#PUSTALIKA

 

Balapustaka Andalan sore ini melaksanakan kegiatan PUSTALIKA (Perpustakaan Keliling Kauman) di TPA AL-AMIEN yang berlokasi di Jalan Gowongan Kidul Yogyakarta. Setelah adik-adik TPA AL-AMIEN mengaji, mereka bebas membaca buku. Jika ada yang belum bisa membaca, Balapustaka siap membantu mereka.

#pustalika #mobilelibrary #perpustakaankelilingkauman #perpustakaanmasjidgedhekauman #cintabuku #cintailmu #cintaperpustakaan #literasi #bergerak

Ditulis oleh Nana Yuliana

Analisis Jumlah Peserta Muslim United 2018 di Yogyakarta

بِسْمِ اللهِ الرّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ,
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلىَ اَشْرَفِ اْللأَنْبِياَءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِناَ وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, اَمَّا بَعْدُ

Bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’iin, amma ba’du.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

Kegiatan Muslim United 2018 berhasil menggemparkan bumi Yogyakarta, tepatnya di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Jamaah semakin tertarik ketika panita memutuskan tema besar di kegiatan MU ini adalah “”Lelah Berpisah, Mari Berjama’ah”. Berbagai ustad kelas nasional dihadirkan pada acara MU yang mana mencerminkan tokoh perwakilan masing – masing kelompok/organisasi di bawah naungan islam. Sayangnya, tetap ada ustadz-ustadz yang memang tidak mau hadir dalam acara ini, seolah menghindari persatuan dengan golongan lain, padahal sama – sama berstatus muslim. Qaddarullah, ada juga ustadz yang sudah dijadwalkan namun pada pelaksanaannya ada tidak bisa menghadiri MU. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada sesama umat muslim, akan potensi kekuatan kita ketika bersama-sama bersatu padu membangun masyarakat yang islami dan harmoni, menjadikan bangsa yang hebat, dan selalu memohon ridha dari Allah.

Saya pribadi rindu betul dengan persatuan umat dan betul – betul risau dengan perpecahan, sampai muncul kata-kata persatuan kebun binatang. Kita, umat muslim di Jogja semua tidak sedang dalam kondisi cakar-cakaran. Kita sedang membangun solidaritas melalui ikhtiar yang penuh dengan jalan terjal, untuk menuju persatuan umat, atas perbedaan pemahaman dan sikap hukum. Muslim United merupakan wasilah untuk mengamalkan surat Ali Imran ayat 103, وَاعتَصِموا بِحَبلِ اللَّهِ جَميعًا وَلا تَفَرَّقوا,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk QS 3:103.

Tentunya banyak protes terjadi, kekurangan di sana sini, namun kendala-kendala yang terjadi seolah tidak menyurutkan semangat jama’ah untuk hadir di komplek Masjid Gedhe Kauman. Banyak yang bertanya – tanya, berapa jumlah peserta yang hadir dalam acara besar tersebut? Termotivasi dengan beberapa pihak yang mencoba menghitung jumlah peserta 212 melalui citra (gambar) peta online, berikut adalah sedikit analisis yang saya lakukan berdasarakan citra satelit yang diambil dari google map dengan pendekatan sederhana yang harusnya anak SMA bahkan anak SMP dapat melakukannya. Kira – kira berapa orang ya jumlah total nya? 5000? 7000? 9000?

Berikut adalah gambaran umum lokasi pelaksanaan Muslim United, di Kauman Gondomanan Yogyakarta.

Beberapa lokasi yang cenderung ramai oleh pengunjung yaitu

1. Ruang Utama

Meski diruang ini tidak terlalu penuh, namun tetap terhitung banyak. Sekitar 80% ruangan dalam dipakai oleh jama’ah. Luas yang dipakai jama’ah adalah 80% x 1.037 m2 = 829,6 m2

2. Serambi dan Halaman Dalam

Ruangan serambi bagian atas, bagian bawah tempat wudhu, halaman masjid (bertenda), bahkan kolam masjid (sedang kering) diisi jamaah dan dinding beteng dinaiki oleh jamaah. Masyaa Allah, meski terbilang cukup panas dan gerah, namun jama’ah tetap berebut mendapatkan tempat untuk menyaksikan MU secara langsung. Kira-kira lebih dari 93% (sudah dikurangi tempat wudhu, panggung dan tiang2 masjid) luasan ini ditempati jama’ah, sehingga di dapatkan angka 93% x 2.224 m2 = 2068,3 m2.

