I’tikaf Ramadhan 1439 H

Kajian Tematik Iktikaf
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
Setiap Pagi, 5.30 – 7.30
Disediakan LCD proyektor.
Dipersilahkan tanya jawab. sepuasnya.

Update

1. Kajian Fiqh iktikaf
Beni Abu Abdurrahman, S.Pd.I. MPI
Rabu, 6 Juni 2018

2. Kajian Fiqh Aqidah ahlussunah
Beni Abu Abdurrahman, S.Pd.I. MPI
Kamis, 7 Juni 2018

3. Kajian Fiqh Aqidah menyimpang
Ridwan Hamidi, Lc. MA. MPI
Jumat, 8 Juni 2018

4. Kajian Fiqh Pra nikah
Talqis Nurdiyanto, Lc. MA.
Sabtu, 9 Juni 2018

5. Kajian Fiqh Pasca Nikah
Talqis Nurdiyanto, Lc. MA.
Ahad, 10 Juni 2018

6. Kajian Fiqh Waris dan Wasiat I
Talqis Nurdiyanto, Lc. MA.
Senin, 11 Juni 2018
Pukul 5.30 – 7.30

7. Kajian Fiqh Waris dan Wasiat II
Talqis Nurdiyanto, Lc. MA.
Selasa, 12 Juni 2018
Pukul 5.30 – 7.30

8. Kajian Siasah Islamiyah
Ridwan Hamidi, Lc. MA. MPI
Rabu, 13 Juni 2018
Pukul 5.30 – 7.30

9. Meraih Kesuksesan Pasca Ramadhan
Abdussalam, Lc.
Kamis, 14 Juni 2018
Pukul 5.30 – 7.30

Pendaftaran untuk pesan sahur bagi mukimin bisa menghubungi WA 08562872566 dan membayar infaq Rp 15.000,- per hari

Donasi untuk Masjid Gedhe

Bismillahirrahmanirrahim

Peluang Donasi Amal Jariyah
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid gedhe kauman Yogyakarta setidaknya menyiapkan 1500 buka puasa setiap hari di bulan Ramadhan

Selain itu berbagai kegiatan agenda rutin kajian tafsir Qur’an, hadist, kelas qiroati, pengislaman, perpustakaan, dilaksanakan selama setahun untuk melayani jama’ah, yang membutuhkan sarana pra sarana, konsumsi, perawatan, kebersihan, pembangunan dan biaya operasional

Untuk mempermudah para donatur, kami menyiapkan kan sistem laporan donasi via website, cukup click link di bawah dan diisikan jumlah donasi, catatan donasi dan bukti donasi. Kuitansi akan kami kirim via email donatur sebagai bukti donasi sudah di terima

Form Donasi Online

Jazakumullah khairan Katsira

Kajian Spesial

 

Ayo ikuti shalat subuh berjamaah di Masjid Gedhe Kauman serta tausiah subuh bersama Ustadz Bactiar Nasir, Lc., MM pada Ahad, 27 Mei 2018. Keistimewaan shalat subuh berjamaah di masjid yaitu seperti shalat malam sepanjang malam itu.

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Isya’ secara berjamaah di masjid maka ia seperti shalat malam separuh malam. Dan barang siapa melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah maka ia seperti shalat malam satu malam penuh.” (HR Muslim)

Selain mendapatkan keutamaan shalat subuh berjamaah, mengikuti kajian dan memuliakan ulama merupakan salah satu kebangkitan Islam. 4 syarat kebangkitan Islam diantaranya : (1) Memuliakan ulama dengan mengamalkan ilmunya, (2) Pemimpin yang Taat Beragama, (3) Membangkitkan Ekonomi Ummat, dan (4) Menjaga Pemuda Islam.

 

 

Catatan Ceramah Takjil #2

Tema yang diangkat pada hari ke-2 ramadan ini yaitu “Ihsan” yang disampaikan oleh H. Ahmad Chudlori, Lc. Makna Ihsan menurut bahasa yaitu memberi manfaat dan kebaikan. Sedangkan menurut istilah, ada 2 yaitu (1) Memberi dan mengantarkan manfaat bagi orang lain, (2) Menyempurnakan amal.

Courtesy : palembang.tribunnews.com

Orang yang berbuat Ihsan atau kebaikan disebut Muhsin. Sebagai umat muslim, kita harus berbuat Ihsan dalam segala hal. Contoh pertama yaitu berbuat Ihsan terhadap orangtua yaitu dengan mendapat ridha orangtua. Seperti yang kita ketahui bahwa ridha Allah berada pada ridha orangtua.

