Mustaka Masjid Gedhe

Tidak seperti puncak atap masjid lain yang berbentuk kubah yang merupakan ciri bangunan Timur Tengah, maka puncak Masjid Gedhe tidak disebut dengan kubah melainkan “Mustaka” yang berarti “kepala”.

Mustaka Masjid Gedhe berbentuk sebuah “gada” yang berdiri tegak.

Dalam terminologi jawa, gada adalah senjata pamungkas untuk mengalahkan musuh. Dalam cerita pewayangan semua ksatriya selalu bersenjatakan gada ketika senjatanya sudah tidak berguna atau rusak.

Gada yang berdiri tegak pada mustaka Masjid Gedhe merupakan simbolisasi kemahaesaan atau Tauhid yang merupakan landasan utama dalam ajaran Islam, sekaligus mengajarkan bahwa ketika senjata ataupun usaha kita sudah mentok dan tidak membuahkan hasil maka sudah saatnya kita harus Kembali pada Allah.

Disekitar Gada terdapat hiasan berbentuk “daun kluwih”. Kluwih merupakan simbol dari kata “linuwih” yang berarti mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Dalam hal ini kata linuwih mengandung arti bahwa hanya Allah yang mempunyai kekuasaan untuk menolong manusia dari permasalahannya.

Selain daun kluwih juga terdapat hiasan “bunga” di sekitar gada, simbolisasi bahw orang yang telah mempunyai keimanan dan Tauhid yang tinggi maka namanya akan harum dan disukai banyak orang.

Pada puncak di bawah gada terdapat hiasan berupa daun “nanas” berasal dari kata annas yang bertarti manusia, sebagai simbolisasi bahwa orang yang linuwih adalah orang yang paling dekat dengan Allah sekaligus sebagai simbol bahwa orang yang linuwih adalah orang yang bisa menjaga hubungan antara manusia dengan Allah (hablumminallah) dan juga bisa menjaga hubungan manusia dengan manusia (Hablumminannas).

 

Tajuk Lambang Teplok

 

Dalam tradisi bangunan kraton konsep dan bentuk atap hampir selalu sama yaitu berbentuk limasan  bersusun tiga. Atap seperti ini biasa disebut dengan “Tajuk , Lambang , Teplok” yang bermakna lampu penerang yang menempel atau tergantung di dinding.

Tajuk Lambang Teplok adalah sebuah filosofi jawa yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam  yaitu “hakekat, syariat dan ma’rifat”.

Sebuah makna yang menggambarkan proses dan tahapan  seseorang dalam menjalani  Agama  Islam. Selain itu ada pula yang mengartikan Islam, Iman dan Ihsan.

Hakekat mengandung makna  orang – orang yang pada hakekatnya telah mengaku Islam tetapi belum menjalankan syariat Islam. Pada tahap berikutnya orang yang telah memeluk agama Islam telah mulai  menjalankan syariat Islam, pada tahap ini orang tersebut sudah bisa disebut sebagai orang beriman, namun  itupun belum menjamin seseorang untuk menjadi orang yang baik karena masih banyak orang yang telah menjalankan syariat Islam namun masih melakukan kemungkaran  atau perbuatan buruk yang disebabkan karena ia belum mengenal Allah dengan baik (Ma’rifatullah).

Orang yang telah mengenal Allah (Ma’rifatullah) akan selalu berbuat baik karena dia merasa selalu diawasi Allah, dan inilah yang disebut dengan Ikhsan yang merupakan tingkatan tertinggi seseorang dalam memeluk agama Islam.

Orang yang telah mencapai Ma’rifat akan mempunyai keyakinan Tauhid yang tinggi, sehingga dia akan mempunyai kelebihan atau linuwih dibandingkan orang lain.

 

Pawestren Masjid Gedhe

 

Pawestren berasal dari kata “pawestri” yang artinya adalah wanita.

Pawestren  adalah salah satu ruangan yang ada di Masjid Gedhe yang terletak di sisi selatan ruangan utama Masjid Gedhe.