3. Halaman Pelataran Utara

Halaman utara ini memang lokasi yang cukup nyaman untuk menyaksikan MU. Selain kondisinya outdoor (ada hembusan angin), lokasi ini dikelilingi oleh stand kuliner dan akses yang mudah ke kamar mandi. Meskipun, tidak secara langsung dapat menyaksikan pembicara, namun jama’ah dalam melihat dari layar proyektor sekitar 2.5 m x 2 m. Lokasi ini juga termasuk padat jama’ah, kira-kira lebih dari 95% luasan total. Di halaman utara ini didapatkan luasan 95% x 304 m2 = 288,8 m2.

4. Sisi Selatan Masjid

Sisi selatan masjid merupakan termasuk lokasi yang padat pengunjung. Menurut analisis saya, jama’ah yang berada di sini sebagian besar merupakan jama’ah yang terlambat masuk ke dalam masjid, atau tidak kebagian tempat di depan layar proyektor besar, sehingga bertumpuk di sisi selatan. Kepadatannya kira – kira mendekati 90% x 1.140 m2, setelah dikurangi pohon dan tiang warung makan, yaitu 1026 m2

5. Sisi Utara Masjid

Pada sisi utara juga digunakan untuk kuliner. Ketika dicek, banyak juga jama’ah yang menempati stand kuliner karena saking padatnya lokasi lain. Kira – kira 88% x 712 m2 digunakan jama’ah, yaitu sekitar 626,6 m2.

6. Halaman Pelataran Masjid

Lokasi pelataran boleh dikataan sebagai lokasi yang tidak hanya paling besar di dalam komplek masjid gedhe, namun juga termasuk yang padat jama’ah. Di lokasi ini terdapat panggung outdoor dan panggung, bahkan jama’ah rela duduk dibalik panggung dan di balik giant screen. Lokasi ini juga dekat dengan stand product muslim, serta akses ke kamar kecil. Melihat padatnya jama’ah, kira – kira jumlah jama’ah yang ada di lokasi ini adalah 96% x 2.129 m2 = 2.043,8 m2.

7. Halaman Timur Gapura / Gerbang Masjid

Lokasi parkir depan regol (gerbang masjid) merupakan lokasi yang cukup tanggung untuk menikmati muslim united. Kebanyakan jama’ah adalah mereka yang tidak dapat masuk ke halaman pelataran dan mereka yang sengaja ingin dekat dengan pintu keluar agar mudah mengambil kendaraan yang di parkir. Dari sisi kepadatan cukup padat, sekitar 92% x 561 m2 = 504,9 m2.

8. Sebaigan Alun – Alun Yogyakarta

Alun – alun utara juga merupakan tempat yang cukup nyaman juga untuk menyaksikan pembicara di dalam masjid, karena terdapat layar lebar di pinggir jalan alun – alun utara. Tingkat kepadatan sangat rendah, namun jama’ah leluasa untuk menikmati nyamannya udara malam, segarnya angin, dekat dengan tempat parkir motor, serta tempat yang senggang. Tentunya, bagi jama’ah yang bermaksud untuk menempati lokasi ini, jangan lupa jaket, alas/tikar, dan lotion anti nyamuk 🙂 Tidak semua lokasi di alun – alun di tempati jama’ah. Dari gambar yang kami tangkap, luasan yang di tempat jama’ah sekitar 30% x 13.623 m2, yaitu berkisar 4086.9 m2.

Kesimpulan

Dari analisis sederhana yang saya lakukan, kira – kira luasan efektif total yang digunakan jama’ah adalah
1. Ruang Utama = 829,6 m2.
2. Serambi dan Halaman Dalam = 2068,3 m2.
3. Halaman utara = 288,8 m2.
4. Sisi Selatan = 1026 m2.
5. Sisi Utara = 626,6 m2.
6. Pelataran = 2.043,8 m2.
7. Parkir Regol = 504,9 m2.
8. Alun – alun = 4086.9 m2.

Total luasan yang digunakan jama’ah adalah berkisar = 11.474,9 m2 .

Luas yang fantastis bukan? Mari kita lihat.

Jika satu meter luas persegi dapat digunakan 4 orang (masih nyaman tidak berdesakan), maka jumlah total jama’ah yang hadir di hari pertama Muslim United mencapai 45.899 orang.

Baiklah, mungkin angka ini terkesan sangat fantastis dan “HOAX”. Mari kita saksikan dilapangan.

