Mati

Agar pemikiran tidak liar, sebelum solat ingatkan diri bahawa kematian seolah-olah amat hampir dengan kita dan solat tersebut kemungkinan merupakan solat yang terakhir sekali dalam hidup kita dan perlulah dijadikan yang terbaik.

Diriwayatkan daripada Hatim al-Asham RadhiAllahu ‘anhu bahawa ditanyakan kepadanya tentang solatnya, beliau beliau menjawab: “Apabila tiba waktu solat aku menyempurnakan wudhuk dan aku mendatangi tempat di mana di situ aku hendak mendirikan solat. Lalu aku duduk pada tempat itu sehingga berkumpullah seluruh anggota tubuhku. Kemudian aku berdiri menunaikan solatku dan aku jadikan Ka‘bah di antara dua keningku, titian ash-shirath di bawah tapak kakiku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di belakangku, aku menyangka solat ini adalah solatku yang terakhir. Kemudian aku berdiri di antara mengharap dan takut, aku bertakbir dengan penuh keyakinan, aku membaca dengan bacaan yang betul, aku ruku‘ dengan merendahkan diri, aku sujud dengan khusyu‘, aku duduk atas punggung kiri dan aku bentangkan belakang tapak kaki kiri, aku tegakkan tapak kaki kanan atas ibu jari kaki dan aku ikutkan keikhlasan hati. Kemudian aku tidak tahu sama ada solatku diterima atau tidak?”

 

iv)  Membaca Zikir

Sebelum mengangkat takbir elok membaca mana-mana zikir yang boleh menjauhkan diri daripada syaitan.

Umpamanya seperti membaca:

a.)  Surah an-Nas

b.)  Ta‘awudz

c.)  Tahlil:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.”

d.)  Zikir:

امنا با الله و برسوله

 “Kami beriman dengan Allah dan rasul-rasulNya.”

 

v)  Berusaha Melawan Gangguan Syaitan

Antara tipu daya syaitan ialah memesongkan atau memalingkan perhatian semasa solat. Caranya ialah dengan memalingkan hati kita dari meneliti dan memahami apa yang sedang kita baca. Dari situ kita akan hilang renungan untuk hari akhirat dan keikhlasan ibadat yang dilakukan. Adakalanya sehingga seorang itu boleh menjadi ragu dan was-was tentang bilangan rakaat yang telah ditunaikannya, adakah sudah cukup atau masih lagi kurang.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RadhiAllahu ‘anhu bahawa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang daripada kamu apabila berdiri menunaikan solat syaitan akan mendatanginya, lalu syaitan menimbulkan kesamaran ke atas orang itu sehingga dia tidak tahu berapa rakaat sudah ditunaikannya.”  (Hadits riwayat Muslim)

 

 

3. KETIKA MENUNAIKAN SOLAT

 

i)  Meneliti Dan Memahami Bacaan Solat

Meneliti bacaan-bacaan dalam solat, sama ada bacaan itu terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an atau selain dari ayat-ayat al-Quran (tasbih dan takbir dan doa). Jika boleh, fahami makna bacaan-bacaan tersebut. Perkara ini amat penting untuk menghadirkan hati dalam solat. Hati mestilah ikut mengetahui segala apa yang kita baca.

Membaca dengan baik (Khusnul Qori’ah), berusaha untuk memahami dan mengerti bacaan dalam solat termasuk ayat Al-Quran yang dibacakan, terutama sekali Al Fatihah, gerakan dan maknanya (Tafakhum). Ini kerana bacaan-bacaan dalam solat mengandungi banyak makna yang halus yang patut dimengertikan oleh orang yang melaksanakannya.

 

ii)  Merendahkan Diri

Salurkan rasa rendah hati dan rendah diri ketika dalam rukuk dan sujud serta dipanjangkan tempoh masa rukuk dan sujud.

Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang hamba paling dekat dengan Tuhannya sewaktu ia bersujud.” (Hadis riwayat Muslim)

 

iii)  Mengagungkan Allah SWT

Meliputkan hati dengan kebesaran Allah dan kesucianNya ketika bertakbir dan ketika bertasbih pada seluruh gerak-geri dalam solat. Timbulkan Rasa Malu (Haya’) iaituperasaan malu terhadap Allah SWT dan merasa takut (Khauf) kepada kekuasaan Allah.

 

iv)  Menghindari Dari Memikirkan Hal Keduniaan

Meninggalkan segala fikiran dan lintasan hati yang berkaitan dengan urusan dunia. Hati diajak hadir/ikut, kehadiran hati dalam solat iaitu mengosongkan hati dari segala urusan yang boleh mengganggu dan yang tidak berkaitan dengan solat.

 

v)  Tumpuan Penuh Pada Solat

Segala perhatian dalam solat itu hendaklah tertumpu hanya kepada mendirikan dan menunaikannya dengan yang terbaik sekali. Rukun-rukun solat perlu dilakukan secara tertib. Berusaha konsentrasi (Khudunul Kolbih) sambil menyedari bahawa Allah SWT sentiasa memperhatikan solat itu.

 

vi)  Mengurangkan Pergerakan Anggota Badan

Mengurangkan pergerakan anggota-anggota seperti tangan, kaki dan juga Mata ditumpukan kepada tempat sujud dan ketika tasahut melihat anak jari.

 

vii)  Sentiasa Melihat Tempat Sujud

Sentiasa melihat tempat sujud sekalipun orang itu buta atau bersolat di dalam gelap kecuali ketika membaca perkataan إلاّ الله dalam tahiyyat. Pada ketika itu pandangan orang yang solat itu dialihkan ke jari telunjuknya.

Jika memejamkan mata boleh mendatangkan khusyuk dalam solat seseorang itu, maka dibolehkan dia berbuat begitu dan hukumnya tidak makruh sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi.

 

iix)  Lakukan Solat Dengan Thuma’ninah

‘Thuma’ninah’ (ketenangan), maksudnya anggota seseorang itu tetap diam atau berhenti seketika ketika melakukan ssesuatu ‘rukun fi‘li’ (perbuatan) di dalam solat seperti rukuk, sujud dan sebagainya, sebelum beralih ke rukun fi‘li seterusnya. Sekurang-kurangnya tetap diam seketika dalam tempoh pada kadar bacaan zikir: “سبحان الله” (SubhanAllah).

Maknanya, setiap pergerakan di dalam solat itu tidak dilakukan dengan tergopoh-gapah, cepat-cepat atau dengan kelam-kabut tetapi dilakukan dengan tenang dan relaks.

 

Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam ada mengajar kita tentang perkara ini di dalam sabda Baginda: “Apabila kamu berdiri menunaikan solat maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat al-Quran yang mudah bagi kamu. Kemudian rukuklah sehingga kamu berthuma’ninah dalam keadaan rukuk. Kemudian bangkitlah sehingga kamu berdiri betul. Kemudian sujudlah sehingga kamu berthuma’ninah dalam keadaan sujud. Kemudian bangkitlah sehingga kamu berthuma’ninah dalam keadaan duduk. Kamu buatlah yang demikian itu dalam semua solat kamu.”  (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

 

Sumber : http://shafiqolbu.wordpress.com/2012/08/02/tip-tips-cara-rahsia-khusyuk-dalam-solat/