Analisis Jumlah Peserta Muslim United 2018 di Yogyakarta

بِسْمِ اللهِ الرّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ,
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلىَ اَشْرَفِ اْللأَنْبِياَءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِناَ وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, اَمَّا بَعْدُ

Bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’iin, amma ba’du.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

Kegiatan Muslim United 2018 berhasil menggemparkan bumi Yogyakarta, tepatnya di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Jamaah semakin tertarik ketika panita memutuskan tema besar di kegiatan MU ini adalah “”Lelah Berpisah, Mari Berjama’ah”. Berbagai ustad kelas nasional dihadirkan pada acara MU yang mana mencerminkan tokoh perwakilan masing – masing kelompok/organisasi di bawah naungan islam. Sayangnya, tetap ada ustadz-ustadz yang memang tidak mau hadir dalam acara ini, seolah menghindari persatuan dengan golongan lain, padahal sama – sama berstatus muslim. Qaddarullah, ada juga ustadz yang sudah dijadwalkan namun pada pelaksanaannya ada tidak bisa menghadiri MU. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada sesama umat muslim, akan potensi kekuatan kita ketika bersama-sama bersatu padu membangun masyarakat yang islami dan harmoni, menjadikan bangsa yang hebat, dan selalu memohon ridha dari Allah.

Saya pribadi rindu betul dengan persatuan umat dan betul – betul risau dengan perpecahan, sampai muncul kata-kata persatuan kebun binatang. Kita, umat muslim di Jogja semua tidak sedang dalam kondisi cakar-cakaran. Kita sedang membangun solidaritas melalui ikhtiar yang penuh dengan jalan terjal, untuk menuju persatuan umat, atas perbedaan pemahaman dan sikap hukum. Muslim United merupakan wasilah untuk mengamalkan surat Ali Imran ayat 103, وَاعتَصِموا بِحَبلِ اللَّهِ جَميعًا وَلا تَفَرَّقوا,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk QS 3:103.

Tentunya banyak protes terjadi, kekurangan di sana sini, namun kendala-kendala yang terjadi seolah tidak menyurutkan semangat jama’ah untuk hadir di komplek Masjid Gedhe Kauman. Banyak yang bertanya – tanya, berapa jumlah peserta yang hadir dalam acara besar tersebut? Termotivasi dengan beberapa pihak yang mencoba menghitung jumlah peserta 212 melalui citra (gambar) peta online, berikut adalah sedikit analisis yang saya lakukan berdasarakan citra satelit yang diambil dari google map dengan pendekatan sederhana yang harusnya anak SMA bahkan anak SMP dapat melakukannya. Kira – kira berapa orang ya jumlah total nya? 5000? 7000? 9000?

Berikut adalah gambaran umum lokasi pelaksanaan Muslim United, di Kauman Gondomanan Yogyakarta.

Beberapa lokasi yang cenderung ramai oleh pengunjung yaitu

1. Ruang Utama

Meski diruang ini tidak terlalu penuh, namun tetap terhitung banyak. Sekitar 80% ruangan dalam dipakai oleh jama’ah. Luas yang dipakai jama’ah adalah 80% x 1.037 m2 = 829,6 m2

2. Serambi dan Halaman Dalam

Ruangan serambi bagian atas, bagian bawah tempat wudhu, halaman masjid (bertenda), bahkan kolam masjid (sedang kering) diisi jamaah dan dinding beteng dinaiki oleh jamaah. Masyaa Allah, meski terbilang cukup panas dan gerah, namun jama’ah tetap berebut mendapatkan tempat untuk menyaksikan MU secara langsung. Kira-kira lebih dari 93% (sudah dikurangi tempat wudhu, panggung dan tiang2 masjid) luasan ini ditempati jama’ah, sehingga di dapatkan angka 93% x 2.224 m2 = 2068,3 m2.

3. Halaman Pelataran Utara

Halaman utara ini memang lokasi yang cukup nyaman untuk menyaksikan MU. Selain kondisinya outdoor (ada hembusan angin), lokasi ini dikelilingi oleh stand kuliner dan akses yang mudah ke kamar mandi. Meskipun, tidak secara langsung dapat menyaksikan pembicara, namun jama’ah dalam melihat dari layar proyektor sekitar 2.5 m x 2 m. Lokasi ini juga termasuk padat jama’ah, kira-kira lebih dari 95% luasan total. Di halaman utara ini didapatkan luasan 95% x 304 m2 = 288,8 m2.

4. Sisi Selatan Masjid

Sisi selatan masjid merupakan termasuk lokasi yang padat pengunjung. Menurut analisis saya, jama’ah yang berada di sini sebagian besar merupakan jama’ah yang terlambat masuk ke dalam masjid, atau tidak kebagian tempat di depan layar proyektor besar, sehingga bertumpuk di sisi selatan. Kepadatannya kira – kira mendekati 90% x 1.140 m2, setelah dikurangi pohon dan tiang warung makan, yaitu 1026 m2

5. Sisi Utara Masjid

Pada sisi utara juga digunakan untuk kuliner. Ketika dicek, banyak juga jama’ah yang menempati stand kuliner karena saking padatnya lokasi lain. Kira – kira 88% x 712 m2 digunakan jama’ah, yaitu sekitar 626,6 m2.

6. Halaman Pelataran Masjid

Lokasi pelataran boleh dikataan sebagai lokasi yang tidak hanya paling besar di dalam komplek masjid gedhe, namun juga termasuk yang padat jama’ah. Di lokasi ini terdapat panggung outdoor dan panggung, bahkan jama’ah rela duduk dibalik panggung dan di balik giant screen. Lokasi ini juga dekat dengan stand product muslim, serta akses ke kamar kecil. Melihat padatnya jama’ah, kira – kira jumlah jama’ah yang ada di lokasi ini adalah 96% x 2.129 m2 = 2.043,8 m2.

7. Halaman Timur Gapura / Gerbang Masjid

Lokasi parkir depan regol (gerbang masjid) merupakan lokasi yang cukup tanggung untuk menikmati muslim united. Kebanyakan jama’ah adalah mereka yang tidak dapat masuk ke halaman pelataran dan mereka yang sengaja ingin dekat dengan pintu keluar agar mudah mengambil kendaraan yang di parkir. Dari sisi kepadatan cukup padat, sekitar 92% x 561 m2 = 504,9 m2.

8. Sebaigan Alun – Alun Yogyakarta

Alun – alun utara juga merupakan tempat yang cukup nyaman juga untuk menyaksikan pembicara di dalam masjid, karena terdapat layar lebar di pinggir jalan alun – alun utara. Tingkat kepadatan sangat rendah, namun jama’ah leluasa untuk menikmati nyamannya udara malam, segarnya angin, dekat dengan tempat parkir motor, serta tempat yang senggang. Tentunya, bagi jama’ah yang bermaksud untuk menempati lokasi ini, jangan lupa jaket, alas/tikar, dan lotion anti nyamuk 🙂 Tidak semua lokasi di alun – alun di tempati jama’ah. Dari gambar yang kami tangkap, luasan yang di tempat jama’ah sekitar 30% x 13.623 m2, yaitu berkisar 4086.9 m2.

Kesimpulan

Dari analisis sederhana yang saya lakukan, kira – kira luasan efektif total yang digunakan jama’ah adalah
1. Ruang Utama = 829,6 m2.
2. Serambi dan Halaman Dalam = 2068,3 m2.
3. Halaman utara = 288,8 m2.
4. Sisi Selatan = 1026 m2.
5. Sisi Utara = 626,6 m2.
6. Pelataran = 2.043,8 m2.
7. Parkir Regol = 504,9 m2.
8. Alun – alun = 4086.9 m2.