Jika per meter persegi dihitung 2 orang / m2 (asumsi kepadatan lebih rendah dari yang terlihat), dan luasan dari lokasi alun – alun tidak dihitung (jelas ini lebih hoax karena sebagian alun – alun utara sisi barat dipakai jama’ah sampai pohon beringin) maka, total wilayah = 7388 m jama’ah muslim united mencapai 14.776 jama’ah. Masih tetap banyak. Kalau diambil rata- rata, maka akan di dapatkan angka rerata 30.338 orang. Dari jumlah ini tentu sangat fantastis, diluar prediksi panitia yang melihat hasil registrasi preserta via online sekitar 4000 orang. Penghitungan 2 orang per meter persegi, menurut saya rasa cukup relevan dengan jumlah jama’ah shalat jumat yang diukur di ruang utama. Ketika kami menghitung shaf per shaf, kira2 jama’ah masjid gedhe dapat mencapai 1500 orang bagian dalam saat jumatan (tidak berdempetan)

Saya akui data ini berdasarkan sampling dan tidak disurvei satu per satu yang sifatnya pendekatan. Tentu kalau melihat jumlah ini sangat menarik bukan? belasan ribu menanti nasehat dan semangat persatuan yang ditularkan oleh asatidz, seperti ustadz Oemar Mita, ustadz Bachtiar Natsir, Syaikh Ali Jabir, ustadz Salim A. Fillah, ustadz Felix, ustadz Hanan Attaki, dan ustadz yang lain nya. Kami kira, kalau Muslim United diperpanjang 1 hari lagi, menantikan tausyiah dari ustadz Adi Hidayat atau Ustadz Abdul Shomad, Takmir, Panitia, EO dan bahkan jama’ah akan rela gotong royong mempersiapkan kehadiran beliau. Yuk rame rame di mention dan di share ke beliau 🙂

Pada akhirnya kita relevan saja, secara kualitatif dan kuantitatif, sebagai takmir dan panitia MU saya akan sampaikan kepada publik, bahwa jamaah muslim united hari pertama saat malam hari, teritung mencapai lebih dari 15.000 orang. Mari kita semarakkan acara terakhir Muslim United hari ini, jika berhalangan maka bisa melihat streaming via YouTube. In syaa Allah ini menjadi bagian dari syiar dakwah kita semua.

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullahu li wa lakum walisairil muslimin wal muslimat, Fas taghfiruh innahu huwal Ghafurur Rahim.

Disusun oleh
Ridwan Wicaksono
Sekretaris Takmir Masjid Gedhe Kauman

Bahayanya Dukun dan Peramal (Bag. 2)

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah, “dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
[An-Naml:65]

-وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuz).
[Al-An’am: 59]

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلا ضَرّاً إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.
[ QS Al-Jin :26-27]

SEMOGA KITA TERHINDAR DARI BERBAGAI BENTUK KESYIRIKAN.* Aamiin

*Sumber : broadcast Renungan Dhuha

Bahayanya Dukun dan Peramal (Bag. 1)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Dari Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun atau peramal, lalu dia percaya pada apa yang dikatakan maka dia telah mengingkari (kufur) syari’at yang diturunkan pada Nabi Muhammad. (HR. Al Hakim, hadist shahih berdasarkan syarat Bukhari, Muslim).

Hadist lain,

مَنْ أتى عَرَّافًا فَسَأَلهُ عَنْ شَئٍ لم تقْبَل لَهُ صَلاةُ أربعينَ ليلةً

Artinya: Barangsiapa yang datang ke tukang ramal lalu mempercayai apa yang dikatakan maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Kandungan Hadis:*

1- Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dukun (kahin / ’arraf) adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui peristiwa yang akan terjadi, rahasia-rahasia gaib dan keberadaan benda-benda yang hilang atau dicuri. Maka siapa saja yang seperti itu apapun label dan jabatannya maka ia termasuk dukun yang dilarang agama Islam.
2- Percaya pada ramalan dukun hukumnya haram. Termasuk ramalan nasib, ramalan bintang zodiak, ramalan jodoh dan perkawinan, dll.
3- Mendatangi dukun dan membenarkan ramalannya adalah dosa besar dan menyebabkan shalat tidak diterima selama empat puluh hari.
4- Pelaku perdukunan (spt: dukun, paranormal) adalah pelaku kesyirikan dan dosa besar, yg tdk akan diampuni oleh Allah jika ia tdk bertaubat dg taubatan nasuha.
5- Syirik adalah racun dan perusak iman dan amal.

SEMOGA KITA TERHINDAR DARI BERBAGAI BENTUK KESYIRIKAN.* Aamiin.