Dulu pada zaman Rasulullah, ada sesorang yang datang kepada Nabi dan meminta izin untuk mengikuti perang. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya apakah ia memiliki orang tua dan siapakah yang kini merawat mereka, orang tersebut menjawab bahwa tidak ada yang menjaga orangtuanya yang, lalu Rasulullah tidak memberikan izin kepada orang tersebut untuk mengikuti perang. Ia harus pulang dan merawat kedua orangtuanya.

Sikap Rasulullah yang melarang orang tersebut untuk meninggalkan orangtuanya memiliki pesan betapa pentingnya mendapatkan ridha orangtua. Berbuat Ihsan dalam perkara wajib, maka hukumnya wajib. Seperti berbakti kepada orangtua adalah wajib, maka Ihsan kepada orangtua itu wajib.

Contoh lain berbuat Ihsan pada hewan yang akan disembelih yaitu menyembelih dengan tidak menyakitinya. Salah satu cara agar hewan yang akan disembelih dengan tidak menyakiti hewan tersebut yaitu dengan menajamkan pisau yang akan digunakan dan tidak boleh menyembelih di depan hewan lain yang akan disembelih.

Untuk itu, seorang Muhsin (orang yang Ihsan) adalah seorang yang detail dan profesional dalam setiap kebaikan yang ia lakukan.

Disusun oleh: Nana Yuliana

Pesan dari Imam Masjidil Haram Syeikh Abdul Aziz Bandar Baleela

Hari ini (18 Mei 2017) yang bertepatan dengan hari ke-2 ramadan, para jamaah shalat Jumat berkesempatan untuk mendengarkan khutbah secara langsung dari Imam Masjidil Haram Syeikh Abdul Aziz Bandar Baleela. Beliau adalah salah satu putra Imam Besar Masjidil Haram, Imam Syeikh Bandar Baleela.

 

Dalam khutbah beliau, terdapat pesan istimewa yang disampaikan karena saat ini kita semua berada di bulan ramadan, bulan mulia yang menjadi moment terbesar untuk bertaubat. Walaupun kita pernah terjerumus, berbuat dosa,  kesalahan, dan khilaf, maka ikutilah kesalahan ataupun dosa tersebut dengan ibadah dan kebaikan-kebaikan yang akan menghapus dosa maupun kesalahan.

Selain menjalankan ibadah lahiriah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, semua umat muslim juga harus menjalankan syariah Islam lainnya, seperti keimanan atau akidah dengan membersihkan hati maupun pikiran kita dari penyakit hati. Karena tujuan hakiki berpuasa yaitu memperbaiki diri kita, memperbaiki akhlak kita sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah. Beliau tetap berbuat baik dan tersenyum walaupun ada yang tidak suka, menyakiti beliau, bahkan menghalangi jalan dakwah Nabi.

Sebaik-baik  kalian, sebaik-baik kalian adalah yang memiliki akhlak yang baik. Banyak yang masuk Surga karena mereka adalah orang yang bertakwa dan memiliki akhlak yang baik. Sedangkan banyak yang mengisi Neraka karena mereka adalah orang yang tidak patuh pada Allah dan mempunyai akhlak yang buruk terhadap sesama.

Oleh karena itu, kita senantiasa bertakwa, menjaga ucapan dan menjaga kalimat-kalimat yang keluar dari lisan kita dengan sebaik-baik kalimat yang keluar dari lisan kita serta memperbaiki muamalah terhadap orangtua, tetangga, sahabat, bahkan orang yang belum kita kenal.

Disusun oleh: Nana Yuliana

Catatan Ceramah Takjil #1

Ceramah Takjil pada hari pertama ramadan ini disampaikan oleh H. Haedar Waluyo, S. Ag membahas tentang masalah akidah yang merupakan persoalan mendasar untuk keimanan kita sebagai seorang muslim.

Courtesy : http://jurnalkeluarga.com

Manusia lahir ke bumi membawa dua fitrah, fitrah yang pertama yakni mengenali Allah sebagai Tuhan. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 172 yang artinya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Dalam ayat tersebut, terdapat persaksian manusia bahwa hanya Allah yang pantas untuk disembah. Apabila ada orang yang menyebut diri mereka sebagai ateis maka mereka membohongi diri mereka sendiri. Fitrah yang kedua yaitu beragama Islam. Allah berfirman dan QS. Ar- Rum ayat 30 yang artinya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Fitrah manusia untuk memeluk Islam sebagai agama yang benar juga tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu, setiap orang tua harus memberikan pemahaman akidah yang kokoh untuk anaknya sehingga ia beragama Islam hingga akhir hidupnya. Kisah Firaun merupakan pembuktian bahwa fitrah manusia sejak lahir yaitu beragama Islam. Allah berfirman dalam QS. Yunus ayat 90 dan 91yang artinya:

Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri).”

Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.

Disusun oleh :
Nana Yuliana