Pawestren adalah ruangan yang dibuat khusus oleh Sultan HB I untuk para wanita yang ingin mengikuti jamaah sholat Jum’at di Masjid Gedhe, sehingga ruangan ini tidak dibuka dan tidak digunakan untuk sholat kecuali pada saat sholat Jum’at untuk jama’ah Putri.

Peraturan ini tertulis pada paugeran pawestren yang terpahat di atas pintu masuk ruang pawestren .

Bacaan huruf jawa :

Pasalatan wanita: botên kénging mênga kajawi hadintên jumungah sinêngkalan “pyandana yotah sapdaning jalma” sewu pitungatus sawidak pitu.
Artinya :
Tempat shalat wanita: tidak boleh buka kecuali pada hari Jum’at dengan sengkalan “pyandana yotah sabdaning jalma” seribu tujuhratus enampuluh tujuh (1767).

(sumber terjemahan huruf Jawa : Mas Koko Kauman)

 

 

Pabongan

Pabongan adalah salah satu tempat  yang terletak di sisi utara halaman Masjid Gedhe Kauman.

Pabongan berasal dari kata “obong”. Pabongan tempat untuk obong-obong yang berarti dapur.

Pabongan adalah sebuah tempat yang berfungsi sebagai dapur bagi abdi dalem Kraton yang bertugas mengelola Masjid Gedhe Kauman. Selain itu juga sebagai tempat untuk mempersiapkan logistik atau keperluan makan dan minum bila ada acara yang diselenggarakan di Masjid Gedhe Kauman.

Pada masa lalu , seluruh abdi dalem Kraton hanya boleh masuk masuk ke dalam Masjid untuk menunaikan sholat atau keperluan lain melalui pintu ini dan tidak diperkenankan melalui pintu yang lain, sedangkan Pabongan mempunyai dua pintu yaitu pintu yang menghadap ke utara dan menghadap ke timur.

Peraturan ini tertulis terpahat pada kusen pintu masuk Pabongan yang menghadap ke timur.

Berikut terjemahan tulisan yang ada di pintu masuk Pabongan.
Tulisan :    Kori pabongan marginé abdi dalêm ingkang sami salat padintênan sinêngkalan “panêmbahing ing ngalmang ngêsti puji” 1822.

Artinya :      Pintu Pabongan jalan bagi abdi dalem yang menjalankan salat setiap hari dengan sengkalan panembahing hing ngalmang  ngesti puji 1822.

sumber terjemahan huruf Jawa : “Mas Koko” Kauman.

 

 

Prasasti Peletakan Batu Pertama Masjid Gedhe Kauman

Pembangunan Masjid Gedhe Kauman ditandai dengan peletakan batu pertama pada hari Ahad 6 Robi’ul akhir tahun 1188 seperti yang tertulis pada prasasti yang terletak di samping kanan pintu utama Masjid Gedhe Kauman.

اَوَّلُ بِنَاءِهَذَالْمَسْجِدِ فِى يَوْمِ الْاَحَدِ شَهْرُسِتَّتِ مِنْ شَهْرِرَبِعُ الْاَ حِرِهِجْرَةُ النُّبُوَةِ الْمُشَرِفَةِ 1188 اَسْعَدَ كُمُ اللهُ وَاَيَانَا بِمَخْضِ فَضْلِهِ وَكَرَمِهَ

Awwalu binaai hadzal masjidi, fii yaumil akhadi syahru sittati, min syahri rabi’ul akhiri, hijratun nubuwwati musyarrifati 1188 as’ada kumullahu, waiyyana bimakhdi fadlihi wa karamihi

Permulaan pembangunan masjid ini, pada hari Ahad tanggal enam, dari bulan Rabiul akhir, hijrahnya kenabian yang sangat mulia, 1188 semoga Allah membahagiakan kalian semuanya, dan kepada kita sekalian dengan semata-mata keutamaan dan kemulyaannya.

Pemut pangadegipun, masjid hageng hing dinten ahad tanggal ping nem sasi rabingulahir tahun alif sinengkalan gapura trus winayang jalma.