*Sumber : broadcast Renungan Dhuha

Arsitektur Peradaban Masyarakat Kauman

Berbagai masjid bersejarah di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri dalam membangun masyarakat dalam berbagai bidang. Hal ini tidak lepas dengan beranekaragaman yang ada di sekitar masjid, secara politik, ekonomi, sosial, agama dan budaya. Tentu berbeda, mengelola masyarakat ekonomi kelas atas (misal di perumahan) dengan kelas menengah ke bawah. Berbeda pula cara mengelola ketika masyarakat bersifat heterogen, terutama dalam hal keyakinan beragama. Selain itu, faktor tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat di sekitar rumah Allah juga mempengaruhi sikap para pengurus masjid. Menjadi menarik ketika perkembangan sains dan teknologi mempengaruhi cara bagaimana takmir mendekatkan masyarakat dengan masjid. Berkaitan latar belakang tersebut, Mesjid Gedhe Kauman mempunyai misi utama melayani jamaah di tengah peradaban kontemporer berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah namun tidak meninggalkan karakter asal usulnya.

Mesjid Gedhe Kauman dibangun 29 Mei 1773 M atau 6 Rabi’ul Akhir 1187 H. Pembangunan diprakarsai oleh Sultan Hamengku Buwono I dan Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat selaku Penghulu Keraton I, dengan arsitek Kyai Wiryokusumo. Masjid Gedhe merupakan salah satu simbol peradaban islam Keraton Mataram Islam. Sultan membangun pengulon, yaitu perumahan bagi penghulu kraton beserta keluarganya. Bagi para ulamaketib (khotib), modin (muadzin), merbot, abdi dalem pamethakan, diberi fasilitas perumahan yang dinamakan “pakauman” yang kemudian dikenal dg kampung kauman. Istilah kauman sendiri diambil dari bahasa Arab yaituQoumuddin yang berarti kaum / kelompok penegak agama. Dari sejarah itulah sampai saat ini kepengurusan Mesjid Gedhe Kauman dipercayakan kepada masyarakat kampung kauman.

Sebagai simbol Masjid Raya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tentunya hal tersebut menjadi amanah yang besar bagi takmir. Tidak hanya asal mengelola masjid, namun ada nilai-nilai luhur yang harus diperhatikan untuk kemaslahatan umat. Selain itu pembahasan tentang masjid sebagai cagar budaya di pusat kota Jogja menjadi tantangan tersendiri. Salah satu contoh tentang ketidakbebasan dalam hal pembangunan, di mana manfaat dari pembangunan tersebut jelas dibutuhkan masyarakat, namun hal itu tidak dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, menjadi penting menjaga hubungan dengan pihak terkait baik pemerintah, kesultanan, pihak swasta, dan masyarakat untuk mengelola masjid ini dalam mencari jalan tengah pada setiap persoalan yang dihadapi.

Masyarakat modern dengan tantangan zaman yang saat ini tidak sederhana, memandang Mesjid Gedhe merupakan aset besar yang harus dipertahankan. Hal ini berkaitan dengan masjid sebagai pusat peradaban. Salah satu contoh serambi masjid, yang dibangun pada tahun 1775 M / 1189 H, difungsikan sebagai Mahkamah Al Kabiroh. Fungsi serambi digunakan untuk pertemuan para alim ulama, dakwah islam, upacara ijab qobul, penyelesaian sengketa perkawinan / rumah tangga, pembagian harta waris, bahkan saat ini sering diadakan upacara pengislaman seorang mualaf. Hal tersebut menjadi tanggung jawab penghulu keraton yang bergelar Penghulu Hakim pada saat itu. Seiring perkembangan zaman, kepengurusan Dewan Takmir Mesjid Gedhe tidak bisa bertumpu pada beberapa orang saja. Melalui musyawarah mufakat, Dewan Takmir Mesjid Gedhe dipilih warga secara langsung untuk mengemban amanah sebagai pengelola.

Merawat Filosofi Islam

Mesjid Gedhe Kauman dibangun diatas lahan dengan luas tanah 4.000 m2, dengan luas bangunan masjid adalah 2.578 m2 (ruang sholat utama 784 m2, serambi 1.102 m2, dan ruang-ruang tambahan (yatihun, pawestren, pawudhon, ar-raubah, kamar mandi, dan sebagainya) seluas 692 m2. Dengan luas tersebut, masjid dapat menampung+ 3.500 jama’ah. Tahun 1933 atas prakarsa Sultan HB VIII, atap sirapdiganti dengan seng wiron. Tahun 1936, lantai batu kali hitam di ruang utama diganti dg marmer Itali. Ruang sholat utama ditopang oleh 36 tiang dengan 4 tiang sebagai soko guru setinggi 12 m. Pada ruang serambi, terdiri atas 2 lantai, ditopang oleh 24 tiang lantait atas dan 32 tiang lantai bawah.