Total luasan yang digunakan jama’ah adalah berkisar = 11.474,9 m2 .

Luas yang fantastis bukan? Mari kita lihat.

Jika satu meter luas persegi dapat digunakan 4 orang (masih nyaman tidak berdesakan), maka jumlah total jama’ah yang hadir di hari pertama Muslim United mencapai 45.899 orang.

Baiklah, mungkin angka ini terkesan sangat fantastis dan “HOAX”. Mari kita saksikan dilapangan.

Jika per meter persegi dihitung 2 orang / m2 (asumsi kepadatan lebih rendah dari yang terlihat), dan luasan dari lokasi alun – alun tidak dihitung (jelas ini lebih hoax karena sebagian alun – alun utara sisi barat dipakai jama’ah sampai pohon beringin) maka, total wilayah = 7388 m jama’ah muslim united mencapai 14.776 jama’ah. Masih tetap banyak. Kalau diambil rata- rata, maka akan di dapatkan angka rerata 30.338 orang. Dari jumlah ini tentu sangat fantastis, diluar prediksi panitia yang melihat hasil registrasi preserta via online sekitar 4000 orang. Penghitungan 2 orang per meter persegi, menurut saya rasa cukup relevan dengan jumlah jama’ah shalat jumat yang diukur di ruang utama. Ketika kami menghitung shaf per shaf, kira2 jama’ah masjid gedhe dapat mencapai 1500 orang bagian dalam saat jumatan (tidak berdempetan)

Saya akui data ini berdasarkan sampling dan tidak disurvei satu per satu yang sifatnya pendekatan. Tentu kalau melihat jumlah ini sangat menarik bukan? belasan ribu menanti nasehat dan semangat persatuan yang ditularkan oleh asatidz, seperti ustadz Oemar Mita, ustadz Bachtiar Natsir, Syaikh Ali Jabir, ustadz Salim A. Fillah, ustadz Felix, ustadz Hanan Attaki, dan ustadz yang lain nya. Kami kira, kalau Muslim United diperpanjang 1 hari lagi, menantikan tausyiah dari ustadz Adi Hidayat atau Ustadz Abdul Shomad, Takmir, Panitia, EO dan bahkan jama’ah akan rela gotong royong mempersiapkan kehadiran beliau. Yuk rame rame di mention dan di share ke beliau 🙂

Pada akhirnya kita relevan saja, secara kualitatif dan kuantitatif, sebagai takmir dan panitia MU saya akan sampaikan kepada publik, bahwa jamaah muslim united hari pertama saat malam hari, teritung mencapai lebih dari 15.000 orang. Mari kita semarakkan acara terakhir Muslim United hari ini, jika berhalangan maka bisa melihat streaming via YouTube. In syaa Allah ini menjadi bagian dari syiar dakwah kita semua.

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullahu li wa lakum walisairil muslimin wal muslimat, Fas taghfiruh innahu huwal Ghafurur Rahim.

Disusun oleh
Ridwan Wicaksono
Sekretaris Takmir Masjid Gedhe Kauman

Arsitektur Peradaban Masyarakat Kauman

Berbagai masjid bersejarah di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri dalam membangun masyarakat dalam berbagai bidang. Hal ini tidak lepas dengan beranekaragaman yang ada di sekitar masjid, secara politik, ekonomi, sosial, agama dan budaya. Tentu berbeda, mengelola masyarakat ekonomi kelas atas (misal di perumahan) dengan kelas menengah ke bawah. Berbeda pula cara mengelola ketika masyarakat bersifat heterogen, terutama dalam hal keyakinan beragama. Selain itu, faktor tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat di sekitar rumah Allah juga mempengaruhi sikap para pengurus masjid. Menjadi menarik ketika perkembangan sains dan teknologi mempengaruhi cara bagaimana takmir mendekatkan masyarakat dengan masjid. Berkaitan latar belakang tersebut, Mesjid Gedhe Kauman mempunyai misi utama melayani jamaah di tengah peradaban kontemporer berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah namun tidak meninggalkan karakter asal usulnya.

Mesjid Gedhe Kauman dibangun 29 Mei 1773 M atau 6 Rabi’ul Akhir 1187 H. Pembangunan diprakarsai oleh Sultan Hamengku Buwono I dan Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat selaku Penghulu Keraton I, dengan arsitek Kyai Wiryokusumo. Masjid Gedhe merupakan salah satu simbol peradaban islam Keraton Mataram Islam. Sultan membangun pengulon, yaitu perumahan bagi penghulu kraton beserta keluarganya. Bagi para ulamaketib (khotib), modin (muadzin), merbot, abdi dalem pamethakan, diberi fasilitas perumahan yang dinamakan “pakauman” yang kemudian dikenal dg kampung kauman. Istilah kauman sendiri diambil dari bahasa Arab yaituQoumuddin yang berarti kaum / kelompok penegak agama. Dari sejarah itulah sampai saat ini kepengurusan Mesjid Gedhe Kauman dipercayakan kepada masyarakat kampung kauman.

Sebagai simbol Masjid Raya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tentunya hal tersebut menjadi amanah yang besar bagi takmir. Tidak hanya asal mengelola masjid, namun ada nilai-nilai luhur yang harus diperhatikan untuk kemaslahatan umat. Selain itu pembahasan tentang masjid sebagai cagar budaya di pusat kota Jogja menjadi tantangan tersendiri. Salah satu contoh tentang ketidakbebasan dalam hal pembangunan, di mana manfaat dari pembangunan tersebut jelas dibutuhkan masyarakat, namun hal itu tidak dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, menjadi penting menjaga hubungan dengan pihak terkait baik pemerintah, kesultanan, pihak swasta, dan masyarakat untuk mengelola masjid ini dalam mencari jalan tengah pada setiap persoalan yang dihadapi.

Masyarakat modern dengan tantangan zaman yang saat ini tidak sederhana, memandang Mesjid Gedhe merupakan aset besar yang harus dipertahankan. Hal ini berkaitan dengan masjid sebagai pusat peradaban. Salah satu contoh serambi masjid, yang dibangun pada tahun 1775 M / 1189 H, difungsikan sebagai Mahkamah Al Kabiroh. Fungsi serambi digunakan untuk pertemuan para alim ulama, dakwah islam, upacara ijab qobul, penyelesaian sengketa perkawinan / rumah tangga, pembagian harta waris, bahkan saat ini sering diadakan upacara pengislaman seorang mualaf. Hal tersebut menjadi tanggung jawab penghulu keraton yang bergelar Penghulu Hakim pada saat itu. Seiring perkembangan zaman, kepengurusan Dewan Takmir Mesjid Gedhe tidak bisa bertumpu pada beberapa orang saja. Melalui musyawarah mufakat, Dewan Takmir Mesjid Gedhe dipilih warga secara langsung untuk mengemban amanah sebagai pengelola.

Merawat Filosofi Islam

Mesjid Gedhe Kauman dibangun diatas lahan dengan luas tanah 4.000 m2, dengan luas bangunan masjid adalah 2.578 m2 (ruang sholat utama 784 m2, serambi 1.102 m2, dan ruang-ruang tambahan (yatihun, pawestren, pawudhon, ar-raubah, kamar mandi, dan sebagainya) seluas 692 m2. Dengan luas tersebut, masjid dapat menampung+ 3.500 jama’ah. Tahun 1933 atas prakarsa Sultan HB VIII, atap sirapdiganti dengan seng wiron. Tahun 1936, lantai batu kali hitam di ruang utama diganti dg marmer Itali. Ruang sholat utama ditopang oleh 36 tiang dengan 4 tiang sebagai soko guru setinggi 12 m. Pada ruang serambi, terdiri atas 2 lantai, ditopang oleh 24 tiang lantait atas dan 32 tiang lantai bawah.