Peringatan berdirinya masjid besar pada hari ahad tanggal keenam bulan rabiul akhir tahun alif dengan sengkalan gapura trus winayang jalma (1699 Jw).

sumber :

M. Chawari dalam srkipsi berjudul “PASANG SURUT MASA PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN MASJID BESAR KAUMAN YOGYAKARTA”  Studi Berdasarkan Sumber Prasasti Tahun 1989

 

Robohnya Serambi Masjid Gedhe

Pada tahun 1867 di Jogjakarta terjadi gempabumi yang cukup dahsyat, yang mengakibatkan runtuhnya bangunan Serambi Masjid Gedhe, dan bahkan juga membawa korban jiwa yaitu Kyai Pengulu yang menjabat pada saat itu. Peristiwa LINDU atau gempabumi itu tercatat pada prasasti yang  terdapat di atas pintu Pabongan  dan di atas pintu Pawestren yaitu pada hari Senin Wage, pukul 5 pagi, tanggal 7 Sapar tahun Ehe.

Namun atas kebijaksanaan Sri Sultan HB VI tidak lama kemudian Sri Sultan HB VI memberikan kagungan dalem matrial ”SURAMBI MUNARA AGUNG” yang sedianya akan dipakai untuk membangun pagelaran Kraton, kemudian digunakan untuk membangun kembali Serambi Masjid Gedhe.

Pemasangannya menurut prasasti ialah : pada hari Kamis Kliwon, pukul 09 pagi, tanggal 20 Jumadilakhir tahun Jimawal”PANDITA TRUS GIRI NATA”= 1797 Jw.”GATI MURTI NEMBAH HING HYANG”= 1285 H = 1868 M.

Serambi Masjid Gedhe yang baru ini luasnya dua kali lipat dari serambi sebelumnya yang roboh, dan serambi yang baru ini masih utuh hingga sekarang dan belum pernah mengalami renovasi.

Prasasti Pembangunan Kembali Al Mahkamah Al Kabirah

Tulisan Arab :

لَمَّااِنْهَدَمَتْ هَذِهِ الْمَحْكَمَةُالْكَبِيْرَةْ مِنَ الزَّلْزَلَةِالشَّدِيْدَةْ كَانَ ذَ لِكَ قُبَيْلَ فَجْرِيَوْمِ الْاِثْنَيْنْ فِيْ سَابِعِ شَهْرِالصَّفَرْسَنَةَ 1284 اَلْفٍ وَمِأَتَيْنِ وَاَرْبَعٍ وَثَمَانِيْنْ ثُمَّ عُمِرَتْ وَبُنِيَتْ بِعَوْنِ اللهْ ضَحْوَةَ يَوْمِ الْخَمِيْس فِى الْعِشْرِيْنَ مِنْ شَهْرِجُمَادِ الْاَخِرْسَنَةَ 1285 اَلْفٍ وَمِأَتَيْنِ وَخَمْسٍ وَثَمَانِينْ مِنْ هِجْرَةِ سَيِّدِ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاَخِرِيْن صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن اَدَامَ اللهُ تَعْمِيْرَهَا طُوْلَ الْاَعْوَامْ وَحَفِظَهَا مِنَ الْاَفَاتِ وَالْاِنْهِدَامْ بِجَاهِسَيِّدالْاَنَامْ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَاَزْكَى السَّلَامْ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامْ

lammâ in hadamat hâdzihil mahkamatul kabîrah minaz zalzalatisy syadîdah, kâna zâlika qubaila fajri yaumil isnain fî sâbi’i syahris safar sanata 1284, alfin wa mi’ataini wa arba’in wa samânîn tsumma ‘ummirat wa buniyat bi’aunillâh, dahwata yaumil khamîs fil ‘isyirîna min syahri jumâdil âkhir sanata 1285, alfin wa mi’ataini wa khamsin wa samânîn min hijrati sayyidil awwalîna wal âkhirîn, shallallâhu ‘alaihi wa sallama wa âlihi wa sahbihî ajma’în, adâmallâhu ta’mîrahâ, tûlal a’wâm wa hafizahâ minal âfâti wal inhidâm bijâhi sayyidil anâm, ‘alaihi afdalus salâti wa azkassalâm wa âlihî wa sahbihil kirâm.