Atap masjid berbentuk tajuk lambang teplok (atap bertingkat 3) adalah 3 tingkatan yang harus dicapai oleh manusia untuk kesempurnaan kehidupan, yaitu hakekat, syariat dan ma’rifat. Mustoko berbentuk daunkluwih (sejenis sukun) dan gada, bermakna bahwa manusia akan mempunyai kelebihan apabila sudah melampaui 3 tingkatan tersebut. Sedangkan bentuk gada melambangkan bentuk “alif” bermakna Allah Yang Maha Esa. Disekitar masjid ditanam pohon sawo kecik dimaksudkan agar masyarakat senantia berlaku baik (sarwo becik). Di pagar masjid dibuat buah waluh agar masyarakat senantiasa ingat kepada Allah (Wallahi). Dibangun pula “pagongan” yang digunakan untuk dakwah irama sholawat nabi setiap adanya perayaan sekaten (dari kata syahadatain). Untuk menarik masyarakat saat itu, gamelan menjadi salah satu wasilah agar masyarakat bersama – sama masuk islam. Pintu gerbang masjid yang disebut regol (bahasa jawa) / gapuro (bahasa arab “ghafuro” yang artinya ampunan) dibangun th 1840 M / 1255 H, dengan bentuk semar tinandu. Tahun 1917 m, dibangun gedung “pajagan” di kanan kiri regol/gapuro untuk para prajurit keraton yang menjaga masjid pada masa perjuangan sebagai markas asykar perang sabil.

Mengingat Sejarah Menginspirasi Jamaah.

Berbagai peristiwa penting berlangsung di Mesjid Gedhe Kauman di masa lampau. Pada zaman penjajahan, kita bisa mencari fakta sejarah bagaimana Mesjid Gedhe Kauman menjadi salah satu titik pertahanan para pejuang di Yogyakarta saat itu. Selain itu, tentu berdirinya muhammadiyah juga merupakan turunan bagaimana peran dakwah K.H. Ahmad Dahlan di Mesjid Gedhe Kauman. Salah satu peristiwa penting lainnya di mana Jenderal Sudirman, pahlawan bangsa yang menginspirasi berbagai kalangan untuk berjiwa patriotisme, wafat dan diberangkatkan dari Mesjid Gedhe Kauman.

Rangkaian – rangkaian sejarah memberikan spirit islam rahmatan lil ‘alamin harus hadir di lingkungan sekitar masjid. Untuk mewujudkan kerahmatan ini, perlu kerja sama antara takmir masjid dengan masyarakat secara umum. Mengenal dan memetakan potensi masyarakat kauman merupakan hal yang perlu dilakukan takmir masjid dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Terdapat beberapa komunitas masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung dipayungi oleh takmir.

Tiga Saka Membangun Generasi Masjid

Kampung kauman secara umum tersinergi antara tiga pilar (saka) di dalamnya. Pilar yang dimaksudkan adalah himpunan atau organisasi yang menjadi ruh kampung islam ini. Ketiga pilar tersebut adalah Masjid Gedhe Kauman, Muhammadiyah dan Kamtibmasling (keamanan, ketertiban, kemasyarakatan, lingkungan). Melalui tiga pilar, saat ini masyarakat kauman sedang menggalakkan program kampung hijau. Di lingkungan sekitar masjid memang harus segar, bersih, dan sehat. Warga juga gotong royong untuk membuat kelompok tani kota dan hidroponik. Masyarakat juga ingin mewujudkan kampung ramah anak, yang bersinergi dengan SD Muhammadiyah Kauman, Mu’alimin, Mu’alimat, bela diri Tapak Suci, TK ABA dan kelompok PAUD. Selain kampung hijau dan ramah anak, masyarakat sekitar masjid mempelopori kampung tanggap bencana. Tentunya sebagai pusat perdaban di kota Jogja, ketika bencana terjadi, baik bencana alam atau bencana akibat perbuatan manusia masjid menjadi salah satu tempat rujukan masyarakat.

Pada era modern, takmir menjadikan masjid sebagai pusat informasi dengan adanya radio komunitas Saka FM. Di bidang pendidikan, takmir membangun fasilitas ruang kelas dan perpustakaan digital. Di bidang kesehatan, program pelayanan kesehatan, posyandu, donor darah selalu diadakan setiap tahunnya. Di bidang ekonomi, wisata religi dikelola oleh komunitas Saka Wisata dan adanya pengembangan UMKM yang bekerja sama dengan BMT Beringharjo yang masih satu komplek dengan Mesjid Gedhe Kauman. Pada akhirnya, arsitektur peradaban masjid diimplementasikan melalui komunitas – komunitas yang berprestasi di masing – masing bidang, sehingga menjadi ujung tombak untuk membentuk generasi masjid yang berkemajuan.