Atap masjid berbentuk tajuk lambang teplok (atap bertingkat 3) adalah 3 tingkatan yang harus dicapai oleh manusia untuk kesempurnaan kehidupan, yaitu hakekat, syariat dan ma’rifat. Mustoko berbentuk daunkluwih (sejenis sukun) dan gada, bermakna bahwa manusia akan mempunyai kelebihan apabila sudah melampaui 3 tingkatan tersebut. Sedangkan bentuk gada melambangkan bentuk “alif” bermakna Allah Yang Maha Esa. Disekitar masjid ditanam pohon sawo kecik dimaksudkan agar masyarakat senantia berlaku baik (sarwo becik). Di pagar masjid dibuat buah waluh agar masyarakat senantiasa ingat kepada Allah (Wallahi). Dibangun pula “pagongan” yang digunakan untuk dakwah irama sholawat nabi setiap adanya perayaan sekaten (dari kata syahadatain). Untuk menarik masyarakat saat itu, gamelan menjadi salah satu wasilah agar masyarakat bersama – sama masuk islam. Pintu gerbang masjid yang disebut regol (bahasa jawa) / gapuro (bahasa arab “ghafuro” yang artinya ampunan) dibangun th 1840 M / 1255 H, dengan bentuk semar tinandu. Tahun 1917 m, dibangun gedung “pajagan” di kanan kiri regol/gapuro untuk para prajurit keraton yang menjaga masjid pada masa perjuangan sebagai markas asykar perang sabil.

Mengingat Sejarah Menginspirasi Jamaah.

Berbagai peristiwa penting berlangsung di Mesjid Gedhe Kauman di masa lampau. Pada zaman penjajahan, kita bisa mencari fakta sejarah bagaimana Mesjid Gedhe Kauman menjadi salah satu titik pertahanan para pejuang di Yogyakarta saat itu. Selain itu, tentu berdirinya muhammadiyah juga merupakan turunan bagaimana peran dakwah K.H. Ahmad Dahlan di Mesjid Gedhe Kauman. Salah satu peristiwa penting lainnya di mana Jenderal Sudirman, pahlawan bangsa yang menginspirasi berbagai kalangan untuk berjiwa patriotisme, wafat dan diberangkatkan dari Mesjid Gedhe Kauman.

Rangkaian – rangkaian sejarah memberikan spirit islam rahmatan lil ‘alamin harus hadir di lingkungan sekitar masjid. Untuk mewujudkan kerahmatan ini, perlu kerja sama antara takmir masjid dengan masyarakat secara umum. Mengenal dan memetakan potensi masyarakat kauman merupakan hal yang perlu dilakukan takmir masjid dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Terdapat beberapa komunitas masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung dipayungi oleh takmir.

Tiga Saka Membangun Generasi Masjid

Kampung kauman secara umum tersinergi antara tiga pilar (saka) di dalamnya. Pilar yang dimaksudkan adalah himpunan atau organisasi yang menjadi ruh kampung islam ini. Ketiga pilar tersebut adalah Masjid Gedhe Kauman, Muhammadiyah dan Kamtibmasling (keamanan, ketertiban, kemasyarakatan, lingkungan). Melalui tiga pilar, saat ini masyarakat kauman sedang menggalakkan program kampung hijau. Di lingkungan sekitar masjid memang harus segar, bersih, dan sehat. Warga juga gotong royong untuk membuat kelompok tani kota dan hidroponik. Masyarakat juga ingin mewujudkan kampung ramah anak, yang bersinergi dengan SD Muhammadiyah Kauman, Mu’alimin, Mu’alimat, bela diri Tapak Suci, TK ABA dan kelompok PAUD. Selain kampung hijau dan ramah anak, masyarakat sekitar masjid mempelopori kampung tanggap bencana. Tentunya sebagai pusat perdaban di kota Jogja, ketika bencana terjadi, baik bencana alam atau bencana akibat perbuatan manusia masjid menjadi salah satu tempat rujukan masyarakat.

Pada era modern, takmir menjadikan masjid sebagai pusat informasi dengan adanya radio komunitas Saka FM. Di bidang pendidikan, takmir membangun fasilitas ruang kelas dan perpustakaan digital. Di bidang kesehatan, program pelayanan kesehatan, posyandu, donor darah selalu diadakan setiap tahunnya. Di bidang ekonomi, wisata religi dikelola oleh komunitas Saka Wisata dan adanya pengembangan UMKM yang bekerja sama dengan BMT Beringharjo yang masih satu komplek dengan Mesjid Gedhe Kauman. Pada akhirnya, arsitektur peradaban masjid diimplementasikan melalui komunitas – komunitas yang berprestasi di masing – masing bidang, sehingga menjadi ujung tombak untuk membentuk generasi masjid yang berkemajuan.

Disusun oleh :
Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng.
Sekretaris I Takmir Masjid Gedhe Kauman

Organisasi dan Islam

Pengertian Organisasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, organisasi memiliki beberapa arti, yaitu : kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu; dan kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

Organisasi berasal dari kata “organ” yang merujuk pada organ tubuh manusia, dimana otak, tangan, kaki dan segenap organ tubuh satu sama lain mampu bergerak dengan koordinasi dan perintah yang dikirim dari otak.

Sehingga dapat dipahami bahwa kegiatan organisasi adalah kegiatan yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, beserta pembagian peran dan tugas untuk mencapai tujuan tertentu dengan perintah yang terarah.

Hal ini bisa kita temui di sekitar kita, seperti organisasi dalam masyarakat seperti RT, RW, takmir masjid, sekolah, panti asuhan, kelurahan, kecamatan hingga pemerintah pusat, organisasi dakwah Islam dan juga kesatuan militer dan kepolisian.

Apakah Islam Menganjurkan Berorganisasi ?

Islam menganjurkan organisasi untuk hal yang baik, terlebih untuk kemaslahatan ummat dan masyarakat. Seperti firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 2 :

… و تعاونوا على البرّ و التقوى و لا تعاونوا على الإثم و العدوان…

… Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan…

Dalam ilmu sharaf, kata “ta’aawanu” berasal dari kata “ta’aawun” setiap kata dalam bahasa Arab yang memiliki bentuk asal “tafaa’ul” memiliki beberapa makna pokok yang salah satunya adalah : saling. Seperti kata “tawaashau” dalam surat Al Ashr ayat 3 :

… إلا الذين  آمنوا و عملوا الصالحات و تواصوا بالحق و تواصوا بالصبر…

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Sehingga menunjukkan bahwa adanya interaksi dua arah dalam ayat di atas, yang mampu dimaknai sebagai kegiatan koordinasi yang berdasarkan komunikasi antar orang-orang yang memiliki satu tujuan, baik kebaikan dan ketaqwaan (yang dianjurkan) atau dosa dan permusuhan (yang terlarang). Dan dalam ushul fiqih, kata perintah dalam Al Qur’an menunjukkan bahwa hukumnya adalah wajib. Seperti yang biasa kita temui :

و أقيموا الصلاة و أتوا الزكاة

 Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat

Begitu juga Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan terorganisir secara rapi, layaknya bangunan yang terbangun diatas pondasi yang kuat dan batu-batu bata dan semen yang berpadu menjadi bangunan yang menjulang tinggi dalam surat Ash Shaff ayat 4 :

إنّ الله يحبّ الذين يقاتلون في سبيله صفاً كأنّهم بنيان مرصوص

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya bershaf-shaf (bersusun, berbaris-baris) seolah mereka adalah bangunan yang tersusun kokoh

Ketika Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam- bersama para sahabat keluar dari Madinah menuju desa Badar untuk perang Badar besar, Beliau –shallallahu ‘alayhi wa sallam– menyusun barisan kaum Muslimin dengan bershaf-shaf (seperti pleton jaman sekarang). Hal ini yang membedakan dengan adat istiadat perang bangsa Arab pada waktu itu yang memakai strategi Al Karr wal Farr ( menyerang dan lari) yang tidak beraturan dan asal menyerang.