Artinya :
Tatkala Serambi Masjid Agung ini hancur karena gempa bumi yang sangat besar, peristiwa itu terjadi menjelang fajar pada hari Senin tanggal tujuh bulan Safar tahun 1284, kemudian diperbaiki dan dibangun kembali dengan pertolongan Allah, pada hari Kamis tanggal 20 bulan Jumadilakhir tahun 1285, dari hijrahnya sayyidil awwalin, semoga Allah memberi salawat dan keselamatan kepadanya dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya semua, mudah-mudahan Allah mengabadikan pembangunannya sepanjang tahun, dan memeliharanya dari malapetaka dan kehancuran, dengan syafaat nabi Muhammad saw semoga beliau mendapatkan salawat dan sesuci-sucinya kedamaian, dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya yang mulia.

Tulisan Jawa :

Udayaning pustaka kyat sinarjeng hamemuti kala rebahipun kagungan dalem surambi munara hageng ngayogyakarta hadiningrat awit dening kenging pracalika lindu  marengi dinten senen wage wanci jam 5 dalu tanggal kaping 7 wulan sapar  tahun ehe sinengkalan obahing gapura swara tunggal 1796 tahun ejrah warna murti peksi nabi 1284 boten hantawis lami karsa dalem hingkang sinuwun hamulyaaken kagungan dalem surambi munara hageng wahu kala jumenengipun marengi dinten kemis kaliwon wanci jam 9 sahri jumadilakhir tahun jimawal sinengkalan pandita trus giri nata 1797 tahun ejrah gati murti nembahing hyang1285

Artinya :

Terbitnya atau dibuatnya tulisan ini untuk memperingati ketika robohnya serambi masjid besar Yogyakarta Hadiningrat milik Sri Sultan oleh karena terkena malapetaka gempa bumi bersamaan dengan hari senin wage jam 5 malam tanggal ke 7 bulan sapar tahun ehe dengan sengkalan obahing gapura swara tunggal 1796 tahun hijrah warna murti peksi nabi 1284  tidak lama kemudian Sri Sultan memuliakan atau membangun kembali serambi Masjid Besar tadi  ketika berdirinya bersamaan dengan hari Kamis Kliwon saat jam 9 bulan Jumadil Akhir tahun Jimawal dengan sengkalan Pandita Trus Giri Nata 1797   tahun hijrah gati murti nembahing hyang 1285

sumber terjemahan :

M. Chawari dalam srkipsi berjudul “PASANG SURUT MASA PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN MASJID BESAR KAUMAN YOGYAKARTA”  Studi Berdasarkan Sumber Prasasti Tahun 1989

 

 

Sejarah Singkat Masjid Gedhe Kauman

Mesjid Gedhe Jogjakarta merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dengan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang didirikan oleh Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana  Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ing Ngayogyokarto Hadiningrat (HB I).

Ketika membicarakan sejarah Masjid Gedhe maka juga tidak bisa lepas dari adanya Kraton, demikian juga ketika membicarakan tentang Masjid Gedhe maka tidak lepas dari pembicaraan tentang kampung tempat Masjid Gedhe berdiri yaitu kampung Kauman, karena kampung Kauman sengaja didirikan sebagai kelengkapan dari adanya Masjid Gedhe, yaitu sebagai tempat tinggal para pengurus Masjid Gedhe.

Masjid Gedhe adalah poros sentral bagi lima MasjidPahtok Negara NgayogyakartaHadiningrat,  yaitu  :

Masjid Mlangi / An Nur / Masjid Kulon, Masjid Plosokuning / Masjid Sulthoni/ Masjid lor, Masjid Babadan / Ad Darojatun / Masjid Wetan, Masjid Dongkelan / Nurul Huda / Masjid Kidul, Masjid Wonokromo / Taqwa / Masjid Kidul.

Masjid Agung Kauman bersama masjid masjid Pathok Negara menjadi bagian dari masjid Kerajaan sehingga menjalankan fungsi ketakmiran bersama-sama. Kedudukan para imam/pengulu/kyai pengulu masjid juga menjadi anggota al-Mahkamah al-Kabirah (Badan Peradilan Kesultanan Yogyakarta) dalam tingkat Peradilan Agama Islam. Imam Besar Masjid Agung kauman menjadi ketua Mahkamah yang bergelar Kanjeng Kyai Penghulu. Dalam sistem hukum dan peradilan Kerajaan, Sultan tetap memegang kekuasaan kehakiman tertingi.