Disusun oleh :
Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng.
Sekretaris I Takmir Masjid Gedhe Kauman

Organisasi dan Islam

Pengertian Organisasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, organisasi memiliki beberapa arti, yaitu : kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu; dan kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

Organisasi berasal dari kata “organ” yang merujuk pada organ tubuh manusia, dimana otak, tangan, kaki dan segenap organ tubuh satu sama lain mampu bergerak dengan koordinasi dan perintah yang dikirim dari otak.

Sehingga dapat dipahami bahwa kegiatan organisasi adalah kegiatan yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, beserta pembagian peran dan tugas untuk mencapai tujuan tertentu dengan perintah yang terarah.

Hal ini bisa kita temui di sekitar kita, seperti organisasi dalam masyarakat seperti RT, RW, takmir masjid, sekolah, panti asuhan, kelurahan, kecamatan hingga pemerintah pusat, organisasi dakwah Islam dan juga kesatuan militer dan kepolisian.

Apakah Islam Menganjurkan Berorganisasi ?

Islam menganjurkan organisasi untuk hal yang baik, terlebih untuk kemaslahatan ummat dan masyarakat. Seperti firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 2 :

… و تعاونوا على البرّ و التقوى و لا تعاونوا على الإثم و العدوان…

… Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan…

Dalam ilmu sharaf, kata “ta’aawanu” berasal dari kata “ta’aawun” setiap kata dalam bahasa Arab yang memiliki bentuk asal “tafaa’ul” memiliki beberapa makna pokok yang salah satunya adalah : saling. Seperti kata “tawaashau” dalam surat Al Ashr ayat 3 :

… إلا الذين  آمنوا و عملوا الصالحات و تواصوا بالحق و تواصوا بالصبر…

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Sehingga menunjukkan bahwa adanya interaksi dua arah dalam ayat di atas, yang mampu dimaknai sebagai kegiatan koordinasi yang berdasarkan komunikasi antar orang-orang yang memiliki satu tujuan, baik kebaikan dan ketaqwaan (yang dianjurkan) atau dosa dan permusuhan (yang terlarang). Dan dalam ushul fiqih, kata perintah dalam Al Qur’an menunjukkan bahwa hukumnya adalah wajib. Seperti yang biasa kita temui :

و أقيموا الصلاة و أتوا الزكاة

 Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat

Begitu juga Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan terorganisir secara rapi, layaknya bangunan yang terbangun diatas pondasi yang kuat dan batu-batu bata dan semen yang berpadu menjadi bangunan yang menjulang tinggi dalam surat Ash Shaff ayat 4 :

إنّ الله يحبّ الذين يقاتلون في سبيله صفاً كأنّهم بنيان مرصوص

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya bershaf-shaf (bersusun, berbaris-baris) seolah mereka adalah bangunan yang tersusun kokoh

Ketika Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam- bersama para sahabat keluar dari Madinah menuju desa Badar untuk perang Badar besar, Beliau –shallallahu ‘alayhi wa sallam– menyusun barisan kaum Muslimin dengan bershaf-shaf (seperti pleton jaman sekarang). Hal ini yang membedakan dengan adat istiadat perang bangsa Arab pada waktu itu yang memakai strategi Al Karr wal Farr ( menyerang dan lari) yang tidak beraturan dan asal menyerang.

Di dalam kegiatan organisasi yang sesuai dengan kaidah Islam, terdapat berbagai amalan shalih dan kebaikan. Seperti manajemen, musyawarah, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan saling menasehati.

Jikalau dalam hidup bermuamalah saja berlaku hadits riwayat Ahmad, “ sesungguhnya Allah selalu menolong seorang hamba, selama hamba itu selalu menolong saudaranya (seiman)”. Lalu bagaimana jika saling menolong dalam menyampaikan Islam ?

Apakah Nabi Muhammad –shallallahu ‘alayhi wa sallam– juga berorganisasi ?

Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam– suri teladan yang terbaik itu juga melakukan kegiatan organisasi. Yaitu dengan menempatkan para sahabat pada tempat dan tugas yang tepat. Hal ini dapat dilihat bagaimana Beliau –shallallahu ‘alayhi wa sallam- menjalankan pemerintahan, mengatasi masalah atau mengirimkan detasemen dan tim untuk peperangan, dan tujuan lainnya.

Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam– adalah sosok yang gemar musyawarah, dalam urusan duniawi dan yang tidak terkait dengan wahyu. Seperti ketika perang Badar, ketika sahabat bernama Al Habbab bin Mundzir –radhiyallahu ‘anhu- yang menyampaikan saran kepada Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam- mengenai penempatan pasukan Islam, atau pendapat Salman Al Farisi –radhiyallahu ‘anhu– untuk menggali parit sebagai benteng alam kota Madinah.

Begitu juga dalam beberapa hal seperti pengiriman urusan perang, Beliau –shallallahu ‘alayhi wa sallam– memilih beberapa sahabat yang ahli di bidangnya seperti Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dan Usamah bin Zaid bin Tsabit. Dalam urusan dana, kita mengenal Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab,  Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan, dalam urusan dakwah dan mengajar, kita mengenal Mush’ab bin Umair, Muadz bin Jabal dan Abdullah bin Mas’ud. Dan masih banyak lagi para sahabat lain –radhiyallahu ‘anhum ajma’iin-.

Apakah Berorganisasi Islam Adalah Bid’ah ?

Beberapa orang di antara kita sering keliru dalam membedakan antara 3 hal :

  1. Bid’ah: suatu hal yang baru dan diadakan dalam hal ibadah, dan berbeda dengan apa yang tertera di dalam Al Quran dan As Sunnah. Seperti : shalat subuh 3 rakaat, dan lain sebagainya.
  2. Adatatau kebiasaan masyarakat. Adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat dan bersifat duniawi. Tentu yang baik adalah yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti : pemakaian songkok atau peci, sarung dan baju koko bagi orang Indonesia, dan lain-lain.
  3. Wasilah adalah perantara. Maksud dari wasilah disini adalah jalan atau alat untuk tujuan tertentu. Semisal : untuk adzan, agar terdengar hingga jauh memperlukan mikrofon, agar bisa melaksanakan ibadah haji dan umrah memperlukan pesawat terbang sebagai transportasi, dan lain-lain.

Sedangkan organisasi Islam termasuk sebagai wasilah atau perantara untuk menyampaikan dakwah agar lebih dekat kepada masyarakat dan terkoordinir secara rapi, teratur dan efektif.

Hakikat Organisasi Islam

Organisasi Islam adalah perantara untuk menyampaikan dakwah sehingga menjadi lebih terkoordinir secara rapi dan efektif dalam dampaknya. Sehingga para da’i tidak mengeluarkan sangat banyak tenaga dan waktu dalam menyampaikan konten dakwah kepada masyarakat atau objek dakwah (mad’u). Contoh perantara atau wasilah dalam berdakwah lainnya adalah : khutbah, kajian, brosur dan majalah yang dibagi atau dijual, media informasi dan komunikasi.

Menyikapi Berragam Organisasi Islam di Indonesia

Kita harus mensyukuri dengan banyaknya jumlah pemeluk agama Islam yang berada di Indonesia, bahkan menjadi negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Tetapi kita juga harus menyadari dengan banyaknya masalah dan rintangan ummat yang harus dihadapi.

Tentu kita semua mengetahui dengan berragamnya organisasi Islam yang berdiri, berada dan masih eksis hingga hari ini. Dan selama organisasi-organisasi itu masih berdasarkan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman hidup seorang Muslim, jika kita bukan aktifis, kader atau pengurus dari salah satu organisasi tersebut, setidaknya kita tidak ikut merusak dan mencela mereka yang menjadi kader dan pengurus organisasi dakwah.

Dan jika kita adalah salah satu kader atau pengurus salah satu organisasi dakwah Islam, hendaklah kita berbuat baik dan bermuamalah dengan mereka yang berorganisasi Islam di luar kita, sebagaimana hidup bertetangga.

Tetapi hendaknya setiap kader dan pengurus tidak saling merusak ukhuwwah dengan mencetuskan konflik dengan organisasi lain. Jika ini terjadi, maka keberadaan organisasi Islam hanya menjadi beban tambahan bagi ummat Islam Indonesia. Sehingga menimbulkan kefanatisan atau ta’ashub yang mengakar.

Hendaklah setiap dari kita menempatkan dengan sewajarnya dalam menyikapi organisasi sebagai wasilah dakwah Islam. Bukan malah menggantikan Islam sebagai agama yang hakiki.