Di dalam kegiatan organisasi yang sesuai dengan kaidah Islam, terdapat berbagai amalan shalih dan kebaikan. Seperti manajemen, musyawarah, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan saling menasehati.

Jikalau dalam hidup bermuamalah saja berlaku hadits riwayat Ahmad, “ sesungguhnya Allah selalu menolong seorang hamba, selama hamba itu selalu menolong saudaranya (seiman)”. Lalu bagaimana jika saling menolong dalam menyampaikan Islam ?

Apakah Nabi Muhammad –shallallahu ‘alayhi wa sallam– juga berorganisasi ?

Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam– suri teladan yang terbaik itu juga melakukan kegiatan organisasi. Yaitu dengan menempatkan para sahabat pada tempat dan tugas yang tepat. Hal ini dapat dilihat bagaimana Beliau –shallallahu ‘alayhi wa sallam- menjalankan pemerintahan, mengatasi masalah atau mengirimkan detasemen dan tim untuk peperangan, dan tujuan lainnya.

Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam– adalah sosok yang gemar musyawarah, dalam urusan duniawi dan yang tidak terkait dengan wahyu. Seperti ketika perang Badar, ketika sahabat bernama Al Habbab bin Mundzir –radhiyallahu ‘anhu- yang menyampaikan saran kepada Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam- mengenai penempatan pasukan Islam, atau pendapat Salman Al Farisi –radhiyallahu ‘anhu– untuk menggali parit sebagai benteng alam kota Madinah.

Begitu juga dalam beberapa hal seperti pengiriman urusan perang, Beliau –shallallahu ‘alayhi wa sallam– memilih beberapa sahabat yang ahli di bidangnya seperti Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dan Usamah bin Zaid bin Tsabit. Dalam urusan dana, kita mengenal Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab,  Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan, dalam urusan dakwah dan mengajar, kita mengenal Mush’ab bin Umair, Muadz bin Jabal dan Abdullah bin Mas’ud. Dan masih banyak lagi para sahabat lain –radhiyallahu ‘anhum ajma’iin-.

Apakah Berorganisasi Islam Adalah Bid’ah ?

Beberapa orang di antara kita sering keliru dalam membedakan antara 3 hal :

  1. Bid’ah: suatu hal yang baru dan diadakan dalam hal ibadah, dan berbeda dengan apa yang tertera di dalam Al Quran dan As Sunnah. Seperti : shalat subuh 3 rakaat, dan lain sebagainya.
  2. Adatatau kebiasaan masyarakat. Adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat dan bersifat duniawi. Tentu yang baik adalah yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti : pemakaian songkok atau peci, sarung dan baju koko bagi orang Indonesia, dan lain-lain.
  3. Wasilah adalah perantara. Maksud dari wasilah disini adalah jalan atau alat untuk tujuan tertentu. Semisal : untuk adzan, agar terdengar hingga jauh memperlukan mikrofon, agar bisa melaksanakan ibadah haji dan umrah memperlukan pesawat terbang sebagai transportasi, dan lain-lain.

Sedangkan organisasi Islam termasuk sebagai wasilah atau perantara untuk menyampaikan dakwah agar lebih dekat kepada masyarakat dan terkoordinir secara rapi, teratur dan efektif.

Hakikat Organisasi Islam

Organisasi Islam adalah perantara untuk menyampaikan dakwah sehingga menjadi lebih terkoordinir secara rapi dan efektif dalam dampaknya. Sehingga para da’i tidak mengeluarkan sangat banyak tenaga dan waktu dalam menyampaikan konten dakwah kepada masyarakat atau objek dakwah (mad’u). Contoh perantara atau wasilah dalam berdakwah lainnya adalah : khutbah, kajian, brosur dan majalah yang dibagi atau dijual, media informasi dan komunikasi.

Menyikapi Berragam Organisasi Islam di Indonesia

Kita harus mensyukuri dengan banyaknya jumlah pemeluk agama Islam yang berada di Indonesia, bahkan menjadi negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Tetapi kita juga harus menyadari dengan banyaknya masalah dan rintangan ummat yang harus dihadapi.

Tentu kita semua mengetahui dengan berragamnya organisasi Islam yang berdiri, berada dan masih eksis hingga hari ini. Dan selama organisasi-organisasi itu masih berdasarkan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman hidup seorang Muslim, jika kita bukan aktifis, kader atau pengurus dari salah satu organisasi tersebut, setidaknya kita tidak ikut merusak dan mencela mereka yang menjadi kader dan pengurus organisasi dakwah.

Dan jika kita adalah salah satu kader atau pengurus salah satu organisasi dakwah Islam, hendaklah kita berbuat baik dan bermuamalah dengan mereka yang berorganisasi Islam di luar kita, sebagaimana hidup bertetangga.

Tetapi hendaknya setiap kader dan pengurus tidak saling merusak ukhuwwah dengan mencetuskan konflik dengan organisasi lain. Jika ini terjadi, maka keberadaan organisasi Islam hanya menjadi beban tambahan bagi ummat Islam Indonesia. Sehingga menimbulkan kefanatisan atau ta’ashub yang mengakar.

Hendaklah setiap dari kita menempatkan dengan sewajarnya dalam menyikapi organisasi sebagai wasilah dakwah Islam. Bukan malah menggantikan Islam sebagai agama yang hakiki.

Disusun oleh:
Alfaruqi
Mahasiswa Universitas Islam Madinah Saudi Arabia

Puasa Melahirkan Dimensi Sosial

Selain berdimensi spiritual, puasa juga berfungsi melahirkan dimensi sosial. Melatih kepekaan kita dan mendidik jiwa kita untuk perduli kepada sesama. Bukan hanya menjaga hubungan baik kita dengan Allah (hablumminallah) melainkan menjaga hubungan baik kita dengan manusia (hablumminannas) juga merupakan hal yang utama.

Ada satu fenomena tentang kemanusiaan yang cukup mengusik hati kita, yaitu ketika seorang Syeikh di Makkah memberikan kajian tentang Ramadhan. Kemudian di akhir kajian, dibuka dialog interaktif. Ada seorang bapak dari Somalia berusia tujuh puluh tahun bertanya melalui telepon. Bapak tersebut menanyakan prihal puasa, “Wahai Syeikh, jika saya tidak berbuka dan tidak sahur, apakah puasa saya tetap sah?”. Mendengar pertanyaan tersebut, sang Syeikh tidak mampu menjawab, beliau hanya terdiam dan meneteskan air mata. Karena beliau tau, bapak tua tadi tidak berbuka dan tidak sahur karena memang tidak ada apapun yang bisa dimakan dan diminum. Karena kita tau bahwa Somalia adalah negara yang sering terjadi kekeringan dan banyak fenomena kelaparan di sana.