Kelima masjid tersebut di pimpin oleh seorang imam yang juga menjadi perangkat peradilan Keraton Yogyakarta  yang menginduk kepada Masjid Agung Kauman di Alun Alun Yogya.

Selain membangun fasilitas bagi kaum dhuafa, di seputaran masjid juga dibangun fasilitas bagi pengurus masjid. Para ulama, khotib, serta abdi dalem diberi fasilitas perumahan di sekitar masjid yang diberi nama Kauman, yang berarti “tempat para kaum”. Sedangkan untuk penghulu keraton dan keluarga, Sultan menyediakan perumahan di sisi utara yang dinamakan Pengulon

Beliau menunjuk arsitek K. Wiryokusumo untuk merancang masjid ini. dan Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat sebagai penghulu pertama. Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat atau Kyai Muhammad Faqih merupakan saudara ipar dari Sultan Hamengkubuwono I, Kyai Muhammad Faqih menikah dengan putri pertama Ki Derpoyodo sedangkan Sultan Hamengkubuwono I menikah dengan putri ke dua Ki Derpuyudo. Kyai Faqih yang kemudian menyarankan kepada sultan agar diangkatnya para Pathok Kesultanan.

Pathok yang dimaksud oleh Kyai Muhammad Faqih ketika itu adalah Para ulama yang bertugas memberikan pendidikan moral kepada masyarakat yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti. Kyai Muhammad Faqih sendiri pada ahirnya juga diangkat sebagai Pathok oleh Sultan Hamengkubuwono I. Dan salah satu masjid Pathok Negara Jogya, yaitu Masjid Pathok Negara TaqwaWonokromo didirikan pertama kali oleh Kyai Muhammad Faqih di atas tanah perdikan pemberian Sultan Jogya.Masjid Gedhe yang didirikan di atas tanah seluas 16000 m2  ini pembangunannya dilaksanakan delapan belas tahun setelah berdirinya kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1755.

Pembangunan-nya dilaksanakan atas perintah dari Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792) dan selesai dibangun pada hari Minggu 29 Mei 1773,  sebagaimana yang tertulis dalam prasasti : Pada hari Ahad Wage, 6 Robiul’akhir tahun Alip, dengan sengkalan :“GAPURA TRUS WINAYANG JALMA” ( 1699 Jw.=1187 H=1773M).

Beliau menunjuk arsitek Kyai RM Wiryokusumo untuk merancang masjid ini, dan Kyai Faqih Ibrahim Dipaningrat sebagai penghulu pertama. Kyai Faqih Ibrahim Dipaningrat atau Kyai Muhammad Faqih merupakan saudara ipar dari Sultan Hamengkubuwono I. Kyai Muhammad Faqih menikah dengan putri pertama Ki Derpayuda sedangkan Sultan Hamengkubuwono I menikah dengan putri ke dua Ki Derpayuda

.Oleh karena jamaahnya melimpah, maka pada tahun 1775 dibangunlah Serambi Masjid Gedhe pada  Hari Kamis Kliwon, tanggal 20 Syawwal tahun Jimawal, sinengkalan “ YITNA WINDU RESI TUNGGAL”(1701 Jw) Atau “TUNGGALWINDU PANDITA RATU” (1701 Jw./ 1189 H 1775 M ).

Serambi ini dinamakan Al Mahkamah Al Kabirah yang berfungsi sebagai ruangan untuk Pengadilan agama tertinggi waktu itu, juga berfungsi sebagai tempat pertemuan para ulama, pernikahan dan peng-Islaman.

Selain Serambi, dibangun pula ”PAGONGAN” ( Pa= tempat, Gong= salah satu instrumen alat musik Jawa Gamelan), letaknya di halaman masjid, di dua tempat yaitu sudut kiri dan sudut kanan halaman. Tempat ini digunakan sebagai tempat peralatan dakwah dengan pendekatan kultural yaitu Gamelan Sekaten, yang dibunyikan pada setiap peringatan Maulid nabi Muhammad Saw. Instrumen musik Gamelan Sekaten ini sangat terkenal dan punya daya tarik pada masyarakat untuk mengenal dan kemudian memeluk agama Islam dengan sukarela. Nama SEKATEN sendiri berasal dari kata ”SYAHADATTAIN” yang berarti dua kalimah syahadat.