Disusun oleh:
Alfaruqi
Mahasiswa Universitas Islam Madinah Saudi Arabia

Puasa Melahirkan Dimensi Sosial

Selain berdimensi spiritual, puasa juga berfungsi melahirkan dimensi sosial. Melatih kepekaan kita dan mendidik jiwa kita untuk perduli kepada sesama. Bukan hanya menjaga hubungan baik kita dengan Allah (hablumminallah) melainkan menjaga hubungan baik kita dengan manusia (hablumminannas) juga merupakan hal yang utama.

Ada satu fenomena tentang kemanusiaan yang cukup mengusik hati kita, yaitu ketika seorang Syeikh di Makkah memberikan kajian tentang Ramadhan. Kemudian di akhir kajian, dibuka dialog interaktif. Ada seorang bapak dari Somalia berusia tujuh puluh tahun bertanya melalui telepon. Bapak tersebut menanyakan prihal puasa, “Wahai Syeikh, jika saya tidak berbuka dan tidak sahur, apakah puasa saya tetap sah?”. Mendengar pertanyaan tersebut, sang Syeikh tidak mampu menjawab, beliau hanya terdiam dan meneteskan air mata. Karena beliau tau, bapak tua tadi tidak berbuka dan tidak sahur karena memang tidak ada apapun yang bisa dimakan dan diminum. Karena kita tau bahwa Somalia adalah negara yang sering terjadi kekeringan dan banyak fenomena kelaparan di sana.

Sungguh gambaran di atas menyayat relung hati kita. Bahwa masih ada saudara kita, seiman dan seagama yang tidak bisa berbuka dan sahur karena mereka tidak punya apapun untuk dimakan dan diminum. Di saat kita bisa menikmati indahnya berbuka dan sahur dengan hidangan makanan yang tersaji berbagai macam menu. Ternyata banyak saudara kita di belahan dunia lain yang membutuhkan kepedulian dan pertolongan kita. Bahkan bisa jadi ada juga saudara atau tetangga terdekat kita yang mengalami nasib sama yaitu sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Seorang ulama bernama Muhammad Ja’far bin Ash-Shadiq pernah mengatakan, “Kalau ingin melihat kedalaman agama seseorang, jangan lihat berapa banyak dia sudah mengerjakan sholat. Bukan pula dilihat dari seberapa sering dia berpuasa. Tapi kedalaman agama seseorang dapat dilihat dari caranya memperlakukan orang lain secara baik.” Dalam hal ini Rasulullah juga bersabda:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bila kita tidak rela melihat diri kita, keluarga kita menderita dan sengsara, maka kita juga tidak boleh rela melihat saudara kita, tetangga kita sengsara. Bahkan kita tidak dikatakan beriman ketika malam kita tidur dengan keadaan kenyang sedangkan ada tetangga kita yang tidur dalam keadaan lapar. Sehingga dalam hal ini Rasulullah mengajarkan ketika kita memasak sayur maka dibanyakkan kuahnya agar dapat berbagi dengan tetangganya. Karena pagar mangkok lebih kuat dan kokoh daripada pagar tembok.

Allah juga berfirman dalam surat Ali Imran ayat 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيم

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Memberikan yang terbaik dan paling kita cintai kepada saudara kita sebagai wujud kepedulain adalah bukti iman kita dan tercatat sebagai kebajikan yang sempurna. Di akhir artikel ini, ada satu kisah di masa Nabi Musa AS. Ketika itu ada seseorang meminta Nabi Musa untuk menanyakan kepada Allah, apakah dirinya masuk surga. Setelah ditanyakan kepada Allah, ternyata jawabannya dirinya tidak masuk surga. Orang itupun heran dan tidak terima, karena merasa ibadahnya siang malam dan semua yang diperinyahkan Allah dikerjakan. Lantas orang itu meminta Nabi Musa untuk menanyakan kepada Allah sekali lagi, apakah dirinya masuk surga. Jawaban Allah yang kedua, bahwa dirinya masuk surga.

Apa yang menyebabkan seorang tersebut masuk surga padahal sebelumnya dia sudah divonis tidak masuk surga. Ternyata ketika Nabi Musa menanyakan yang kedua kalinya, terbersit dalam hati seorang tersebut, “Ya Allah, jika memang diriku masuk neraka. Maka besarkanlah badanku agar tidak ada satupun manusia yang masuk neraka. Cukup diriku saja yang merasakan pedihnya siksaan neraka.” Dengan niat dan hati tulus ingin berkorban demi saudaranya dan mengorbankan dirinya agar saudaranya selamat, maka itulah yang kemudian mengundang ridha dari Allah SWT sehingga dirinya masuk surga.

Wallahua’lam.

Disusun oleh :
Beta Pujangga
Rumah Tarjih Muhammadiyah