Sungguh gambaran di atas menyayat relung hati kita. Bahwa masih ada saudara kita, seiman dan seagama yang tidak bisa berbuka dan sahur karena mereka tidak punya apapun untuk dimakan dan diminum. Di saat kita bisa menikmati indahnya berbuka dan sahur dengan hidangan makanan yang tersaji berbagai macam menu. Ternyata banyak saudara kita di belahan dunia lain yang membutuhkan kepedulian dan pertolongan kita. Bahkan bisa jadi ada juga saudara atau tetangga terdekat kita yang mengalami nasib sama yaitu sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Seorang ulama bernama Muhammad Ja’far bin Ash-Shadiq pernah mengatakan, “Kalau ingin melihat kedalaman agama seseorang, jangan lihat berapa banyak dia sudah mengerjakan sholat. Bukan pula dilihat dari seberapa sering dia berpuasa. Tapi kedalaman agama seseorang dapat dilihat dari caranya memperlakukan orang lain secara baik.” Dalam hal ini Rasulullah juga bersabda:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bila kita tidak rela melihat diri kita, keluarga kita menderita dan sengsara, maka kita juga tidak boleh rela melihat saudara kita, tetangga kita sengsara. Bahkan kita tidak dikatakan beriman ketika malam kita tidur dengan keadaan kenyang sedangkan ada tetangga kita yang tidur dalam keadaan lapar. Sehingga dalam hal ini Rasulullah mengajarkan ketika kita memasak sayur maka dibanyakkan kuahnya agar dapat berbagi dengan tetangganya. Karena pagar mangkok lebih kuat dan kokoh daripada pagar tembok.

Allah juga berfirman dalam surat Ali Imran ayat 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيم

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Memberikan yang terbaik dan paling kita cintai kepada saudara kita sebagai wujud kepedulain adalah bukti iman kita dan tercatat sebagai kebajikan yang sempurna. Di akhir artikel ini, ada satu kisah di masa Nabi Musa AS. Ketika itu ada seseorang meminta Nabi Musa untuk menanyakan kepada Allah, apakah dirinya masuk surga. Setelah ditanyakan kepada Allah, ternyata jawabannya dirinya tidak masuk surga. Orang itupun heran dan tidak terima, karena merasa ibadahnya siang malam dan semua yang diperinyahkan Allah dikerjakan. Lantas orang itu meminta Nabi Musa untuk menanyakan kepada Allah sekali lagi, apakah dirinya masuk surga. Jawaban Allah yang kedua, bahwa dirinya masuk surga.

Apa yang menyebabkan seorang tersebut masuk surga padahal sebelumnya dia sudah divonis tidak masuk surga. Ternyata ketika Nabi Musa menanyakan yang kedua kalinya, terbersit dalam hati seorang tersebut, “Ya Allah, jika memang diriku masuk neraka. Maka besarkanlah badanku agar tidak ada satupun manusia yang masuk neraka. Cukup diriku saja yang merasakan pedihnya siksaan neraka.” Dengan niat dan hati tulus ingin berkorban demi saudaranya dan mengorbankan dirinya agar saudaranya selamat, maka itulah yang kemudian mengundang ridha dari Allah SWT sehingga dirinya masuk surga.

Wallahua’lam.

Disusun oleh :
Beta Pujangga
Rumah Tarjih Muhammadiyah

Gerhana Mematahkan Konsep Atheisme

Peristiwa gerhana yang sudah diprediksikan secara ilmiah akan terjadi pada malam hari ini,  Rabu, 31 Januari 2018 mulai pukul 18:48 WIB dan menjadi gerhana total pada pukul 19:52. Sesuai dengan syariat islam, yang disampaikan _Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam_

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ}
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)

Gerhana yang _in syaa Allah_ akan kita saksikan adalah gerhana supermoon. Astronom Observatorium Boscha, Mohammad Irfan mengatakan bahwa fenomena supermoon nanti bulan kemungkinan akan berwarna merah kegelapan karena bulan berada berdekatan dengan pusat kerucut bayang umbra. Dapat kita buktikan bersama benda langit yang mengharmoni menjadi peristiwa gerhana supermoon ini tidak bukan adalah kekuasaan Yang Maha Menciptakan, Allah _Subhanahu wata’ala_

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kaliann sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Peristiwa ini membantah bahwa gerhana dan semua benda – benda langit terjadi sendiri, automatis dan tidak ada yang menciptakannya. Tidak ada manusia, hewan, tumbuhan, atau benda langit lain (alien sekalipun) terkonfirmasi dan terbukti ilmiah dapat membuat gerhana. *Ini menunjukkan Tuhan itu ada.*

Allah Azza wa Jalla menciptakan adanya peristiwa gerhana adalah  menjadikannya sebagai perimgatan agar hamba-hamba-Nya takut kepada-Nya. Maka tatkala terjadi gerhana hendaklah umat manusia segera ingat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan segera menyadari bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala sedang mengingatkan kelalaian mereka dengan ancaman adzab-Nya. Dari sini, jelaslah bagi kita kesalahan kebanyakan kebanyakan orang yang justru menjadikan fenomena gerhana tersebut sebagai hiburan bagi mereka. Ketika ada informasi bahwa gerhana akan terjadi pada hari tertentu pada jam tertentu, maka mereka bersiap dengan kamera dan teropong masing-masing, mencari tempat-tempat strategis untuk menyaksikan peristiwa ”indah” tersebut. Sungguh sangat jauh dari mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala, apalagi menyadari itu sebagai peringatan dari-Nya. Kesalahan ini akibatmenganggap gerhana sebagai kejadian antariksa biasa, yang bersumber dari sikap mengandalkan sains, tanpa mau mengundahkan berita dari Allah Subhanahu wa ta’ala, Pencipta dan Penguasa seluruh  alam dengan segenap galaksi dan langit yang ada didalamnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Ini bantahan terhadap ahli astronomi yang mengira bahwa gerhana merupakan peristiwa biasa, tidak akan maju atau mundur.”

Islam memberantas segala keyakinan/ aqidah batil, diantaranya yang bersumber dari astrologi (ahli nujum) yang meyakini bahwa pergerakan/ peredaran bintang, planet dan benda-benda langit lainnya memberikan pengaruh/ ada kaitannya dengan kejadian-kejadian di bumi. Yang dikenal sebagai zodiak, shio, atau nama yang lainnya sesuai dengan agama asal masing-masing yang digagas oleh para filosof, rohaniawan atau paranormal. Termasuk kejadian gerhana yang diyakini sebagai tanda atau sebab (bakal) terjadi peristiwa atau bencana besar di muka bumi. Ini semua adalah batil. Seorang mikmin yang berpegang pada kemurnian tauhid harus meninggalkan keyakinan-keyakinan tersebut. Sangat disayangkan, ada sebagian di antara kaum muslimin yang masih percaya dengan ramalan-ramalan bintang, termasuk pula mitos/ legenda seputar gerhana, atau meyakini peristiwa gerhana ada hubungan dengan bencana alam atau lainnya. Al-Imam al-Khaththabi Rahimahullah berkata, ”Dulu mereka pada masa jahiliyyah berkeyakinan bahwa gerhana menyebabkan terjadinya perubahan di muka bumi, berupa kematian, bencana dan lain-lain. Maka Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan bahwa itu adalah keyakinan batil. Sungguh matahari dan bulan itu adalah dua makhluk yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Keduanya tidak memiliki kekuatan mempengaruhi sesuatu yang lainnya, tidak pula memiliki kemampuan membela diri.” ( lihat Fathul Bari hadits no. 1040)

Adapun mitos seperti : Makanan Terpapar Racun; Bulan Dimakan Buto (Makhluk Raksasa), serigala, naga; Orang hamil tidak boleh keluar rumah, penyebab bibir sumbing; itu semua adalah kebohongan dari syetan, yang berupa jin atau manusia. Syetan suka sekali membuat orang jauh dari akidah tauhid yang benar.