Pada tahun 1840 dibangun REGOL MASJID yaitu pintu gerbang yang dikenal sebagai GAPURO, berasal dari kata ”ghofuro” ampunan dari dosa, adapun maksudnya mungkin bila orang memasuki masjid melewati Gapuro, berniat baik memasuki Islam, akan mendapatkan ampunan dosa. Pembangunan regol ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 23 Syuro tahun Dal, sengkalan ”PANDITO NENEM SEBDO TUNGGAL” = 1767Jw.=1255 H = 1867 M.

Pada tahun 1867 di Jogjakarta terjadi gempabumi yang cukup dahsyat, yang akibatnya termasuk runtuhnya bangunan Serambi Masjid Gedhe, dan bahkan juga membawa korban termasuk Kyai Pengulu yang menjabat pada saat itu. Peristiwa LINDU atau gempabumi itu tercatat pada prasasti yaitu pada hari Senin Wage, pukul 5 pagi, tanggal 7 Sapar tahun Ehe, sengkalan ”REBAHING GAPURA SWARA TUNGGAL”  (1796 Jw). ”WARNA MURTI PAKSA NABI” (1284 H / 1867 M). Namun tidak lama kemudian Sri Sultan Hamengku Buwana VI memberikan kagungan dalem ”SURAMBI MUNARA AGUNG” yang sedianya akan dipakai untuk bangunan pagelaran, kemudian ditempatkan sebagai Serambi Masjid Gedhe. Pemasangannya menurut prasasti ialah : pada hari Kamis Kliwon, pukul 09 pagi, tanggal 20 Jumadilakhir tahun Jimawal”PANDITA TRUS GIRI NATA” (1797 Jw).”GATI MURTI NEMBAH HING HYANG” (1285 H / 1868 M). Serambi Masjid Gedhe yang baru ini luasnya dua kali lipat dari serambi sebelumnya yang roboh, serambi yang baru masih utuh sampai kini.

Pada tahun 1917 dibangun gedung PAJAGAN ( Pa= tempat, Jaga = berjaga keamanan ) atau disebut juga dengan Balemangu yang berjumlah 2 buah atau sepasang, terletak di kanan kiri regol masjid, memanjang ke utara dan ke selatan. Gedung ini digunakan untuk para Prajurit Kraton ( tentara Kraton ), untuk keamanan masjid dan setiap hari besar Islam. Pada zaman Revolusi Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, gedung Pajagan ini digunakan untuk pusat MARKAS ULAMA ASYKAR PERANG SABIL (MU-APS)yang membantu TNI melawan Agresi Belanda.

Pada tahun 1933 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, lantai serambi masjid yang tadinya dari batu kali diganti dengan tegel kembangan yang indah. Selain itu pula diadakan penggantuian atap masjid, dari sirap diganti dengan seng wiron yang tebal dan lebih kuat. Pada tahun 1936 atas prakarsa Sultan Hamengku Buwana VIII pula diadakan pergantian lantai dasar masjid, yang dulunya dari batu kali kemudian diganti dengan marmer dari Italia.

Dalam rangka memakmurkan Masjid Gedhe, kepengurusannya dipegang oleh Penghulu Kraton, dibantu oleh Ketib, Modin, Merbot, dan Abdi Dalem Pamethakan serta Abdi Dalem Kaji Selusinan dan Abdi Dalem Barjamangah. Mereka itu sebagian ditempatkan di lingkungan sekitar Masjid Gedhe, yang kemudian berkembang menjadi sebuah kampung bernama Pakauman ( tempat para Kaum = Qoimmuddin = Penegak Agama ). Dengan demikian Masjid Gedhe menjadi makmur, sebagai pusat berjama’ah dan juga menjadi pusat pengkajian serta pengadilan agama Islam di Jogjakarta.

Sumber tulisan : H. A. Adaby Darban S.U.

sumber foto      : Jogjatrip, mas koko, koleksi saka wisata