Saat gerhana bulan atau matahari, *kita diperintahkan untuk berlindung dengan dzikir dan memperbanyak istighfar*. Mari kita siapkan, untuk hari ini, malam ini, berapa banyak istighfar yang mampu kita lafalkan? malulah kalau istighfar kita kurang dari 100 kali. Nabi Muhammad, teladan kita, junjungan kita, yang rindu kepada umatnya, yang dapat memberi kita syafaat, saat kondisi sehari – hari, *tidak kurang dari 100 kali beristighfar*.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(( يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِيْ اليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ )) رواه مسلم.
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).

Ini peristiwa gerhana teman-teman. Tidakkah kita melihat bagaimana _Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam_ takut ketika terjadi gerhana matahari? Bayangkan rekan-rekan, jika saat gerhana matahari bukan sekedar gerhana biasa, di mana Allah mencabut gelapan di muka bumi ini lalu *tiba – tiba matahari terbit dari arah barat, dan sudah tidak ada lagi masa untuk bertaubat*.

(( مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ)) رواه مسلم.
“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

*Istighfar itu dahsyat*. Kita yang sudah bersedia menjadi orang beriman, yang menyatakan diri dengan syahadat, selayaknya meyakini bahwa Allah yang memberikan rezeki kepada kita. Salah satu amalan yang menghilangkan penghambat rezeki adalah istighfar. Antum ingin lulus sekolah? ingin dapat gaji lebih banyak? ingin punya anak? ingin hidupnya mudah? bisnis lancar? atau bahkan ingin menikah? *beristighfarlah*

(( مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ )) رواه أبو داود.

“Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)

Dorongan mencari rizki kerap menyebabkan banyak orang terpental dari jalan yang lurus. Padahal Islam, sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh dimensi kehidupan seorang hamba, telah memberikan solusi yang begitu jelas dalam usaha memperlancar rizki.
Di antara tuntunan yang ditawarkan untuk menggapai tujuan tersebut: *memperbanyak istighfar*, bukan hanya beristighfar, tapi memperbanyak istighfar. Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,

“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً” (نوح: 10-12)
Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”. QS. Nuh: 10-12.

Lihatlah rekan-rekan, istighfar kita tidak hanya berdampak pada diri kita namun untuk orang sekitar kita, terutama orang tua kita. Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: Allah tidak mengurangi pahala amalan anak-anak lantaran sedikitnya amalan mereka. Dan pula, tidak mengurangi pahala para orang tua sedikit pun, meskipun menempatkan keturunan mereka bersama dengan orang tua mereka (yang berada di derajat yang lebih tinggi, Pen.).[ Al-Jâmi’ li Ahkamil-Qur`ân, 17/60

Atau dengan pengertian lain, seperti diungkapkan oleh Imam ath-Thabari: Allah tidak mengurangi ganjaran kebaikan mereka sedikit pun dengan mengambilnya dari mereka (para orang tua) untuk kemudian Kami tambahkan bagi anak-anak mereka yang Kami tempatkan bersama mereka. Akan tetapi, Kami beri mereka pahala dengan penuh, dan (lantas) Kami susulkan anak-anak mereka ke tempat-tempat mereka (para orang tua) atas kemurahan Kami bagi mereka.[ Jâmi’ul-Bayân, 27/34

Demikianlah, keutamaan dan kemurahan yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para orang tua melalui doa anak-anaknya, tertuang pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”.

*Rasakan istighfar antum untuk menanti Rahmat Allah*. Kita mohon ampunan Allah atas diri yang penuh dengan dosa dan maksiat. Tentu momen gerhana Supermoon malam ini akan menjadi pemacu diri untuk menjadi supermuslim, muslim yang taat, muslim yang hebat, muslim yang berbeda dengan manusia biasanya yang hidup pasrah, menyerah dan hidup tanpa rencana. Melalui istighfar malam ini lah, mari bulatkan tekat kita untuk istiqamah dalam _fi sabilillah_, renungi langkah kita, dan bermuhasabah untuk mempersiapkan diri agar layak bertemu dengan sosok manusia yang berwajah menentramkan, yang menunggu kita, yang merindukan kita. Manusia yang wajahnya bak purnama, yang kelak akan memberikan syafaat bagi kita, sehingga pada akhirnya kita yakin, melalui jalan yang dituntunkannya, Muhammad _Shallallahu ‘Alaihi Wassalam_, kita menjadi orang yang diselamatkan di kehidupan dunia dan akhirat.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim atas sekalian alam, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”

[Shahih, HR Muslim 2/16, Abu Dawud no. 980, At Tirmidzi 5/37-38, An Nasa-i dalam “Sunan” nya 3/45, Ahmad 4/118, 5/273-274, Ibnu Hibban dalam “Shahih” nya no. 1949, 1956, Baihaqi dalam “SUnanul Kubra” 2/146,dan Imam Malik dalam “AL Muwaththo’ (1/179-180 Tanwirul Hawalik Syarah Muwaththo'”]

Allahu a’lamu bisshowab

Disusun oleh :
Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng.
Wakil Ketua Mualaf Center Yogyakarta

Sudah Sempurnakah Thaharahmu?

Pembahasan Seputar Mani, Madzi, dan Wadi

Ada 3 jenis cairan yang biasa keluar dari kemaluan laki-laki maupun wanita, yaitu mani, madzi, dan wadi. Dan pada masing-masingnya terdapat konsekuensi hukum yang berbeda.

? Mani
Mani memiliki bau yang khas, tidak terlalu pekat, keluar dalam keadaan cepat (memancar) diiringi rasa nikmat, dan membuat lemas setelah keluarnya. Warna mani pada laki-laki dan wanita berbeda.

Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda,

مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيْظٌ أَبْيَضُ وَمَاءُ الْمَرْأَةِ رَقِيْقٌ أَصْفَرُ

_“Mani laki-laki itu kental dan berwarna putih sedangkan mani wanita tipis/halus dan berwarna kuning.”_ (Hadis sahih; diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Mani tidak hanya dikeluarkan oleh laki-laki, tetapi juga wanita. Ummu Sulaim (ibunda Anas bin Malik) _radhiallahu ‘anhum,_ datang kepada Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ dan bertanya, _“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi jika dia mimpi basah (mengeluarkan mani)?”_

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ
_“Ya, apabila wanita melihat air mani (mengeluarkan mani) maka (ketika dia bangun) dia wajib mandi.”_

Ummul Mukminin Ummu Salamah _radhiallahu ‘anha,_ yang waktu itu berada di sampingnya, tertawa dan bertanya, _“Apakah wanita juga mimpi basah (mengeluarkan mani)?”_

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
فَبِمَا يُشْبِهُ الْوَلَدُ
_“Iya. Dari mana anak itu bisa mirip (dengan ayah atau ibunya kalaupun bukan karena mani tersebut)?”_ (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana keterangan dari hadits di atas, seseorang yang mengeluarkan mani maka ia dalam kondisi berhadats besar, disucikan dengan *mandi wajib.* Ketika air mani masih basah maka bagian pakaian yang terkena mani harus di cuci. Jika kondisi sudah kering cukup dengan mengeriknya. Ulama berbeda pendapat dalam masalah mani itu najis atau suci.

Kami sarankan, jika tidak darurat, pakaian yang terkena mani tetap dicuci. Meskipun zat mani nya suci, tetap ada zat yang lain yang menyertai keluarnya mani yaitu madzi, yang ulama sepakat bahwa itu najis.

أَنَّ رَجُلاً نَزَلَ بِعَائِشَةَ فَأَصْبَحَ يَغْسِلُ ثَوْبَهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّمَا كَانَ يُجْزِئُكَ إِنْ رَأَيْتَهُ أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ تَرَ نَضَحْتَ حَوْلَهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيهِ.

_“Ada seorang pria menemui ‘Aisyah dan di pagi hari ia telah mencuci pakaiannya (yang terkena mani). Kemudian ‘Aisyah mengatakan, “Cukup bagimu jika engkau melihat ada mani, engkau cuci bagian yang terkena mani. Jika engkau tidak melihatnya, maka percikilah daerah di sekitar bagian tersebut. Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut.”_ [HR. Muslim nomor 288]

? Madzi
Madzi merupakan cairan bening, pekat, tak berbau, keluar dalam keadaan lambat, saat keluarnya tidak disertai rasa nikmat dan lemas, kadang tidak terasa, dapat keluar saat seseorang terangsang nikmat nyaman melalui panca indera.

Madzi dapat keluar saat aktivitas saling merayu ikhwan kepada akhwat atau sebaliknya secara langsung (bertemu, bergandengan, mengobrol) atau tidak langsung (seperti chatting, sms, kirim foto, krim video), pemanasan sebelum hubungan intim, atau pun sekedar menggeliat / peregangan otot saat bangun tidur. Orang yang mengeluarkannya telah berhadats kecil maka harus *bersuci dengan wudhu* jika ada air atau tayamum jika darurat.

Cara mensucikannya dengan mencuci bagian yang terkena, minimal dialiri air (_dikucek_ sampai bekasnya hilang). Sebagian ulama memaknai hadist riwayat muslim nomor 288 pada pembahasan sebelumnya, tentang Aisyah _radhiyallahu ‘anha_

“Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut”

bahwa yang dimaksud dengan air mani tersebut adalah madzi yang mengering. Ketika madzi mengering, maka bekasnya seperti lem, yang bisa dikerik, sedangkan mani berupa cair dan meresap pada kain dan berbau khas.

? Wadi
Wadi adalah cairan yang keluar dari kemaluan, warnanya putih keruh, agak pekat cair, yang biasa keluar ketika setelah kencing, berkerja keras, mengangkat beban berat, berjalan jauh, atau keluar karena kencing yang tidak tuntas. Hukum wadi adalah *najis,* sehingga wajib untuk dicuci dan orang tersebut *harus berwudhu*. Jika kencing tidak tuntas, maka air wadi dapat keluar bahkan ketika dia dalam keadaan shalat, dan terasa risih di kemaluan. Maka setelah shalat harus di periksa. Jika ada bekasnya, maka bagian pakaian yang terkena dibersihkan, berwudhu, dan shalat diulangi. Namun jika yakin keluarnya tidak saat shalat (saat dzikir), maka shalat tidak perlu diulangi.

Wadi adalah cairan yang paling mudah dibedakan, karena seringnya wadi keluar sesaat setelah kita kencing. Sedangkan antara mani dan madzi perlu kecermatan dalam membedakannya.

‼Terkhusus untuk wanita, selain darah haid dan nifas, hal yang sering membingungkan status hukumnya adalah *cairan keputihan / “ifrazat”.* Secara medis keputihan disebut dengan _“flour Albus”_ yaitu semacam cairan yang keluar dari vagina wanita. Keputihan ini ada dua jenis, yaitu normal (fisiologis) dan keputihan penyakit (patologis). Keputihan normal keluar menjelang menstruasi atau sesudah menstruasi ataupun masa subur.

Jika keputihan yang keluar diiringi dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina maka disebut keputihan penyakit (patologis) yang disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus atau jamur). Jika cairan yang keluar sampai berwarna kekuningan atau kehijauan serta ada bau busuk yang menyengat, alangkah baiknya segera diperiksakan ke dokter.

Ulama berbeda pendapat tentang status kenajisannya. Imam Malik dan sebagian ulama mengatakan bahwa itu najis, karena keluar dari jalan yang biasa keluarnya najis. Ulama lain berpendapat itu tetap najis karena serupa dengan madzi. Ada kemungkinan juga, cairan tersebut bercampur dengan wadi atau madzi. Dalam kasus lain, misal setelah berhubungan suami istri, cairan tersebut dapat tercampur dengan air mani yang menetes dari dalam rahim. Idealnya, wanita harus tetap bersih dari cairan yang bau dan kotor, serta mampu menjaga wudhu. Namun jika kondisi sangat menyulitkan misal karena penyakit, maka Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata

فإنه ينقض الوضوء وعليها تجديده، فإن كان مستمراً، فإنه لا ينقض الوضوء

_“Keluarnya keputihan membatalkan wudhu dan wajib baginya mengulangi wudhu, jika keluar terus-menerus, maka tidak membatalkan wudhu.”_ [ Majmu’ Fatawa 1/284-286 ]

Sedangkan Imam Hanafi menganggap itu suci seperti halnya cairan yang keluar dari tubuh (ingus, keringat, dan ludah). *Keputihan pada wanita bukan keluar dari saluran kencing, tetapi keluar dari saluran yang berhubungan dengan rahim.* Ulama yang berpendapat tentang sucinya keputihan berpegang pada dalil ‘Aisyah yang mengerik mani pada pakaian Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam._ Kita pahami bahwa kegiatan mengerik pasti tetap akan meninggalkan bekas walaupun hanya sedikit, dan Rasulullah tetap menggunakannya untuk sholat. Pada kitab-kitab hadits juga tidak didapatkan dalil yang secara tegas menyatakan najisnya keputihan, sehingga hukum keputihan kembali kepada hukum asal segala sesuatu, yaitu suci.

Syaikh Musthofa al-Adawi, seorang dai dari Mesir, setelah membawakan perselisihan pendapat ulama dalam masalah ini, beliau mengatakan,

وبإمعان النظر فيما سبق؛ يتضح أنه لم يرد دليل صريح على أن رطوبة فرج المرأة نجسة. وأما ما أورده البخاري من حديث وفيه: يتوضأ كما يتوضأ للصلاة ويغسل ذكره؛ فليس بصريح في أن غسل الذكر إنما هو من رطوبة فرج المرأة، ولكن محتمل أن يكون للمذي الذي خرج منه كما أمر النبي صلى الله عليه وسلم المقداد لما سأله عن المذي؛ فقال: توضأ واغسل ذكرك فعلى ذلك تبقى رطوبة فرج المرأة على الطهارة

Dengan melihat lebih mendalam terhadap keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalil tegas yang menunjukkan bahwa keputihan wanita hukumnya najis. Sementara hadis yang dibawakan Bukhari, yang ada pernyataan, “Dia harus berwudhu sempurna dan mencuci kemaluannya..” tidaklah menunjukkan dengan tegas bahwa mencuci kemaluan dalam kasus itu, disebabkan keputihan wanita. Namun bisa juga dipahami karena madzi. Sebagaimana Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ memerintahkan al-Miqdad ketika dia bertanya tentang madzi, jawab Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam,_ ‘Dia harus berwudhu dan mencuci kemaluannya.’ Oleh karena itu, keputihan yang ada di organ reproduksi wanita, statusnya suci. (Jami’ Ahkam an-Nisa, 1/66).

Kami pribadi cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa *keputihan itu suci dan tidak membatalkan wudhu* sebagaimana keterangan terakhir

? Menjaga Kebersihan Celana Dalam
Hal ini penting untuk ditekankan kepada setiap muslim. Sering repot ketika berada di luar rumah apalagi saat perjalanan jauh, cairan dari kemaluan tidak sengaja keluar. Maka kami sarankan untuk memasang pelapis pada celana dalam agar cairan tersebut tidak mengenai kain.

Para ikhwan bisa melapisi dengan tisu terutama saat bekerja keras atau perjalanan jauh. Ketika akan melaksanakan shalat, maka lapisan yang kotor dibuang terlebih dahulu. Celana dalam, juga harus diganti secara berkala, umumnya sehari sekali. Batasan setiap orang berbeda-beda. Cara membedakan bersih atau kotor salah satunya dengan mencium baunya.

Selain itu, setelah melakukan kencing atau BAB, maka dituntaskan terlebih dalulu agar semua cairan dalam saluran kencing keluar. Bisa dengan menekan otot perut, mengurut saluran kecing (laki laki) atau memijat bagian kandung kemih sewajarnya, kemudian ditunggu beberapa saat hingga yakin tidak ada rasa risih (akibat sisa cairan) pada kemaluan. Selain itu, agar kemaluan tidak mengeluarkan cairan yang tidak diinginkan, terutama saat shalat atau saat perjalanan jauh (akan merepotkan ganti pakaian/cuci pakaian dan wudhu), maka hindari aktivitas yang mengundang rangsangan dari lawan jenis, jaga pikiran dan hati. Setiap muslim juga dianjurkan untuk menjaga fisik dengan olah raga rutin minimal 20 menit per hari supaya cairan yang keluar dari kemaluan juga terkendali.

Jika ada cairan yang keluar dari kemaluan terus menerus dan dianggap tidak wajar, maka segera periksakan ke dokter. Dalam beberapa kasus, puasa rutin (seperti puasa daud atau senin-kamis) menjadi solusi bagi orang yang sering keluar madzi atau wadi, terutama bagi anak muda di usia baligh dan produktif. Apabila hal itu divonis adalah penyakit yang membutuhkan waktu penyembuhan agak lama (seperti pemasangan kateter urin paska operasi), maka in syaa Allah ada keringanan dalam bersuci.

Wallahu a’lam bisshawab

Disusun oleh:
Isti Qona’atun, S.Gz.
Pengajar Tahsin dan Tahfidz

Menjaga Niat Hijrah

1. Arti Hijrah
Hijrah dari kata هَجَرَ – يهجر Artinya : 1. pindah, meninggalkan negeri asal, berimigrasi; 2. meninggalkan, melarikan diri, melarikan diri dari tugas militer, desersi, melepaskan diri, meninggalkan, berhenti; 3. mendiamkan, tidak menyapa, tidak mengajak berbicara
Orang yang berhijrah harus punya bekal
Kalau orang pergi pergi ke suatu tempat tidak bawa bekal sama sekali, maka dia cenderung akan merepotkan orang lain. Bahkan tidak jarang orang nekat cari kerja di Jakarta misalnya, tidak punya bekal sama sekali, maka dia akan menjadi pengangguran dan mengemis di jalanan. Resiko lain orang hijrah tanpa bekal adalah berbalik arah, kembali ke kehidupan yang lama. Menyerah memang jauh lebih mudah*. Dia tidak mampu melawan bisikan syetan yang muncul dari berbagai arah, baik syetan berwujud jin dan manusia.
Maka dari itu, bekal utama orang hijrah ada 3,
  1. Keimanan, percaya setiap keputusan yang diambil akan menjadikan dirinya lebih baik.
  2. Ketaqwaan, taat kepada Al-qur’an dan sunnah serta bersikap hati-hati dan waspada dalam bertindak di mana kita selalu diawasi Allah Subhanahu wa ta’ala.
  3. Keilmuan, mampu mencari informasi dan mengoptimalkan potensi diri supaya menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, kuat, mandiri, ber agama dengan benar, berbuat yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi umat manusia.
Ada tiga jenis hijrah:
  1. Hijratul makan (cari tempat yang lebih baik)
  2. Hijratul fa’il (cari sahabat yang lebih baik)
  3. Hijratul ‘amal (cari prilaku yang lebih baik)
2. Hadiah bagi orang yang hijrah
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” -Sura An-Nisa’, Ayat 100

 
3. Bagaimana Cara Hijrah?
     a. Niat karena Allah dan Rasulullah
  • 1- وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى‏.‏ رضي الله عنه، قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏*”‏ إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‏”*‏ ‏(‏‏(‏متفق على صحته‏.‏ رواه إماما المحدثين‏:‏ أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‏)‏‏)‏‏.‏
  • _1. Dari Amirul mu’minin Abu Hafs iaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda [3] :
  • “Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehoinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.”(Muttafaq ‘alaih)_
  • Murnikan tujuan hijrah antum karena ingin dekat dengan Allah dan Rasulullah, bukan untuk dapat harta, benda, jabatan, popularitas, ingin dipuji, wanita atau kesenangan semu lainnya.
  • Bangunlah perasaan ingin sekali masuk surga, berjumpa dengan Rasulullah, ingin menatap wajah Allah, ingin mendapatkan kenikmatan abadi. Munculkan keinginan itu seperti hal nya antum sangat ingin sekali masuk ke sekolah/universitas/tempat kerja/bahkan tempat liburan favorit. Tentunya setiap keinginan kita pasti ada harganya.
     b. Hijrah dengan berjihad (berjuang sungguh-sungguh) 
  • تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
  • (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” -Surat As-Saf, Ayat 11
  • Jika sudah memutuskan untuk hijrah, ujian pasti ada. Kesiapan kita dalam harta dan jiwa pasti diperlukan. Antum ingin istiqamah shalat berjama’ah di Masjid maka harus rela mengorbankan waktu bermain antum.
  • Jika ingin kaya, usahanya sukses, pintar, ahli dalam suatu bidang harus jihad perbanyak shadaqah. Beranikan diri untuk bayar setiap harga yang mampu melejitkan potensi antum, yang bisa untuk meningkatkan hasanah hidup di dunia dan akhirat
     
     c. Hindari Riya
  • Ada beberapa orang yang menjadi  “korek api” nya neraka
    • Orang membaca Al Qur’an supaya disebut qori
    • Orang yang bershodaqoh karena ingin dikenal dermawan
    • Orang perang jihad fi Sabilillah karena ingin dianggap pahlawan
    • Orang berilmu supaya dikenal sebagai ‘alim
  • وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

    “Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria dan kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.” -Surat An-Nisa’, Ayat 38

  • Penyakit riya dalam hijrah itu adalah noda. Hati-hati dengan hal ini karena riya dekat dengan kesombongan. Kesombongan dekat dengan syirik.
 
     d. Beribadah dengan penuh keikhlasan
  • وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” -Sura Al-Bayyinah, Ayah 5

  • Ilmu ikhlas itu tidak mudah diterapkan, perlu ilmu lalu hafalkan lalu dipahami lalu diamalkan lalu konsisten menjaga amal lalu ikhlas lalu konsisten menjaga keikhlasan agar kita dijaga Allah dan selamat di dunia dan akhirat.
  • Zaman now ini banyak sekali fitnah dunia, baik di alam maya maupun realita. Tidak jarang banyak orsng terlihat baik, tapi terbukti seorang koruptor, pengedar narkoba, penyebar hoax, pezina, dan sebagainya.
  • Menjaga keikhlasan adalah ikhtiar kita dalam memenangkan fitrah hati nurani dalam taqwa di atas nafsu syahwat yang fujur
    e. Selalu berusaha dan berdoa
  • وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” -Sura Al-Baqarah, Ayah 186

  • Sesungguhnya Allah itu dekat dengan hamba-Nya. Carilah saat-saat doa itu mustajab, termasuk cari kesempatan supaya kita di doakan Malaikat, dijaga Allah, dimudahkan segala urusan kita dan dilapangkan dada menghadapi hal yang tidak diinginkan.
Wallahu a’lamu bishowab.

Disusun oleh:
Ridwan Wicaksono S.T., M.Eng.
Wakil Ketua Mualaf Center Yogyakarta